Tuesday, October 3, 2017

Jangan Menikah!

cr

Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya pendapat pribadi. Subjektif banget. Boleh setuju, boleh tidak. Ehehe.

Monday, August 28, 2017

Sekolah di Amerika - Nominated Candidates dan MCU



"Iri sama Kak Kiki, bisa sekolah ke luar negeri."

Itu satu dari sekian pesan yang bilang iri ke saya setelah dapat beasiswa ini. Duh, capek juga sih bilang kalau semua ini dapatnya ndak semudah membalikkan telapak tangan. Orang cuma melihat dari luar saja. Ibarat gunung es, mereka cuma melihat puncaknya aja, tanpa tahu bagaimana kerasnya perjuangan yang saya lewati.

Sunday, August 20, 2017

Wednesday, August 16, 2017

Sekolah di Amerika - Permulaan

cr


Tuhan tahu, ketika kamu bersungguh-sungguh, tidak akan pernah Dia menjawabnya dengan tidak.

Sekolah di Amerika

cr


HALOHAAAAA~


Maaf ya sudah lama tidak ngepost di blog ini. Alasannya cupu banget sih, sok sibuk. Huhu, payah, padahal dari TIGA BULAN kemarin janjinya mau tulis soal beasiswa sekolah ke Amerika ini. Huhu.

Monday, June 5, 2017

Spasi


cr



"Kamu tahu, kadang-kadang, kita terlalu punya banyak jawaban di kepala, melebihi pertanyaan-pertanyan yang ada. Begitulah." Itu katamu dulu, Ar. Kamu ingat? Setelah pertengkaran-pertengkaran pendek yang semuanya disebabkan oleh kekonyolanku; tak mau gendut tapi sering minum kola, membenci rambut berombak sebahu di kepalaku, dan semua sasaran kemarahanku tertuju padamu, dan kau hanya mengangkat bahu dan tersenyum geli —dan itu berhasil membikinku sebal-, kau akan mengulang perkataan yang sama. Setiap kali aku marah. Setiap kali aku sebal. Setiap kali aku sedih. Entah apa maksudmu. Sekarang, aku berharap kau duduk di sini, dan berbincang hal yang sama. Satu ketidakmungkinan yang aku harapkan. Lagi-lagi.























Aku menaiki kapal kayu ini dengan kepayahan. Hujan baru saja reda, setelah menghebat semalaman. Pulau yang selalu sepi dan terlihat muram ini seolah-olah melepas kepergianku dengan sedih, setelah tiga hari yang terasa amat panjang aku lewati di sini, tanpa aliran listrik dan sebatang sinyal pun. Aku bahagia, sebentar lagi kembali dari tugas liputan menyebalkan yang membikinku tak bisa update dengan media sosial dan pekabaran.






Kutapaki tangga kayu yang licin dengan sepatu kets yang sudah lepek terpapar becek. Kapal kayu super kecil ini terdiri dari dua lantai. Di lantai satu, hanya ada ruang yang bisa memuat dua puluh orang dewasa untuk duduk berselonjor kaki di dalamnya, sedang di ruang atas, adalah atap kapal yang difungsikan juga sebagai tempat duduk orang-orang yang tak mau pengap berdempetan di bawah, bersama kawanan ikan asin, kopra, cengkih, dan semua hasil alam yang akan bertolak ke kota kabupaten untuk ditukar dengan nilai rupiah. Aku, adalah satu dari sekian orang yang memilih duduk di atas, walau tentu saja di atas masih sangat lembab setelah hujan panjang.






Setelah menapaki tangga terakhir di dek kapal, aku melirik sekilas, ada pojok yang asyik di sudut kiri kapal. Ruang duduknya lumayan untuk menghalau lelah di tujuh jam perjalanan nanti. Kuambil langkah cepat sebelum ada orang yang mengambil tempat tersebut. Kuseret kakiku cepat, sambil menggendong ransel hitam kesayangan yang berisi beberapa lembar pakaian serta kamera saku. Di situ, kecerobohan penuh anugerah menghampiriku. Ceroboh, aku hampir terpeleset jatuh dan nyaris tenggelam di laut. Anugerah, sebab itulah kali pertama aku menatapmu, Ar. Senyum penuh dari wajahmu yang pualam, menguasai sepersekian detik hidup milikku.






"Hei, hati-hati, Nona. Tenang, tak akan banyak orang yang naik ke sini, terlampau lembab. Mereka akan memilih duduk di bawah bersama kawanan ikan asin daripada menghabiskan tujuh jam perjalanan duduk di kayu-kayu lembab di atas sini. Santai." Kau tersenyum dan menangkap pergelangan tanganku cepat, sebelum aku jatuh terjerembab. Aku terdiam. Menatap penuh ke wajahmu yang terlampau pualam dan senyummu yang penuh dan sepakat mencuri pandanganku. Oke, aku akui, aku jatuh cinta pada pandangan pertama di atas kapal kayu kecil sarat muatan itu padamu.






***


"Siapa yang jatuh cinta pertama kali ya antara kita berdua?" Tanyamu suaru sore di tengah rintik, dan kita terjebak di pusaran kafe bersama dua cangkir kopi hangat di genggaman, sambil menatapku.






"Hih, tentu saja kamu yang duluan. Akui sajalah, Ar, jangan merona begitu!" Aku tertawa sambil menonjok pelan bahumu. Kau kemudian mengangguk penuh tawa sambil pelan-pelan menyesap kopimu. Oh, Tuhan, aku menyesal hingga kini tak pernah memberitahumu, bahwa akulah yang menyimpan rasa cinta itu pertama kali. Sesaat setelah kau menangkap pergelangan tanganku dan melempar senyummu yang penuh. Dadaku sesak.






***






"Ah, terima kasih. Terima kasih," aku terbata-bata menjawabmu. Pelan-pelan, aku berjalan menuju sudut yang kuincar sejak awal, hanya dua jengkal di belakangmu. Aku tak sadar, sedari tadi, di antara lima orang yang duduk di atap kapal, ada lelaki berwajah pualam yang duduk di sini. Dirimu.






Aku mengambil posisi duduk yang nyaman, sambil melengserkan ransel hitam dari pundak. Kupeluk kedua lututku dan meletakkan ransel di samping. Kutatap sepatu ketsku yang sudah tak karuan dihantam becek. Celana pendek selutut yang kupakai pun tampak kotor terkena titik-titik lumpur. Aku menepuk-nepuknya. Percuma. Biarlah. Aku menyisir rambut berombak sebahuku dengan jari, berharap itu sedikit membantu. Pelan-pelan, kurogoh ransel dan mengambil buku kecil dan pulpen dari sana, berpikir untuk mulai menulis sedikit bahan liputan terbitan sepekan ke depan, liputan khusus tentang keindahan pulau ini. Pemimpin redaksi harian tempatku bekerja dengan semangat membanting setir pos liputanku ke sini. Ini seharusnya menjadi tugasnya, namun ia harus buru-buru pergi mengajak istrinya liburan ke Bali karena ketahuan selingkuh, dan dengan kurang ajar menimpakan tugas ini padaku. Aku mual. Di tahun-tahun berikutnya, aku selalu bercerita padamu, Ar, betapa aku membenci laki-laki tukang selingkuh, dan mengenang masa tugasku dan pulau ini selama tiga hari dengan sangat memuakkan. Tanpa listrik, tanpa sinyal provider. Penderitaan pangkat seribu.






"Tapi, kalau tak ke sana, tak mungkin kita akan bertemu di kapal kayu itu, kan?" Tanyamu sambil tersenyum, sembari menjawil daguku. Aku balas menepuk bahumu pelan. Bertukar tawa.






***


Baru saja ingin menulis rangka liputan, aku mendengar kau berdeham. Kutatap kau sejurus kemudian, berusaha tersenyum dan bertanya. Tapi kau bertanya duluan, lebih cepat sekian milidetik dariku.






"Kau wartawan?" Kau menoleh ke belakang sambil menunjukku.






"Ah, iya, bisa dibilang begitu. Kuli tinta, hehe." Aku menjawab sekenanya, mecoba ingin menulis, tapi sulit harus dari mana. Kau tahu aku wartawan dari mana, Ar? Inggin kutanyakan itu, tapi kau sudah memotong cepat.






"Hm, menarik. Kau ingin menulis tentang pulau ini, ya? Beberapa hari belakangan aku melihatmu memorret banyak sudut di pulau ini, dan berkendara dengan motor bebek dari desa ke desa, aku yakin, kalau bukan fotografer, pasti kau penulis, atau wartawan. Kalau ada pertanyaan soal liputanmu, kau bisa tanya-tanya padaku, dua tahun belakangan, aku tinggal di sini. Aku sedang menyelesaikan bukuku yang berlatar kehidupan di pulau ini," jelasmu bersusulan.






Cerewet. Itu kesan yang pertama kali kuperoleh darimu. Aku bingung mau menjawab apa, akhirnya aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil patah-patah berterima kasih. Kau mengangguk, kembali berbalik dan tenggelam dalam bacaan yang kau pegang. Kulirik sekilas judul buku yang kau genggam, Colorless milik Haruki Murakami. Hm, berat juga seleramu.






Dua jam berlalu, kapal kayu masih membelah ombak menuju kota kabupaten. Aku sudah selesai menulis beberapa lead liputan. Kulirik punggungmu, kau tengah memandang lurus ke depan, buku yang kau baca tak ada lagi. Mungkin sudah kau masukkan ke dalam tas ransel abu-abu di hadapanmu. Berselang sekian detik, kau menoleh ke belakang. Tatapan kita bertemu. Kau melempar senyuman penuh. Aku kalah telak. Kukirim senyum patah-patah yang kaku dari bibirku.






"Hei, kau merasa bosan, Nona? Sepertinya tak ada yang salah kalau kita berkenalan, ya?" Kau bertanya sambil menggeser dudukmu ke belakang, sejajar denganku. "Namaku Ar. Kamu?"






Huh. Pertama kali mendengar namamu, aku benci. Bukan apa-apa, lidahku terlampau pendek, sehingga kesulitan mengucap huruf r. Apa pula namamu? Ar? Lebih baik jika kulafalkan seperti mengeja r dalam bahasa Inggris. Samar.






"Oh, iya. Namaku Pagi. Senang kenalan denganmu, Ar," aku menjulurkan tangan, kau membalasnya dengan semangat sambil tertawa.






"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Aku berucap kesal sambil menjepit anak-anak rambutku yang dimainkan angin laut ke belakang telinga.






"Tidak, tidak. Maaf. Kau mengeja namaku lucu, seperti keponakanku di rumah. Hehe, maaf, jangan lekas tersinggung. Wih, namamu bagus sekali, apakah kalau sudah sore namamu berubah jadi Sore, Pagi? Hehe, jangan tersinggung, aku cuma bercanda. Maaf, ya," kau berbicara dengan sedikit pingkal. Aku sebal, tapi ikut tersenyum.






Setelah agak cair, kau ingat, Ar? Kita membicarakan begitu banyak hal. Politik, keadaan pulau yang telah jauh kita tinggalkan di belakang, pekerjaanku sebagai wartawan, pekerjaanmu sebagai penulis yang selalu diomeli soal deadline oleh editormu, olahraga bulutangkis, dan semua hal random lainnya. Kita bertukar tawa. Waktu itu, aku bahkan sampai terpingkal-pingkal dan menangis saking lucunya ceritamu. Banyak sekali, Ar. Di titik itu, aku sadar, lima jam berikutnya yang kita lewati dengan bertukar cerita, adalah salah satu momen terbaik dalam hidupku.






Sampai di pelabuhan kota, kapal kayu yang kita tumpangi membuang jangkar dan sandar di dermaga. Kau melompat turun. Aku menyusul di belakangmu. Hari mulai saga, lantunan suara mengaji dari masjid mulai terdengar susul-menyusul. Setelah menapaki kaki di dermaga, satu dua sisa tawa masih terdengar dari kita berdua.






"Pagi, aku harap masih ada cerita-cerita lain yang kudengar darimu, begitu pun sebaliknya. Err, maaf jika ini terdengar konyol atau kurang ajar, apakah kita masih bisa bertemu? Atau bertukar nomor telepon, mungkin?" Kau bertanya pelan, Ar. Aku nyaris tidak mendengar ucapanmu yang hampir dibunuh suara mesin-mesin kapal lain di dermaga.






"Ah, tentu saja. Tidak masalah." Aku tersenyum, meminta gawaimu dan mengetikkan nomorku di sana. Menulis kontak dengan nama Pagi Bukan Sore. Kau tersenyum. Berjanji akan menghubungiku secepat yang kau bisa. Itu adalah perpisahan pertama yang amat menyenangkan, Ar.






***






Entah bagaimana awalnya, di tengah jadwal liputanku yang padat dan deadline buku dan tulisanmu yang merayap, kita sama-sama mengikat komitmen untuk bersama-sama sampai entah. Di sela-sela kesibukanku saat kau kembali dari pulau, kita berjumpa. Minum kopi di kafe favorit, menyaksikan konser musik band indie kesayangan kita, menonton film, bercerita banyak hal, hingga masak makanan aneh di rumahku. Lebih tepatnya, aku memasak, dan kau menjadi kurator yang menyenangkan bagi masakan-masakan anehku.






"Ini enak, Gi. Coba deh garamnya dikurangi sedikiiiit lagi, pasti akan jauh lebih enak," katamu, memilih menggunakan diksi tersebut dibandingkan lurus bilang masakanku keasinan.






***






Satu tahun dua bulan, Ar. Waktu yang cukup singkat bagi pasangan muda yang penuh kegilaan seperti kita, yang pada akhirnya kau menyatakan ingin menghabiskan waktu seumur hidup denganku. Tak ada lamarab romantis dengan bertekuk lutut di hadapanku. Semua biasa-biasa saja, terlampau konyol saat kuingat, tapi lucu.






Di sore itu, saat buku pertama berlatarkan pulau sudah selesai dan kau sedang sibuk menyusun buku kedua dengan latar yang sama, kau mengajakku bertemu di kafe kopi favorit kita. Aku datang tergesa-gesa dengan motor maticku. Belum mandi di penghujung sore, rambut berombakku setengah acak, kututupi dengan topi bisbol putih. Kemeja seperempat lengan dan celana panjang serta sepatu kets yang tampak lelah, menjadi temanku menemuimu. Tak ketinggalan kamera dan tas ransel berisi tumpukan kertas plot liputan kuseret menuju meja tempatmu duduk.






Sore itu, Ar, aku kaget melihatmu. Kau, dengan wajah pualam yang selalu membikinku jatuh sayang, tampak sangat rapi. Kemeja panjang berwarna merah bata yang kau gulung lengannya sebagian, celana panjang jins tak ketat, sepatu kets bersih, dan wangi parfum yang selalu menyenangkan indera penciumanku. Kau tersenyum penuh menatapku.






"Haaa, kau rapi sekali, Ar. Maaf, aku baru selesai mengejar-ngejar narasumberku, rapat redaksi sore yang penuh emosi, dan maaf aku membawa tampang lelahku ke sini di hadapnmu. Maaf, ya," aku merasa bersalah, melepas topi bisbolku, dan merapikan rambut ombakku dengan sisiran jari.






"Kau selalu cantik, Pagi. Selalu." Kau tersenyum menatapku. Gerakan jariku berhenti. Jantungku berdegup amat cepat. Kurasa wajahku memerah waktu itu, Ar. Kutepis ucapanmu dengan gerakan tangan, lalu cepat-cepat memanggil pelayan dan memesan es kopi dan ubi rebus.






"Aku lapar," ujarku cepat saat pesanan tiba di hadapanku. Kuhirup es kopi perlahan. Rasa segar menjalar di kepalaku yang panas.






"Aku pun. Bagaimana kalau kita menikah?" Kau berkata lurus. Tanpa aba-aba. Tanpa basa-basi. Aku tersedak. Es kopi yang kuminum keluar di hidungku. Kau cepat menawariku sehelai tisu di hadapanmu.






"Eh, duh, kalau mau bercanda jangan begini dong, aku kaget, tau!" Aku menepuk punggung tanganmu pelan, sambil menyeka mulutku.






"Kata siapa aku bercanda? Aku serius, Pagi. Aku ingin menikah denganmu. Aku yakin, kita akan menjadi pasangan yang luar biasa. Aku serius, Pagi. Seserius aku menggarap buku-bukuku," kau menatapku lurus. Wajah pualammu tak tampak bercanda. Gerakan tanganku terhenti. Aku membalas tatapanmu. Jawaban yang ingin aku ucapkan, tercekat di kerongkongan.






"Ar..." aku menjawab dengan patah-patah.






"Hm, begini saja, Pagi. Kau bisa menjawab sekembaliku dari pulau. Aku akan pergi malam nanti. Dua hari lagi aku kembali. Kau bisa memikirkannya masak-masak, menceritakannya pada mamak dan bapak, dan berpikir banyak hal selama aku di sana. Kumohon, apapun jawabanmu nanti, semoga itu adalah hal yang paling baik yang bisa kau utarakan. Aku jarang mengatakan ini, tapi sungguh, Pagi, aku mencintaimu," kau menggenggam tanganku, mengusapnya lembut, dan tersenyum. Sore itu, Ar, wajah pualammu terlihat amat teduh. Aku mengangguk dan menangis haru. Sebenarnya, sore itu aku sudah tahu harus menjawab apa.






***






Aku mengantarmu ke pelabuhan menuju pulau. Sebelum naik di kapal kayu sarat muatan itu, kau berbalik dan melemparkan senyum pualammu. Aku melambaikan tangan, memintamu segera naik ke kapal. Aku berbalik sesegera mungkin, melaju membelah jalanan kota dan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.






Malam itu, Ar, aku menjadi orang yang paling menyesal di dunia. Tengah malam, saat aku masih sibuk mengetik liputan-liputanku, salah seorang teman wartawan dari pos metro memghambur masuk ke ruang redaksi.






"Astaga, guys, kapal Cahaya Indah yang berlayar menuju Pulau Sasak tenggelam karena terbakar. Sepertinya ada yang merokok dan terpapar mesin. Muatan malam ini padat dengan atap rumbia dan kelapa kering. Semua habis terbakar. Saat tim tiba, semua habis tak bersisa, tenggelam." Aku tidak bisa mendengar laporan selanjutnya. Kakiku seperti dihantam besi. Kepalaku pusing. Aku jatuh. Semuanya gelap.






***






Ar, tepat satu tahun sudah kejadian itu berlalu. Luka di hatiku masih basah menganga. Setiap memgingat wajah pualammu, aku hanya bisa terisak. Aku kepayahan, melangitkan semua jawaban-jawaban yang tidak sempat aku ucapkan. Kau benar, aku punya terlalu banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanmu, Ar. Sayangnya, aku tak bisa menyampaikannya secara langsung. Sesak.






Malam ini, aku memutuskan bertolak menuju pulau. Aku harus berdamai dengan semuanya, Ar, dengan rasa sakitki, dengan jawaban-jawaban yang tak sempat kau dengar, dan semuanya.






Aku memilih duduk di atas, di sudut pertama kali kita bertemu. Sayangnya, kapal ini sudah bukan yang dulu lagi. Catnya masih berbau baru. Aku duduk diam, menyilangkan kaki dan menarik napas. Aku berjanji, Ar, setelah ini, tak ada lagi air mata sesak di malam-malam yang kulewati dengan tidur yang pendek. Aku yakin, kau akan sangat sedih melihat kelakuanku.






"Dik, jangan duduk di atas, kalau malam dingin sekali," seorang anak buah kapal menegurku, aku hanya balas tersenyum sambil mengibaskan tangan. Tak apa. Tak ada yang lebih dingin dibandingkan sudut hatiku yang lau hantam pergi, Ar. Tak ada.






Kapal mulai melaju meninggalkan kerlip lampu kota. Lampu di atap kapal mulai dinyalakan. Amat terang di sini. Ada tiga orang lelaki lainnya yang memilih duduk di pinggir atap kapal. Mungkin, mereka juga sedang mengenang kekasih yang sudah tiada. Atau entahlah.






Di tiga jam perjalanan, malam semakin tua. Aku menatap langit, bintang berpendar indah di atas. Angin makin kencang. Aku merogoh gas ranselku, mengeluarkan setumpuk foto dari sana. Foto-foto kita berdua di berbagai momen; ulang tahunku, ulang tahunmu, peluncuran bukumu, arisan keluargaku, foto-foto absurd kita berdua, banyak sekali, Ar. Banyak sekali.






"Kau tahu, kalau aku sudah tiada nanti, aku ingin sekali menjadi angin laut yang asin. Terbang mengitari lautan yang luas, dan sekali-sekali masuk ke jendela kamarmu," kau berujar asal, yang kemudian kutimpali dengan gidikan ngeri dan memintamu berhenti berucap bodoh soal kematian.






Malam ini, aku merasai angin laut pelan menyentuh kulitku, menyisiri rambut berombakku dengan sejuk, dan membuat mataku panas. Aku menangis. Apakah itu kau, Ar? Tangisku makin menghebat.






Kutatap foto-foto tersebut satu-persatu. Wajahmu yang selalu pualam. Senyummu yang selalu penuh. Gigimu yang rapi dan selalu tampak semua saat menyebut namaku dengan semangat. Rambutmu yang legam. Aku membisiki foto-fotomu perlahan. Aku berujar iya ribuan kali. Jutaan kali. Aku tersengal menangis, dadaku semakin sesak rasanya.






Satu-satu, ujung jariku melepas fotomu. Membiarkannya dibawa angin laut, dan melihatnya tenggelam dipeluk air laut yang gelap. Ar, aku mencintaimu.






Luwuk, 15:54.





5/6/17


Monday, April 3, 2017

Catcalling; Pelecehan Seksual yang "Dimaklumi"

cr



Banyak dari kita, baik itu perempuan, khususnya lelaki, yang belum paham soal apa itu catcalling. Jika kita mencoba menengok maknanya dari situs pencari di internet, maka akan ditemukan arti bahwa catcalling merupakan perlakuan bertendensi seksual, baik itu berupa bersiul, berseru, berkomentar, kebanyakan dengan nada menggoda, baik terhadap perempuan, lelaki, atau pun gender yang lain.

Bentuk catcalling bisa bermacam-macam. Di negara-negara barat misalnya, catcalling ini bisa berupa pujian tentang fisik seseorang, sampai –maaf- mengajak berhubungan yang tidak semestinya. Di Indonesia, bentuk catcalling kebanyakan berupa siulan dan juga godaan, dan hal ini lebih sering dialami kaum perempuan yang dianggap “memancing” dan tidak punya daya untuk melawan.

Penulis memberi judul tulisan ini sebagai pelecehan seksual yang “dimaklumi”, sebab bukan hal asing lagi bahwa masyarakat kita masih menganggap bahwa catcalling merupakan kegiatan iseng yang tiada maksud untuk melecehkan, dan bagi siapa saja yang mempermasalahkan hal tersebut, akan dianggap sebagai kaum yang berlebihan.

Padahal, menengok sebuah riset yang dilakukan oleh Hollaback!, sebuah lembaga anti pelecehan seksual yang dirilis tahun 2015 kemarin menunjukkan, 84 persen perempuan pernah menjadi korban catcall. Hampir semua perempuan yang pernah menjadi korban catcall sepakat bahwa catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual verbal yang bisa menyakiti diri mereka sebagai perempuan, atau bahkan akibatnya bisa lebih jauh lagi.

Survei psikologis yang berbasis di New Jersey pun turut menekankan bahwa catcalling bisa menyebabkan korbannya melakukan penilaian atas diri mereka tanpa sadar, seperti mereka menilai sebuah benda. Sang korban akan mengumpamakan dirinya sebagai sebuah benda, bukan sebagai seorang manusia utuh dan cerdas. Lebih jauh lagi, catcalling pun bisa menimbulkan perasaan takut yang berlebihan serta rasa tidak aman dalam berbagai gradasi, karena korban, khususnya kaum perempuan, tidak pernah tahu, apakah “keisengan” tersebut akan berbuah tindakan yang lebih mengerikan atau tidak dari pelaku.

Lebih-lebih, catatan dari Komnas Perempuan menyatakan bahwa di tahun 2016 kemarin, tingkat pelecehan terhadap kaum perempuan semakin meningkat, dan tidak sedikit di antaranya diawali dengan perlakuan catcalling. Komnas Perempuan pun turut merinci aktivitas yang termasuk di dalam catcalling; bersiul, main mata, ucapan bernuansa seksual, hingga gerakan sampai isyarat yang menuju ke arah pelecehan seksual. Merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)pasal 289-296, pelaku pelecehan seksual dapat dijerat dan dihukum dengan pasal pencabulan.



Perempuan “Mengundang”

Ini adalah excuse paling sering terdengar jika sudah terjadi pelecehan seksual, termasuk catcalling yang berakhir dengan pemerkosaan, misalnya. Perempuan selalu menjadi objek yang disalahkan, termasuk oleh masyarakat luas yang menjadi penonton. Mulai dari pakaian yang menurut mereka terlalu terbuka, menjadi alasan kuat bahwa pantas saja perempuan tersebut mendapatkan perlakuan pelecehan seksual. Ini sangat terdengar miris, sebab mau bagaimana pun gaya pakaian perempuan, dari yang “terbuka” hingga menutupi seluruh lekuk badannya, tidak dapat dipungkiri mereka tetap saja menjadi korban catcalling. Mirisnya, perempuan dengan pakaian lebih tertutup mendapatkan perlakuan catcalling dengan siulan atau panggilan lebih agamis, dengan salam contohnya.

Kita, sebagai masyarakat, terkhusus penulis yang juga seorang perempuan, merasa hal ini sangat tidak benar. Belum lagi ada yang beranggapan bahwa perlakuan catcalling diterima oleh perempuan, sebab mereka sendiri yang seolah-olah minta untuk diperlakukan demikian. Ironis, tapi itu kenyataannya.



Catcalling Tak Bisa Dipandang Remeh

Di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika, perlakuan catcalling telah resmi menjadi sebuah tindak kejahatan dan digolongkan ke dalam kejahatan berdasarkan misoginis (pandangan merendahkan perempuan) daftar hate crime (kejahatan berdasarkan kebencian). Bahkan, definisi misoginis yang mereka golongkan lebih dari sekadar catcalling. Di sana, mereka menerapkan aturan dilarang mengambil foto perempuan tanpa persetujuan dari perempuan tersebut, sampai pada larangan mengirimkan pesan pendek tanpa persetujuan sebelumnya. Betapa mereka telah paham betul bahwa catcalling merupakan suatu perbuatan pelecehan seksual yang tidak bisa dipandang remeh dan sebelah mata.

Bagaimana dengan Indonesia? Penulis berharap, semoga nanti akan lahir peraturan tegas yang menindaki perbuatan catcalling yang masih dianggap remeh ini. Peraturan yang akan menindak tegas para pelaku catcall, baik itu perempuan maupun lelaki. Pendidikan saling menghargai sesama manusia harus lebih diperkuat lagi, dimulai dari rumah dan keluarga masing-masing. Pemberantasan pengangguran juga harus makin diseriusi, sehingga orang-orang lebih menghargai waktu mereka untuk bekerja, bukan dihabiskan untuk perlakuan catcalling. Sekarang memang, kita sudah bisa melaporkan perlakuan catcalling ke pihak berwajib, tapi apakah hal tersebut akan langsung ditindaklanjuti? Entahlah. Sebab itu, kita butuh peraturan tegas yang mengatur soal catcalling. Sebab diam tidak selamanya emas! (*)


*Tulisan ini dimuat pada halaman Publik Interaktif harian Luwuk Post, edisi 3 April 2017.

Tuesday, February 21, 2017

Sebal

cr


Dih, apaan, setelah sekian abad ndak nulis, giliran nulis judulnya gitu amat. Sehat, Ki?


Wednesday, January 18, 2017

Perempuan dan Standar Kecantikan

cr


PEREMPUAN adalah makhluk kompleks yang diciptakan Tuhan. Kompleksitas di dalamnya termasuk urusan fisik, di mana perempuan memiliki fungsi organ inti yang tidak dimiliki laki-laki, sampai kompleksitas perasaan. Sering sekali rasanya mendengar candaan soal betapa yang mengerti perasaan perempuan hanyalah Tuhan dan dirinya sendiri. 

Friday, December 9, 2016

Rekomendasi Drama Korea







Halo, Readers! :)





Udah lama nih saya ndak cuap-cuap soal drama Korea lagi. Yup, orang-orang yang kenal dengan saya, pasti sudah tahu betapa saya menggilai drama-drama dari Korea Selatan. Saya senang sekaligus sedih sekali ketika harus menghabiskan kuota atau rela jadi fakir WiFi, demi mengunduh drama Korea yang lagi happening.









Tapi, sedihnya jadi super sedih, ketika nonton dramanya itu ndak sesuai ekspektasi atau harapan. Soalnya saya anaknya senang baca review ketika sudah habis nonton, jadi sering ikutan komentar di blog orang soal pendapat saya juga, dan hampir ndak pernah baca review sebelum mau nonton drama. So yah, kadang saya hanya betah melahap beberapa episode awal, atau bahkan hanya setengah dari episode 1 drama yang sudah saya unduh dengan susah payah. Kenapa? Karena dramanya ndak oke menurut saya, Sist. Walau banyak juga sih yang nganggap drama itu keren, tapi persolan selera kan beda-beda, jadi ya udah, BHAY buat drama yang mengecawakan diriku.


Jadi, di postingan kali ini saya bakal membagikan 5 rekomendasi drama Korea yang terbaik banget menurut saya, dan semoga banyak juga teman-teman pembaca yang menontonnya, dan merasakan hal yang sama dengan saya. 5 drama terbaik ini adalah yang saya tonton dari tahun kapan, sampai tanggal 9 Desember 2016 sejak postingan ini terbit. Jadi kalau nanti saya jatuh cinta lagi secara banget-banget sama drama lainnya, saya akan tambah postingan saya ini. Oke, dimulai saja ya, btw saya mengurutkannya berdasarkan abjad saja, biar saya ndak pusing, soalnya semua baguuuuuussss. *_*

1. It's Okay That's Love







Drama ini bagus banget (disclaimer: kalimat ini akan saya ulang sekian banyak kali, namanya juga postingan rekomendasi). Bercerita tentang dunia psikologi. Korea mah selalu baru dan segar kalau menyajikan latar belakang cerita drama-dramanya. Mereka ndak bercanda, luar biasa. Balik lagi ke drama yang berjumlah 16 episode ini. Awalnya, saya tertarik banget nonton gara-gara ada Jo In sung oppa yang main di sana, sekaligus ada D.O, member EXO yang saya sukai. Jadi, awalnya saya ndak menaruh ekspektasi yang besar banget ke drama ini, tapi ternyata saya tertampar-tampar semenjak nonton episode pertama. SAKING BAGUSNYA.


Jadi, ceritanya adalah ketika tokoh utamanya, Jang Jae Yul (Jo In Sung) yang seorang penulis, menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder), kemudian bertemu dengan seorang psikiater perempuan bernama Ji Hae Soo (Gong Hyo Jin) yang punya dua orang teman serumah. Yang pertama adalah seorang psikiater juga, Ji Dong Min (Sun Dong Il), dan seorang pemuda Park Soo Kwang (Lee Kwang Soo) yang menderita sindrom Tourette. Pokoknya ceritanya mengalir ke pertemuan mereka, sampai ya, bisa ditebak, kalau Jae Yul akan terlibat cinta dengan Hae Soo.


Bermula dari cinta-cintaan inilah akhirnya semua masalah muncul. Kerennya, setiap tokoh dalam drama ini memiliki karakter yang sangat keren, dan mereka mampu membawakannya dengan luar biasa. Selain OCD, kemudian ternyata diketahui kalau Jae Yul pun menderita penyakit lainnya (ndak bakal saya bocorkan deh biar ndak spoiler), kemudian Hae Soo juga menderita sindrom ketakutan atau trauma gitu soal seks. Semuanya karena masa lalu mereka. Jadi di sini tuh dijelaskan, semua orang berpotensi menderita suatu sindrom, tidak peduli sebahagia atau semapan apapun dirinya.



Soal soundtrack, juara banget. Semuanya bagus dan mewakili setiap scene di dalam drama ini. Sst, ada Chen EXO juga yang ikutan ngisi soundtrack drama ini loh. Hm, menurut saya, drama ini khusus 18 tahun ke atas deh ya, soalnya banyak banget adegan ciyum-ciyum manjah dan beberapa adegan seminya. Akting pemainnya keren, ceritanya keren (walau ada plot yang kurang nendang, but that's okay), dan soundtracknya pun kece. Nilai? 8.5 dari 10.

2. Kill Me Heal Me




Sama seperti drama It's Okay That's Love, drama ini juga mengangkat tema psikologi. Genre drama yang berjumlah 20 episode ini mencampurkan komedi, medikal, dan juga ada unsur misterinya juga. Pokoknya seru banget deh. Ceritanya, pemeran utamanya Cha Do Yun (Ji Sung) ini mengidap kepribadian ganda. Jadi dia nih dalam cerita akan sering banget switch ke kepribadian yang lain di situasi tertentu, semuanya sangat berkaitan erat dengan masa lalunya yang kelam. Hadir juga nih si cantik kesayangan akuh, Oh Ri Jin (Hwang Jang Eun) yang berperan sebagai seorang dokter kejiwaan.


Cha Do Yun yang lahir dari keluarga kaya raya ini, memilih untuk pergi jauh meninggalkan semua kekayaannya, demi menyembunyikan kepribadian ganda yang sedang ia derita, namun karena ulah salah satu kepribadian dalam dirinya (yang kalau muncul di episode awal itu dibarengi efek-efek yang bisa bikin kita ilfil deh, untung efek-efek itu ndak muncul lagi di episode belakang-belakang), akhirnya dia kembali ke Korea dan menempatkannya di posisi yang menyulitkan.


Akhirnya dia ketemu deh sama Oh Ri Jin, karena ia berkenalan duluan dengan saudara kembar Oh Ri Jin, Oh Ri On (Park Seo Jun). Pokoknya drama ini menguras air mata banget di beberapa episode terakhir, beruntungnya, sebagai penonton kita semacam dikasih break dengan sajian komedi yang lucu banget dan menghibur.


Akting pemainnya jempol, juara deh, semuanya berusaha total banget dan berhasil. Soundtrack juga kece-kece. Saya aja sampai tiga kali menamatkan drama ini saking kerennya jalan ceritanya. Walau yah yang namanya "bolong-bolong" tetap ada ya, tapi overall oke BGT. Nilai? 8.9 dari 10.

3. Misaeng




Ini saya menyesal banget kenapa nontonnya telat banget banget huhu. Rilisnya tahun 2014, tapi saya nontonnya di pertengahan 2016, why? T.T


Jadi ya, drama berjumlah 20 episode ini diangkat dari webtoon alias komik online yang ditulis oleh Yoon Tae Ho. Nah, ada banyak banget sebenarnya pihak televisi yang mau bikin webtoon ini jadi drama, tapi penulisnya ndak mau kalau saat dijadikan drama, kemudian banyak yang diubah dari webtoonnya. Nah, pihak TvN ini mencoba meyakinkan Tae Ho bahwa mereka akan stick ke webtoonnya. Bahkan drama ini ndak ada sama sekali loh love line atau kisah cinta khas drama Korea, so kalau kalian sukanya nonton semacam The Heirs atau Pinocchio begitu, hm, saya ndak yakin untuk merekomendasikan ini ke kalian. But I swear, Guys, drama ini KEREN BGTTTTTT.


Cerita berpusat di lingkungan kerja, tepatnya di perusahaan dagang internasional yang super sibuk. Pemeran utamanya, Jang Geu Rae (Im Shi Wan), berhasil masuk ke perusahaan yang notabene memasang standar yang sangat tinggi pada karyawan barunya, lewat jalur nepotisme. Soalnya, Jang Geu Rae ini hanya lulusan SMA dan pernah ikutan kursus komputer. Nah, cerita dimulai saat dia dan beberapa karyawan baru lainnya mula aktif kerja di perusahaan, dan saya sampai kasihan banget lihat Geu Rae yang harus menyesuaikan diri dengan sangat keras. Teman-teman seangkatannya yang lain tuh pada hebat, menguasai banyak bahasa asing, dan lulusan universitas terkenal pula. Wah, makin berat deh hari-hari kerja Geu Rae.


Tapi, Geu Rae digambarkan sebagai sosok yang tidak gampang menyerah, mau belajar, dan jujur. Walaupun ia masuk ke perusahaan lewat jalur nepotisme, itu bukan karena keinginannya. Nah, si Geu Rae ini ditempatkan di Tim Sales 3, yang dikepalai oleh Pak Oh Sang Sik (Lee Sung Min, betewe saya lagi dalam proses menamatkan daramanya yang terbaru, Memory, dan ini juga keren bangettt). Si Pak Oh ini orangnya keras banget, dan pada awalnya dia menganggap remeh dan mengganggap kalau Geu Rae ini tidak ada di sekitarnya.


Seiring berjalannya waktu, Geu Rae semakin membuktikan diri kalau ia juga bisa, walau dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Semua karena kerja keras Geu Rae, pokoknya saya cinta mati salut banget sama Geu Rae.


Untuk yang sekarang lagi butuh suntikan semangat karena sedang loyo-loyonya di sekolah/kampus/kantor, kalian HARUS nonton drama ini. Harus banget banget deh. Saya ndak mau berpanjang lebar, pokoknya saya kasih nilai 10 buat drama ini. JJANG!!!

4. Reply 1988






WADUH drama ini parah banget, saya sampai berapa kali ngulang nontoninnya saking menghiburnya, belum lagi saya sampai download semua reality show yang ada pemeran drama ini di dalamnya. Pokoknya SUKA BANGET mah sama drama yang satu ini.


Dari melihat posternya saja, kalian pasti sudah ada bayangan kalau drama ini bakalan hangat banget dengan mengusung tema keluarga, dan pastinya kalau kalian mengikuti Rely Series, kalian akan tahu juga kalau drama ini lucu. Dan faktanya, iya. Drama ini LUCU PARAH DAN BAGUS SEKALI.


Pemerannya oke-oke punya. Mereka ndak takut terlihat aneh atau jelek karena didandanin a la tahun 88 gitu. Pokoknya lucu deh. Tapi ndak sekadar lucu, drama ini juga punya pesan super keren untuk para penonton.


Ada Lee Hyeri yang berperan jadi Sung Deok Son, satu-satunya gadis di geng kumpulan cowok yang super keren mainin drama ini. Dia nih jadi remaja cewek yang aktif banget, baik hati, tapi malas banget di sekolah, dia bahkan jadi peringkat kedua terbawah di sekolahnya. Dia punya sahabat-sahabat cowok yang saya iri pengen punya juga. Ada Ryu Jun Yeol yang berperan sebagai Kim Jung Hwan, cowok super cuek dari keluarga berada, yang cuek banget tapi sayang sama sahabat-sahabatnya. Ada Park Bo Gum (KYAAAA, saya bakalan bikin review soal drama Moonlightnya itu, Gengs) yang jadi pemain baduk terkenal dan jago banget, Choi Taek, tapi dianggap paling cupu di lingkaran pertemanannya. Ada juga Sunwoo yang diperankan oleh Go Kyung Po, cowok kece, ketua OSIS, siswa teladan yang sayang banget sama ibu dan adik perempuannya. Terakhir, ada Dong Ryong yang super jahil dan kocak tapi selalu kasih nasihat positif ke temannya, yang diperankan oleh Lee Dong Hwi. Duh, mereka ini masing-masing punya karakter unik, dan parahnya mereka bisa memerankannya dengan sangat baik sekali.


Jadi mereka semua tetanggaan. Ceritanya ya seputar kegiatan mereka sehari-hari, konfliknya pun seputaran soal keluarga, sahabat, sekolah, dan tentunya percintaan. Walau saya tahu kalau drama ini ndak mengusung percintaan sebagai story line utama, tapi ya agak gimana gitu sih endingnya. Eits, tapi pokoknya semuanya KEREN BANGET. Belum lagi kalian bakal melihat aksi kocak orang-orang tua mereka yang lucu abis. Haha. Soundtracknya sesuai sama setingan tahun 80-an. Walau saya bukan lahir di tahun itu, saya ikutan nostalgia lewat drama ini. Nilai? Oh, 10 dari 10 dong! >.<



5. Signal





Drama keren yang lagi-lagi dari TvN. Doh, genre dramanya mengusung fantasi, misteri, dan juga crime-crime gitu. Drama ini mengajak penontonnya ikut berpikir memecahkan setiap kasus yang berbeda di setiap episode (karena setingannya soal kepolisian), tapi tenang aja, akan ada sentuhan-sentuhan kisah cinta yang manis tapi ndak bakalan bikin eneg kok di sini.


Drama ini bercerita tentang seorang detektif muda, Park Hae Young (Lee Je Hoon) yang ceritanya mampu berkomunikasi dengan detektif dari masa lalu, Lee Jae Han (Choi Jin Woong) lewat walkie-talkie yang ia temukan di truk pembuangan sampah (CMIIW). Nah, lewat situ, mereka sama-sama memecahkan berbagai kasus yang memang pernah terjadi di Korea Selatan di waktu lampau. Pokoknya keren parah deh, Gengs.


Apalah arti sebuah drama tanpa hadirnya seorang wanita. Hehe. Nah, ada juga nih pemeran wanita super cantik bernama ha Soo Hyun (Kim Hye Soo), yang juga jadi detektif, dan punya kaitan dengan detektif Jae Han. Pokoknya, plot di drama ini pas banget satu sama lain. Ceritanya juga keren, dan mengajak kita untuk ikutan nebak-nebak siapa sih penjahat kejahatan di setiap episode. Ada juga loh bumbu romantis, komedi, menyeramkan, dan sebagainya, dan semua porsinya PAS.


Nilai? Saya kasih 9.5 dari 10, karena bagi saya pribadi, ini pendapat pribadi loh ya, endingnya kurang menyenangkan hatiku. Hahahuhu.


Nah, itulah 5 rekomendasi drama Korea yang bisa saya bagikan ke kalian. Pokoknya kalau nonton drama di atas dijamin ndak bakal mengecewakan deh. Sambil mengisi liburan, boleh dong kita leyeh-leyeh sejenak sambil nonton drama Korea? (Hm, memangnya kamu punya hari libur ya, Ki? *nangis*)


See you di post selanjutnya.


XOXO.

Tuesday, December 6, 2016

#SusupoCantik: Musikmu adalah Dirimu?



Music expresses that which cannot be said and on it is impossible to be silent. --Victor Hugo

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...