Showing posts with label Jumat Sastra. Show all posts
Showing posts with label Jumat Sastra. Show all posts

Friday, April 15, 2016

Seperti Kota



seperti kota, kekasih
kau ingin jadi apa di dalam diriku?

apakah saga temaram lampu jalanan yang hangat?
ataukah setapak lengang yang basah selepas hari hujan?

seperti kota, kekasih
kau ingin serupa apa di dalam diriku?
ombak tenang yang senantiasa pulang di garis pantaikah?
menjadi siul-siul angin yang setia memberi kabar pada kemaraukah?
atau, rintik yang selalu berlomba mencuri uap panas dari gelas kopiku yang sunyi?

seperti kota, kekasih
biarkan. biarkan dirimu lelap di tengah pagi yang angka satu
biarkan dirimu menjadi alasan setiap aku rindu pada bau asin angin yang kering
biarkan kau, gemuruh seperti rayapnya kendaraan di kota yang petang

seperti kota,
biarkan kau senantiasa hingar di ingatanku
menjadi rumahku
menjadi tempatku pulang
sejauh bagaimanapun aku membuang langkah

Luwuk, medio Maret yang hujan

Friday, March 25, 2016

Kepada yang Kita Sebut Masa Lalu

cr


sedetik setelah sauh dilepas pulang
telah kita balikkan arah mata angin yang ke sebelas
di batas-batas cakrawala yang berubah amarah
semampunya kita usir sesak yang datang seterusnya
menjaga apa yang sudah dititahkan sebelum lepas napas dari kerongkongan
begitu sulit jika harus berdamai dengan segala kesakitan yang akarnya sudah menghujam
: dia, kenangan itu, serupa mengakar pada apa-apa yang telah melekat pada kita

selimut di kamar
gelas kopi yang ukirannya menua
ruang tengah yang hangat
rak buku yang sesak
semuanya, tidak ada yang tidak ia tempati
bercokol dan berdiam sembari menatap penuh muak
tak mau lepas, tak juga mau berbaik hati
kepada air mata yang sudah menganak sungai sedari tahun kemarin
tak ada pula belas kasih yang ia simpan di sana
kita; kata kebanyakan, serupa pesakitan yang senantiasa lupa tanggal
entah, kapan kita akan berakhir pada apa yang kita panggil masa lalu


Luwuk, 2016

Friday, March 18, 2016

Kemarau di Gelas Kopimu

cr


kemarin terakhir kita seruput segelas kopi pekat berdua
sembari memunggungi hujan yang merintih-rintih
mata kita merayapi pekat-pekat yang menggantung
kemudian bersama lupa, angin sedang bergemuruh di dada
berdesir-desir mengusap degup yang bermandi peluh


besok, katamu

usai semua kenangan yang usang terpangkas
kau akan duduk kembali berhadap-hadapan
menatap wajahku yang kebas menahan gigil
ada yang serupa ingin tumpah dari bendung matamu
sampai akhirnya
perpisahan kuucap


lusa, kita kembali berpapasan

di kedai kopi kesayangan, merangkul sepasang lengan yang berbeda
pucuk mata kita bertumbukan
ada luka kutemukan di sana
tatapanmu berbisik pedih
merayakan rusuh hati yang menitip sembilu-sembilu luka
kau kata; perpisahan kita serupa kemarau yang tiada usai


Luwuk, 2016

Friday, March 11, 2016

Tempat Pulangnya Pagi


cr



kepada seceruk harapan yang kau simpan rapi di bawah bantal

kita menghilang serupa asap putih yang menyapu bukit di pagi yang masih gulita. yang di sana kita masih bersetia di bawah lingkaran selimut

ada begitu banyak doa-doa yang kita titip di setiap embun yang menggantung lemah di dedaunan

di setiap petang yang warnanya merona, kita terus menerbangkan semua

berucap bahwa tak akan ada satu pun yang tertinggal di sini

biar; besok lusa, kita bisa jumpa di bawah kaki bukit yang warnanya jelaga



jalanan masih basah; ketika kita melihatnya mengikat sepasang kaki

matanya berwarna kemuning, entah, ada serupa sedih sekaligus bahagia yang ia kandung

ke hadapanmu, kita berharap september mekar di sini

Friday, March 4, 2016

Di Satu Sore Saat Percakapan Kita Tiada Usai

cr




ada empatbelas mata cerita yang bagus terus mengalir dari puisi-puisi yang kau tulis.

katamu. pelan sembari mengusap hidung yang dingin.

serupa, aku mengangguk. ketika begitu banyak mata yang coba kita terjemahkan
ketika pelan-pelan kita usap segala apa yang ada di ubun-ubun

ingatan kita semoga tidak melupa

ketika di senja yang basah ini, kita kembali duduk berhadapan

bercerita tiada usai tentang segala yang tengah kita maknai

sunyi pelan kita sesap masing-masing kopi pekat di hadapan. lalu bahagia-bahagia.

pada sebuah pemberhentian kita merenungi jarak-jarak doa yang telah kita bentangkan.

malam sudah semakin meninggi. pulang adalah pilihan yang jatuh pada kedua mata kaki kita.

Friday, February 26, 2016

Perempuan yang Pada Kepalanya Menyubur Diorama

cr

satu malam yang bulan semakin meninggi
ada dua anak sungai yang mencari tepian ke batas-batas
kaki perempuan itu serupa menanjaki kelokan kelam yang jauh dari pandang
di dadanya yang bergemuruh, begitu banyak amarah serta sedih yang ia pendam
hari sesudah besok, didapati olehnya kenangan yang hitam tumbuh lebat di setapak
semakin ia mencoba menebasnya, semakin perih ulu perasanya
katanya, coba ia pupuki ulang-ulang, mungkin bisa setelah itu
setelah itusetelah itutidak juga. tidak sama sekali
ia masih merasa kesakitannya mengular memanjang di sepanjang tarikan yang ia buat
betapa kesakitan menjadi begitu setia kawan padanya
jelas mencetak di segara rambutnya yang ia bilas dengan ampas kelapa
begitu bau minyak amis menguar, sejurus pula apa yang ia tahan di kepalanya keluar

satu pagi yang matahari masih mengantuk

ada dua anak panah yang lahir dari gemuruh matanya
melesat memasuki belukar-belukar perasaan yang belum bisa berdamai rasanya
sampai besok
besoknya lagi
hingga besok setelah besok
kujumpai ia masih bersetia dengan apa yang ia jaga

Friday, February 19, 2016

Maleo dan Sepasang Orang Renta

cr

di pantai, tempatnya memeluk semua gelisah yang menumbuk dadanya yang gemuk
besok, hujan januari akan berakhir resah; kemudian duduk di ceruk lautan
katanya, hari lusa, ada pesta warna-warni di sini
bukan bahagia, malamnya semakin mengundah pedih perih

di ujung tanjung yang menghijau
sepasang renta sudah suak beranak-pinak
ketika mereka mengerti cara merangkai ketupat; pada akhirnya mereka akan minggat
anak-anaknya; serupa buih putih yang mengecup bibir pantai; hilang tak mengenal
serupa yang lain ketika sudah senja; maka pinang adalah sahabat terbaik
sekali-sekali bermain patui sambil terkekeh-kekeh sedih


di satu sore di ujung penghujan yang saga
mereka menari-nari di bawah tingginya pohon kelapa kering
mengingat betapa sakit pada ingatan rahimnya belum sembuh; mereka sudah pergi jauh-jauh
menuju hidup yang berpisah jauh dari mereka, sumpahnya, pada akhirnya mereka akan merasai hal yang sama
karma; mantra tuhan yang paling sakit masih berlaku di atas tanah tumundo kita
kasihan-kasihan, matanya menghujan kemudian




kita. sedang bersumpah diri menanam kesedihan di tanah ini
tak ada selembar lenso yang berani menyeka anak-anak sungainya
mari, kita rayakan rusuh hati yang pelan-pelan melihat pasir ini tak sebuah pun ada


Luwuk, 2016

suak: lelah
patui: permainan kartu hitam putih yang selalu dimainkan masyarakat Luwuk Banggai
tumundo: sebutan Raja Banggai

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...