Showing posts with label Butir Puisi. Show all posts
Showing posts with label Butir Puisi. Show all posts

Wednesday, November 15, 2017

Saat Kepalaku Dipenuhi Suku Kata Namamu

cr

"Pada akhirnya, aku merapal namamu pelan-pelan. Menembus langit. Melesat kembali. Jatuh menuju mata payungmu..."


Friday, April 15, 2016

Seperti Kota



seperti kota, kekasih
kau ingin jadi apa di dalam diriku?

apakah saga temaram lampu jalanan yang hangat?
ataukah setapak lengang yang basah selepas hari hujan?

seperti kota, kekasih
kau ingin serupa apa di dalam diriku?
ombak tenang yang senantiasa pulang di garis pantaikah?
menjadi siul-siul angin yang setia memberi kabar pada kemaraukah?
atau, rintik yang selalu berlomba mencuri uap panas dari gelas kopiku yang sunyi?

seperti kota, kekasih
biarkan. biarkan dirimu lelap di tengah pagi yang angka satu
biarkan dirimu menjadi alasan setiap aku rindu pada bau asin angin yang kering
biarkan kau, gemuruh seperti rayapnya kendaraan di kota yang petang

seperti kota,
biarkan kau senantiasa hingar di ingatanku
menjadi rumahku
menjadi tempatku pulang
sejauh bagaimanapun aku membuang langkah

Luwuk, medio Maret yang hujan

Friday, March 25, 2016

Kepada yang Kita Sebut Masa Lalu

cr


sedetik setelah sauh dilepas pulang
telah kita balikkan arah mata angin yang ke sebelas
di batas-batas cakrawala yang berubah amarah
semampunya kita usir sesak yang datang seterusnya
menjaga apa yang sudah dititahkan sebelum lepas napas dari kerongkongan
begitu sulit jika harus berdamai dengan segala kesakitan yang akarnya sudah menghujam
: dia, kenangan itu, serupa mengakar pada apa-apa yang telah melekat pada kita

selimut di kamar
gelas kopi yang ukirannya menua
ruang tengah yang hangat
rak buku yang sesak
semuanya, tidak ada yang tidak ia tempati
bercokol dan berdiam sembari menatap penuh muak
tak mau lepas, tak juga mau berbaik hati
kepada air mata yang sudah menganak sungai sedari tahun kemarin
tak ada pula belas kasih yang ia simpan di sana
kita; kata kebanyakan, serupa pesakitan yang senantiasa lupa tanggal
entah, kapan kita akan berakhir pada apa yang kita panggil masa lalu


Luwuk, 2016

Friday, March 18, 2016

Kemarau di Gelas Kopimu

cr


kemarin terakhir kita seruput segelas kopi pekat berdua
sembari memunggungi hujan yang merintih-rintih
mata kita merayapi pekat-pekat yang menggantung
kemudian bersama lupa, angin sedang bergemuruh di dada
berdesir-desir mengusap degup yang bermandi peluh


besok, katamu

usai semua kenangan yang usang terpangkas
kau akan duduk kembali berhadap-hadapan
menatap wajahku yang kebas menahan gigil
ada yang serupa ingin tumpah dari bendung matamu
sampai akhirnya
perpisahan kuucap


lusa, kita kembali berpapasan

di kedai kopi kesayangan, merangkul sepasang lengan yang berbeda
pucuk mata kita bertumbukan
ada luka kutemukan di sana
tatapanmu berbisik pedih
merayakan rusuh hati yang menitip sembilu-sembilu luka
kau kata; perpisahan kita serupa kemarau yang tiada usai


Luwuk, 2016

Friday, March 11, 2016

Tempat Pulangnya Pagi


cr



kepada seceruk harapan yang kau simpan rapi di bawah bantal

kita menghilang serupa asap putih yang menyapu bukit di pagi yang masih gulita. yang di sana kita masih bersetia di bawah lingkaran selimut

ada begitu banyak doa-doa yang kita titip di setiap embun yang menggantung lemah di dedaunan

di setiap petang yang warnanya merona, kita terus menerbangkan semua

berucap bahwa tak akan ada satu pun yang tertinggal di sini

biar; besok lusa, kita bisa jumpa di bawah kaki bukit yang warnanya jelaga



jalanan masih basah; ketika kita melihatnya mengikat sepasang kaki

matanya berwarna kemuning, entah, ada serupa sedih sekaligus bahagia yang ia kandung

ke hadapanmu, kita berharap september mekar di sini

Friday, March 4, 2016

Di Satu Sore Saat Percakapan Kita Tiada Usai

cr




ada empatbelas mata cerita yang bagus terus mengalir dari puisi-puisi yang kau tulis.

katamu. pelan sembari mengusap hidung yang dingin.

serupa, aku mengangguk. ketika begitu banyak mata yang coba kita terjemahkan
ketika pelan-pelan kita usap segala apa yang ada di ubun-ubun

ingatan kita semoga tidak melupa

ketika di senja yang basah ini, kita kembali duduk berhadapan

bercerita tiada usai tentang segala yang tengah kita maknai

sunyi pelan kita sesap masing-masing kopi pekat di hadapan. lalu bahagia-bahagia.

pada sebuah pemberhentian kita merenungi jarak-jarak doa yang telah kita bentangkan.

malam sudah semakin meninggi. pulang adalah pilihan yang jatuh pada kedua mata kaki kita.

Friday, February 26, 2016

Perempuan yang Pada Kepalanya Menyubur Diorama

cr

satu malam yang bulan semakin meninggi
ada dua anak sungai yang mencari tepian ke batas-batas
kaki perempuan itu serupa menanjaki kelokan kelam yang jauh dari pandang
di dadanya yang bergemuruh, begitu banyak amarah serta sedih yang ia pendam
hari sesudah besok, didapati olehnya kenangan yang hitam tumbuh lebat di setapak
semakin ia mencoba menebasnya, semakin perih ulu perasanya
katanya, coba ia pupuki ulang-ulang, mungkin bisa setelah itu
setelah itusetelah itutidak juga. tidak sama sekali
ia masih merasa kesakitannya mengular memanjang di sepanjang tarikan yang ia buat
betapa kesakitan menjadi begitu setia kawan padanya
jelas mencetak di segara rambutnya yang ia bilas dengan ampas kelapa
begitu bau minyak amis menguar, sejurus pula apa yang ia tahan di kepalanya keluar

satu pagi yang matahari masih mengantuk

ada dua anak panah yang lahir dari gemuruh matanya
melesat memasuki belukar-belukar perasaan yang belum bisa berdamai rasanya
sampai besok
besoknya lagi
hingga besok setelah besok
kujumpai ia masih bersetia dengan apa yang ia jaga

Friday, February 19, 2016

Maleo dan Sepasang Orang Renta

cr

di pantai, tempatnya memeluk semua gelisah yang menumbuk dadanya yang gemuk
besok, hujan januari akan berakhir resah; kemudian duduk di ceruk lautan
katanya, hari lusa, ada pesta warna-warni di sini
bukan bahagia, malamnya semakin mengundah pedih perih

di ujung tanjung yang menghijau
sepasang renta sudah suak beranak-pinak
ketika mereka mengerti cara merangkai ketupat; pada akhirnya mereka akan minggat
anak-anaknya; serupa buih putih yang mengecup bibir pantai; hilang tak mengenal
serupa yang lain ketika sudah senja; maka pinang adalah sahabat terbaik
sekali-sekali bermain patui sambil terkekeh-kekeh sedih


di satu sore di ujung penghujan yang saga
mereka menari-nari di bawah tingginya pohon kelapa kering
mengingat betapa sakit pada ingatan rahimnya belum sembuh; mereka sudah pergi jauh-jauh
menuju hidup yang berpisah jauh dari mereka, sumpahnya, pada akhirnya mereka akan merasai hal yang sama
karma; mantra tuhan yang paling sakit masih berlaku di atas tanah tumundo kita
kasihan-kasihan, matanya menghujan kemudian




kita. sedang bersumpah diri menanam kesedihan di tanah ini
tak ada selembar lenso yang berani menyeka anak-anak sungainya
mari, kita rayakan rusuh hati yang pelan-pelan melihat pasir ini tak sebuah pun ada


Luwuk, 2016

suak: lelah
patui: permainan kartu hitam putih yang selalu dimainkan masyarakat Luwuk Banggai
tumundo: sebutan Raja Banggai

Saturday, December 5, 2015

Sebab; daun-daun pula angin-angin


pada suatu pagi
ada begitu banyak kerontang gerimis yang berpeluh di kaca jendela
katamu pagi itu
kita ini pelupa
tapi nekat jadi pepuisi
sebab
kutunggu matamu terpatuk di mataku
serupa yang dieratkan dengan segala apa yang paling erat
serupa tak bisa lepas dan lekat tanpa sekat

sebab-sebab.
doa-doa.
rapal-rapal.
daun berputar jatuh
angin menggeliat manja meniup-niup
ubun-ubun kita dingin
menjadi beku serupa balok-balok es
pada satu masa.
coba kau kali-kali dan tambah-tambah
sebab-sebab
apa-apa yang kita lupa
melupai
dilupai
terlupai


Luwuk, Ujung tahun 2015

Friday, December 4, 2015

Kepalamu; gerimis

pic from here


kepada waktu
ku sandarkan peluh dan cerita
kira-kira begini
ketika kau temukan aku, perempuanmu, termangu pada setitik rintik
maka tahanlah sebentar lagi
kita sepisah-pisah
kira belum-belum
jika memang nanti akan, maka sabar adalah penawar
jika memang nanti telah, maka cukup menjadi penutup

kepada kemarin
telah ku cari penawar atas segala
tak genap sembuh
malah kambuh
entah, mungkin besok ketika kita berjalan menangkupkan langkah
tak ada yang salah
tak mengapa berkilah
namun, jangan sampai ada pisah

kepada hari ini
telah ku cukup-cukupkan daya
agar tetap memaku langkah
tetap bersetia memaku cerita
bisa jadi
besok lusa
ketika kau telah ada
kau kemudian bisa membaca
terbata-bata, mengeja, atau meraba
kau temukan aku mematung di sana

kepada esok
kepada masa depan
kepada pagi
kepada petang
kepada malam yang terus menua
kepada mu
kepada ku
kepalaku
kepalamu
kepak-kepaknya
gerimis-gerimisnya
pelangi-pelanginya
kepada segala yang mengedar



Luwuk, menyambut musim penghujan, 2015

Wednesday, October 28, 2015

(4)

lalu, pernahkah kau menghitung berapa banyak air mata yang jatuh dari sesak-sesakku?
apabila tidak, maka jangan bicara
cukup diam
dengarkan saja isakku yang serupa hujan orang mati
pejam-pejam saja kelopakmu
napasku mungkin tak akan selega dahulu
tapi setidaknya mulutmu tak keberatan untuk diam
telingamu luas menampung semua kisah-kesahku
toh, pada akhirnya kau juga akan beranjak
mengelus rambut legamku seraya berdiri tegak kemudian berbalik
toh, pada akhirnya kau juga akan menghilang
kan?

Tuesday, October 27, 2015

(3)

sepertinya kita terlalu banyak menerka-nerka
juga terlalu banyak membibit pengharapan
jadi, ketika ia usai
yang tersisa di kaki kita hanya genangan air mata yang melimpah



Monday, April 6, 2015

Untukmu, Shalihah



Amma...
menyemai usia duapuluhdua dirimu kini
banyak doa yang bertebaran di langit-langit kamar saya
di luar masih hujan
mengetuk-ngetuk jendela
setiap bulirnya
ada doa yang melangit
membuncah dari bibir

Amma...
berbilang tahun saya mengenalmu
kamu
menjadi satu dari sekian hadiah yang Dia berikan buat saya
kemudian
banyak semoga yang melesat buatmu
semoga
semoga
semoga
semoga

kebaikan menyertai setiap hentak langkahmu
berkah menyemai di setiap ucap lisanmu
bahagia memancar dari setiap tatap irismu
syukur mengalir dari setiap perolehanmu

semoga pula
ini bukan bilangan usia terakhir milikmu, dimana saya menjadi saudaramu
iya, kan?

semoga pula
kamu semakin keren


Teruntuk saudariku tercinta, Rahma Afnan, tetaplah bertumbuh menjadi gadis yang menyenangkan.


Sunday, April 5, 2015

Kotak Aj(aib)

Tv hitam putih berkedap-kedap lemah di ruangan tengah
bapak sedang sibuk menyetel parabola
aku duduk berselonjor malas
duh, apa guna menyaksikan berita yang hanya mencekoki kita dengan ajaran pluralitas yang menikung jauh dari nilai moral?
aku membuang pandangan
menjatuhkan tatapanku pada buku yang kugenggam
kalau kata mamak
menyaksikan acara tv sekarang ini efeknya membuat kepala buntu
sama ketika kau berlebihan mengonsumsi masako dalam masakan
hasilnya persis, kan?
sama-sama membunuh secara perlahan
membuat intelektual kerdil
akibatnya berantai, mengular sampai batas entah


Tantangan permainan frasa dari Dik Tari


.

Saturday, April 4, 2015

Segara; Lautan-Lautan dengan Dermaga Aku

Sepagi ini, saya coba menenangkan pikiran
menulis tentangmu, selalu butuh keberanian besar
ah, arti namamu adalah lautan, kan?
kemudian, biarkan saya terbenam di dalamnya
tenggelam hanyut, terbawa arus
melesat jauh ke dalam
menembus relung-relungmu yang dipenuhi arus yang berlarian
lalu membangun istana kekal
bertempat di sana

Lautan;
jangankan tanpa kuminta
matamu saja seperti menyimpan gelombang
mengetuk pencarian yang lama terhenti
bak menjelma ibarat sebotol obat penenang
tepukan ombakmu yang selalu berhasil menyusupi lelapku

Jika kamu lautan; maka izinkan aku menjadi tepianmu, yang selalu menjadi tempatmu pulang.



10:00; Ombakmu.


Thursday, April 2, 2015

Kepala yang Terbenam

Malam sudah semakin menua
hujan jatuh saling bersusulan
bergantian mengecupi ubun-ubun bumi
membasahi kepala yang sejak pagi tadi memberangus kesal
ada serupa genangan kenangan yang mengair
menjalar perlahan
mengetuk kotak memori di sudut batok
dan pada akhirnya tersadar
kepala ini, ingatan ini, telah lama terbenam pada sesuatu
yang mengatas namakan diri dengan cinta
lalu lupa pada sekelumit janji yang pernah terkucur dari lisan

Hujan masih setia membenturkan raganya pada atap
menimbulkan bunyi gaduh
namun berirama kantuk
semakin lama lalu semakin tersadar
kepala yang terbenam ini harus segera diangkat dari kubangan ingatan yang menyiksa
lalu, doa kemudian merayapi malam yang pekat ditemani hujan yang semakin menderas
ada baiknya, malam ini kita jatuh kepada lelap
esok, semua akan baik-baik saja

Saturday, November 8, 2014

Sepotong-sepotong Puisi

(1)
dulu
dulu sekali
saya senang sekali memerhatikan alis matamu
ia mengelok
menghantarkan saya pada pusara kenangan

(2)
malam ini
ada yang datang lagi di kepala saya
seperti mengapit buku tua di ketiaknya
tentang kita, ucapnya
bukankah semua sudah kita labeli expired?

(3)
mata saya mendadak basah
pelupuk yang saya katup seperti pening
ada kamu di air mata saya
mengalir deras
menembus batas-batas samudera

(4)
kita sudah berjanji untuk saling melupakan
berjanji untuk saling menghapus jejak-jejak
melupakan raut wajah
menghilangkan ingatan tentang cara bicara
juga cara tersenyum

(5)
lalu mendadak kepala saya hadir tanya
"apa kabar?"
aduh
mulut saya kebas
tidak tahu arah bicara sekarang

(6)
lebih baik saya akhiri ini
titik

Wednesday, October 22, 2014

Satu Waktu Nanti







Nanti,
saat kamu merajuk
saya akan buatkan secangkir jahe hangat
lalu meredakan rajukmu dengan candaan saya
yang mungkin akan terasa garing

Nanti,
saat kamu lelah selepas kerja
saya akan duduk rapi di sisimu
mendengar segala keluhmu

Nanti,
saat kamu merasa ingin berhenti
saya akan ikut menghentikan langkah kaki saya
menunggumu siap mengayuh langkah kembali
tanpa harus ada yang saling meninggalkan satu sama lain
tanpa harus ada yang saling mendahului


Sebab kita memulai langkah di waktu yang sama
dan akan terus meneruskan langkah bersama
terus begitu

Monday, June 23, 2014

Jika Saja

jika kau melihat; ada semacam merah saga di mata saya
seperti bara api
atau seperti daun-daun kerontang
bahkan juga seperti darah-darah dari cecar bibirmu

jika kau mendengar; ada semacam tangisan teriris di penghujung ucap saya
seperti rapal kematian
atau seperti cemeti-cemeti duka
bahkan juga seperti lupa yang menggumpal-gumpal

Monday, May 12, 2014

Kejora-Kejora Milikmu



(satu)
ada kejora-kejora
di mata jernih milikmu
yang mampu luruhkan
segala gelisah yang membanjir

(dua)
ada kejora-kejora
di senyum lancip milikmu
yang seketika hancurkan
kaktus berduri di dalam hati

(tiga)
ada kejora-kejora
di tiap lambaian aksaramu
yang seketika kuatkan
segala sumpah untuk tetap bersetia

(empat)
ada kejora-kejora
di setiap helai rambut pekatmu
yang tak ada sedetik
mampu hapuskan segala keringat menyoal betapa lelahnya saya berjalan

(lima)
ada kejora-kejora
di lekukan tirusmu
yang membuat sayang saya terhadapmu
mengunung tiada ampun

sebab begitu banyak kejora-kejora
yang saya tangkap dari apapun milik kamu

21:13. Tantangan Permainan Frasa dari Dewliver.

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...