Halo!
Halo.
Kamu seperti pesakitan akhir-akhir ini!
Oh, ya? Masa?
Caramu berkilah seperti menjawab pertanyaan saya.
Kamu kan saya!
Baiklah. Lalu kenapa kamu seperti pesakitan belakangan ini?
Entahlah. Rasa-rasanya saya tidak perlu menjawab panjang-panjang, kan? Kamu paham itu.
Hei, lalu untuk apa kamu memanggil saya sesiang ini, di waktu mata sedang kantuk-kantuknya? Kamu menarik saya duduk berhadap-hadapan untuk bicara. Maka bicaralah!
Baiklah. Kepala saya sedang disesaki begitu banyak beban mungkin. Kamu tahu kan, tak genap sebulan sejak saya resmi menjadi alumni kampus, saya sudah menyandang status karyawan. Menyenangkan kedengarannya. Tapi seperti ada lubang di hati saya. Entah. Mungkin seperti terlalu cepat, atau juga yang lainnya. Saya tak paham benar.
