Showing posts with label Tuan. Show all posts
Showing posts with label Tuan. Show all posts

Tuesday, September 15, 2015

Saat Kamu Datang


Mari berbicara tentang bagaimana saya saat kamu datang. Semoga, saya dalam keadaan baik sepenuhnya. Tidak sedang flu, misalnya. Lucu saja kan, kalau saat kamu datang, saya sedang kerepotan mengurusi hidung yang sedang belepotan? Bukan lucu, tapi jorok.

Semoga, saat kamu datang, saya dalam keadaan baik sepenuhnya. Tidak sedang merengek menonton drama Korea, misalnya. Aneh saja, kalau misalnya saat kamu datang, saya sedang belepotan mengurusi mata yang sembab akibat menyaksikan hal-hal yang menurut kebayakan orang sepele. 

Semoga, saat kamu datang, saya dalam keadaan baik sepenuhnya. Baik raga saya, baik jiwa saya, baik pemahaman saya, baik penerimaan saya, serta baik hati saya. Semoga, ya!

Jawa Pos National Network's Office


Monday, August 17, 2015

23:35

Doa-doa saya melangit. Merapal-rapal namamu dalam diam, di antara desahan napas. Semoga!


Friday, August 14, 2015

Kepada Tuan di Masa Depan

Kamu tahu, Tuan?
Maaf, sampai saat ini saya belum bisa mengeja wajah atau namamu dengan jelas. Terlampau jauh. Maaf. Maafkan saya.

Kamu tahu, Tuan?
Mungkin sebelumnya, satu dua lelaki pernah singgah di sini. Menabur harapan, lalu saya dengan bodohnya mengangguk mantap, lalu mereka pergi setelah menebas semua harapan saya, lalu meninggalkan saya yang tersungkur perih.

Kamu tahu, Tuan?
Saya hanya perempuan biasa, yang tetap mencoba terbaik saya agar menjaga kemuliaan, sampai padamu.

Kamu tahu, Tuan?
Kali ini saya tak berani mencoba-coba lagi. Menerka-nerka lagi. Pun menebak-nebak lagi. Hati saya terlampau lelah. 

Dan, kamu tahu, Tuan?
Saya akan tetap bersetia menungguimu di sini. Menungguimu yang belum bernama. Yang rupanya belum bisa saya tebak. Yang suaranya belum mampu saya terka. Saya akan bersetia, menanti kau datang, dengan segenap kasih, dan sejuta penerimaan atas kekurangan saya.

Kepadamu, Tuan di masa depan, izinkan saya menantimu dalam taat.

Saturday, August 1, 2015

Butuh Berapa Banyak?

Ah, butuh berapa banyak keberanian untuk mengungkapkan sayang kita pada yang dicintai?

Butuh berapa banyak rasa sabar untuk menghadapi tangis bocah nakal yang merengek minta es sirop di pagi yang hujan?

Butuh berapa banyak kesetiaan untuk tetap menunggu dia yang belum jua tiba mengetuk pintu rumah kita?

Butuh berapa banyak degup untuk membuktikan betapa kita gugup berhadapan dengan dosen penguji di sidang skripsi?

Butuh berapa banyak uang agar bisa membawa pulang telepon genggam seri terbaru dari gerai telepon?

Butuh berapa banyak tangis untuk mengisyaratkan betapa sakitnya kaki kita saat terantuk batu?

Dan, butuh berapa banyak hari lagi untukmu, agar sampai padaku, dan menjawab semua pertanyaanku tentang berapa banyak ini, Tuan?

Rumah, 15:49

Saturday, April 4, 2015

Thursday, April 2, 2015

Kaleng Surat

"Kring.."

Suara ketukan pintu dari Pak Pos membuat saya tersentak kaget. Ini surat kedua darimu, Tuan. Datang dengan sampul berwarna biru gelap dengan gambar kartun Maruko Chan kesukaan saya, hasil lukisan tanganmu sendiri. Kuperhatikan dengan seksama, amplop berwarna biru tadi pun hasil buatan tanganmu juga. Ah, ya, saya ingat, sore itu, hampir gelap, ketika garis kemerahan menyemburat di batas cakrawala, kamu berkata pada saya perlahan, sangat perlahan hingga hampir tak terdengar bersaing dengan debur ombak.

"Matamu seperti palung terdalam lautan ini. Biru pekat. Menenangkan, tapi bisa saja menenggelamkan." Kamu berucap lirih.
"Apa?" Tanyaku tanpa menatapmu.
"Matamu dalam. Menenggelamkan. Saya seperti jatuh sesak di sana, tapi sesak bahagia. Rasanya enggan ingin pulang." kamu berujar lebih keras. Saya tertawa sambil memerhatikan alis ulat bulumu, seraya menonjok pelan bahu kananmu. Kamu tahu? Sore itu adalah salah satu dari sore terbaik yang pernah saya punya.

***
Saya merobek ujung sampul surat. Ada dua lembar kertas kecokelatan terlampir di dalamnya. Tak sabar, saya segera merogoh dan membacanya. Duh, Tuan, tulisan tanganmu kenapa selalu rapi dan indah begitu, sih? Ini yang selalu membuat saya iri padamu. Saya membacanya dalam diam, sambil sesekali menyesap segelas cokelat hangat. Hari sedang hujan, dan ternyata, sepucuk surat darimu dan segelas cokelat hangat menjadi teman terbaik di tengah rinai.



Hujan; dan saya sedang merindui kamu.

Wednesday, April 1, 2015

Tuan Kesayangan Sepanjang Hayat

Terimakasih telah bersetia, tetap menjadi teman terbaik saya. Entah sulit, entah bahagia, terjebak dalam kebimbangan, pun saat kita (kebanyakan saya) mengeluh ini-itu.

Ingin rasanya saya nyanyikan Thinking Out Loud di telingamu, samar-samar, menyampaikan betapa melangitnya perasaan saya padamu, Tuan. :')

Tuesday, March 31, 2015

Tuan dengan Mata Penuh dan Kacamata Hitamnya



Tuan,
pagi ini saya berhasil mencuri pandang ke arahmu
diam-diam memerhatikan gurat senyummu yang selalu memesona
walau terhitung jarak waktu yang begitu senjang, sampai kita dipertemukan kembali hari ini
ini puisi?
bukan.
saya selalu tidak berhasil merangkai kata-kata indah buatmu
selalu gagal.
entah di alinea ke berapa, kepala saya bertemu buntu
kamu terlalu indah untuk saya gambarkan dalam jajaran frasa
saya hanya bisa membenturkan ingatan saya pada bingkai kotak kacamata hitammu,
pada wajah sawo matangmu,
pada senyum ramahmu,
pada suara beratmu saat menyapa saya,
pada pesan-pesan pendekmu,
pada rambut legam panjangmu,
dan kesemuanya selalu berhasil mencuri nyenyak saya
membuat saya terdiam lama
pun kadang, membuat saya terlihat bodoh; senyum-senyum sendiri menatap kejauhan

Ah, ingat potongan kalimat ini?
"kalau cinta, mengapa tidak kau katakan?"
"perempuan tidak pantas mengungkapkan."

Ya.
saya hanya bisa diam
menyelipkan namamu banyak-banyak di doa saya
mengirim banyak semoga tentang kita, di antara rinai yang menderas
berharap waktu akan berbaik hati menjawab


(tertawa getir)
saya hanya bisa tersenyum
tertunduk diam
saya selalu berharap, tiada pernah bertemu kecewa
tapi ah, apalah ini
mungkin kamu pun tak akan pernah sampai pada tumpukan-tumpukan tulisan ini.


Penghujung Maret, ketika
saya disesaki perihal kamu, Tuan.


Perempuan Teratai


Wednesday, October 22, 2014

Satu Waktu Nanti







Nanti,
saat kamu merajuk
saya akan buatkan secangkir jahe hangat
lalu meredakan rajukmu dengan candaan saya
yang mungkin akan terasa garing

Nanti,
saat kamu lelah selepas kerja
saya akan duduk rapi di sisimu
mendengar segala keluhmu

Nanti,
saat kamu merasa ingin berhenti
saya akan ikut menghentikan langkah kaki saya
menunggumu siap mengayuh langkah kembali
tanpa harus ada yang saling meninggalkan satu sama lain
tanpa harus ada yang saling mendahului


Sebab kita memulai langkah di waktu yang sama
dan akan terus meneruskan langkah bersama
terus begitu

Saturday, September 20, 2014

Kepada Tuan; Ini Sejatinya Ini Sederhana

Bukankah ini memang sederhana?
Kita akan bertemu, entah di lipatan waktu keberapa, entah di belahan dunia bagian mana.
Moskow saat musim dingin mungkin seperti impian saya?
Entah. Kita tak pernah benar-benar tahu. Toh, kita tak perlu tahu, sebab Dia pasti punya rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kita impikan atau rencanakan.

Sejatinya ini sederhana. Kelak, ketika saya malu-malu menjawab warna kesukaan saya saat kau tanyakan, atau saat kau menjadi kaku saat pelan ingin menggenggam tangan saya untuk bersisian melewati separuh dunia. Iya, semua sederhana. Tetap langitkan doa-doa kita.

Wednesday, June 11, 2014

I Swear

I swear by the moon
and the stars in the sky
and I swear like the
shadow that's by your side
I see the questions in your eyes
I know what's weighing on your mind
you can be sure I know my part
'cause I stand beside you through the years
you'll only cry those happy tears
and though I make mistakes
I'll never break your heart
and I swear by the moon
and the stars in the sky I'll be there
I swear like the shadow that's by your side
I'll be there for better or worse
till death do us part
I'll love you with every beat of my heart
and I swear
tetaplah bersamaku
jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku, ku milikmu
kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu

bila di depan nanti
banyak cobaan untuk kisah cinta kita
jangan cepat menyerah
kau punya aku
ku punya kamu
selamanya akan begitu

--Tulus, Teman Hidup

Thursday, May 1, 2014

Kita

Kita tidak perlu berkata banyak. Cukup mata saya menjadi penerjemah atas apa yang tersembunyi di balik gugup lisan saya. Saya tidak pernah ragu atas berapa besar rasa saya buat kamu, Tuan. Sama sekali tidak pernah. Dan saya tahu, kamu tahu pasti itu.

Kita tidak perlu berkata banyak. Cukup sejuntai degup saya menjadi saksi terhadap gumpalan rasa di balik sekat hati saya. Saya tidak pernah takut dengan apa yang saya rasakan, pun saya rasa kamu juga, Tuan.

Cukup kita tahu apa yang seharusnya kita tahu. Kamu adalah saya. Dan sebaliknya. Untuk selamanya.

20:50 di penghujung Kamis yang begitu manis.

Monday, April 7, 2014

Tidak Seharusnya

Saya dan hujan seharusnya tak perlu berlomba
berlomba tentang seberapa hebat rintik kami mencuri perhatianmu
kamu mungkin sedang menatap hujan satu-satu yang jatuh menepuk jendelamu
pun mungkin kamu tengah berharap saya duduk di sebelahmu
berbagi banyak tawa dan cerita
tentang bagaimana klub bola kesayangan kita bertanding tadi malam
tentang suara saya yang selalu sengau ketika minum es kelapa di ujung jalan
tentang sepatu-sepatu raksasa kita
tentang sambal petai pedas buatan saya
tentang sobekan kecil di lengan bajumu
tentang isi ransel hitam di pundak saya
tentang musim bebuahan yang akan datang
tentang seberapa sukanya kamu pada kopi hitam

Tentang banyak hal
tentang banyak hal
tentang banyak hal

Seharusnya saya dan hujan tak perlu berlomba.

13:52, saat rintik di luar berlari perlahan

Wednesday, April 2, 2014

Di Bawah Langit Selepas Hujan

Ada satu rintik jatuh mencium tanah
diburu ribuan rintik berikutnya
tak ada kata usai
mata kita menyipit terpapar cipratan
senyummu mengembang
tanda kita masih harus menepi berteduh
belum bisa beranjak

Rintik semakin memburu
menjadi deras yang mengeras
saya merapatkan jaket
pun kamu
gemerutuk gigi kita bisa terdengar satu-satu
kamu genggam tangan saya
sambil merapikan letak kacamata di bingkai wajahmu

Kita saling menatap
menukar senyum yang selalu berharga
menoleh ke arah langit yang memerah usai hujan
kamu mengangguk
saatnya kita teruskan perjalanan yang belum selesai
bersiap menjemput banyak rintik di depan
bahkan pula petir atau badai
tapi harapan saya
semoga kita selalu begini
tetap menggenggam tangan kuat satu sama lain
sampai mungkin detik tak mampu berderak lagi

Belum Bersua Titik

Ada begitu banyak rindu yang menghampiri tepi-tepi hati saya belakangan ini. Dan, saya simpulkan penyebabnya selalu kamu, Tuan.

Selalu ada banyak cerita yang belum tuntas antara saya dan juga kamu, Tuan. Banyak. Mengantri panjang mengalahi antrian para pemburu sembako saat hari imlek tiba di kelenteng sana. Saya selalu berharap, semoga di detik berikutnya, saya mampu menceritakan semua kekata ini satu-persatu hingga tandas.

Saturday, February 8, 2014

Setoples Rindu Untuk Kamu

Jika saya adalah hujan, mungkin rumah kamu sudah membanjir dipenuhi genangan rindu. Tidak main-main, saya rindu. Tapi sekarang saya akan mengirimimu setoples dahulu, tunggu sampai idul fitri tiba dan kamu akan melihat betapa tumahmu telah sesak dengan ribuan toples rindu dari saya.

19.08 ketika gelap mulai menyelimuti.

Wednesday, December 18, 2013

Sajak Gerimis; tentang kita yang tak pernah menemui kata sudah

Terkadang di pelepah rintik aku temui bebayang matamu. Ada satu-satu rindu yang merembes ke sini. Di kepalamu mungkin terlalu banyak lahan kenangan tentang saya. Pun di kepala saya, sila kau tengok kemari.

Ada satu dua hal yang sulit kita mengerti, mengapa Tuhan yang duduk anggun di sana masih membiarkan kita tersakiti dengan jarak. Jarak yang jutaan. Rindu yang tertahan. Lalu banyak cerita yang belum terceritakan. Ada banyak hal yang tidak atau belum kita pahami. Banyak.

19:04 di sela rerintik

Monday, December 16, 2013

Tentang Ihwal Mengapa Saya Berpuisi

Setiap menatap cerobong matamu
selalu saja ada alasan mengapa saya terus berdiri di sini
memaku banyak puisi di dinding rumah yang rapuh
siapa tebak
enam puluh enam tahun kelak
tanpa sebab yang telak
kita lupa banyak
tak ada jejak

Setiap memandangi guratan wajahmu
selalu saja timbul ribuan alasan mengapa saya terus menunggu
walau tergugu
kaki saya tetap tak terganggu
menunggu
terus terpaku dan membeku
masih dengan bergumpal-gumpal puisi di tangan saya

Karena selalu banyak alasan
jika itu tentang kamu

-17:53 selepas kelas yang melelahkan-

Saturday, December 14, 2013

Izinkan Saya Menabung Rindu, Tuan!

Hujan masih jatuh satu-satu di atas atap tempat saya berbaring merindu
satu dua gumpal harap masih mengantri sesak di sudut rerintik
saya selalu suka mewarnai matamu dengan krayon warna bata
lalu mengarsir rambutmu dengan gradasi ungu tua
tak lupa, bibirmu dengan warna saga
saga yang menyala

Hujan masih jatuh satu-satu di tempat saya menabung resah
pelan-pelan saya sibakkan tirai malam yang semakin mengeriput
ada empat atau lima tawa jumawa di sana
lalu saya cukupkan
rindu ini tertangkupkan
tepat di menit ke delapan
saat mata saya bercumbu bersama kegelapan

Saya rindu. 14.

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...