Mari berbicara tentang bagaimana saya saat kamu datang. Semoga, saya dalam keadaan baik sepenuhnya. Tidak sedang flu, misalnya. Lucu saja kan, kalau saat kamu datang, saya sedang kerepotan mengurusi hidung yang sedang belepotan? Bukan lucu, tapi jorok.
Tuesday, September 15, 2015
Saat Kamu Datang
Mari berbicara tentang bagaimana saya saat kamu datang. Semoga, saya dalam keadaan baik sepenuhnya. Tidak sedang flu, misalnya. Lucu saja kan, kalau saat kamu datang, saya sedang kerepotan mengurusi hidung yang sedang belepotan? Bukan lucu, tapi jorok.
Monday, August 17, 2015
Friday, August 14, 2015
Kepada Tuan di Masa Depan
Saturday, August 1, 2015
Butuh Berapa Banyak?
Saturday, April 4, 2015
Thursday, April 2, 2015
Kaleng Surat
Wednesday, April 1, 2015
Tuan Kesayangan Sepanjang Hayat
Ingin rasanya saya nyanyikan Thinking Out Loud di telingamu, samar-samar, menyampaikan betapa melangitnya perasaan saya padamu, Tuan. :')
Tuesday, March 31, 2015
Tuan dengan Mata Penuh dan Kacamata Hitamnya
pagi ini saya berhasil mencuri pandang ke arahmu
diam-diam memerhatikan gurat senyummu yang selalu memesona
walau terhitung jarak waktu yang begitu senjang, sampai kita dipertemukan kembali hari ini
ini puisi?
bukan.
saya selalu tidak berhasil merangkai kata-kata indah buatmu
selalu gagal.
entah di alinea ke berapa, kepala saya bertemu buntu
kamu terlalu indah untuk saya gambarkan dalam jajaran frasa
saya hanya bisa membenturkan ingatan saya pada bingkai kotak kacamata hitammu,
pada wajah sawo matangmu,
pada senyum ramahmu,
pada suara beratmu saat menyapa saya,
pada pesan-pesan pendekmu,
pada rambut legam panjangmu,
dan kesemuanya selalu berhasil mencuri nyenyak saya
membuat saya terdiam lama
pun kadang, membuat saya terlihat bodoh; senyum-senyum sendiri menatap kejauhan
Ah, ingat potongan kalimat ini?
"kalau cinta, mengapa tidak kau katakan?"
"perempuan tidak pantas mengungkapkan."
Ya.
saya hanya bisa diam
menyelipkan namamu banyak-banyak di doa saya
mengirim banyak semoga tentang kita, di antara rinai yang menderas
berharap waktu akan berbaik hati menjawab
(tertawa getir)
saya hanya bisa tersenyum
tertunduk diam
saya selalu berharap, tiada pernah bertemu kecewa
tapi ah, apalah ini
mungkin kamu pun tak akan pernah sampai pada tumpukan-tumpukan tulisan ini.
Penghujung Maret, ketika
saya disesaki perihal kamu, Tuan.
Perempuan Teratai
Wednesday, October 22, 2014
Satu Waktu Nanti
Nanti,
saat kamu merajuk
saya akan buatkan secangkir jahe hangat
lalu meredakan rajukmu dengan candaan saya
yang mungkin akan terasa garing
Nanti,
saat kamu lelah selepas kerja
saya akan duduk rapi di sisimu
mendengar segala keluhmu
Nanti,
saat kamu merasa ingin berhenti
saya akan ikut menghentikan langkah kaki saya
menunggumu siap mengayuh langkah kembali
tanpa harus ada yang saling meninggalkan satu sama lain
tanpa harus ada yang saling mendahului
Sebab kita memulai langkah di waktu yang sama
dan akan terus meneruskan langkah bersama
terus begitu
Saturday, September 20, 2014
Kepada Tuan; Ini Sejatinya Ini Sederhana
Wednesday, June 11, 2014
I Swear
Thursday, May 1, 2014
Kita
Monday, April 7, 2014
Tidak Seharusnya
Wednesday, April 2, 2014
Di Bawah Langit Selepas Hujan
Belum Bersua Titik
Saturday, February 8, 2014
Setoples Rindu Untuk Kamu
Wednesday, December 18, 2013
Sajak Gerimis; tentang kita yang tak pernah menemui kata sudah
Terkadang di pelepah rintik aku temui bebayang matamu. Ada satu-satu rindu yang merembes ke sini. Di kepalamu mungkin terlalu banyak lahan kenangan tentang saya. Pun di kepala saya, sila kau tengok kemari.
Ada satu dua hal yang sulit kita mengerti, mengapa Tuhan yang duduk anggun di sana masih membiarkan kita tersakiti dengan jarak. Jarak yang jutaan. Rindu yang tertahan. Lalu banyak cerita yang belum terceritakan. Ada banyak hal yang tidak atau belum kita pahami. Banyak.
19:04 di sela rerintik
Monday, December 16, 2013
Tentang Ihwal Mengapa Saya Berpuisi
Setiap menatap cerobong matamu
selalu saja ada alasan mengapa saya terus berdiri di sini
memaku banyak puisi di dinding rumah yang rapuh
siapa tebak
enam puluh enam tahun kelak
tanpa sebab yang telak
kita lupa banyak
tak ada jejak
Setiap memandangi guratan wajahmu
selalu saja timbul ribuan alasan mengapa saya terus menunggu
walau tergugu
kaki saya tetap tak terganggu
menunggu
terus terpaku dan membeku
masih dengan bergumpal-gumpal puisi di tangan saya
Karena selalu banyak alasan
jika itu tentang kamu
-17:53 selepas kelas yang melelahkan-
Saturday, December 14, 2013
Izinkan Saya Menabung Rindu, Tuan!
Hujan masih jatuh satu-satu di atas atap tempat saya berbaring merindu
satu dua gumpal harap masih mengantri sesak di sudut rerintik
saya selalu suka mewarnai matamu dengan krayon warna bata
lalu mengarsir rambutmu dengan gradasi ungu tua
tak lupa, bibirmu dengan warna saga
saga yang menyala
Hujan masih jatuh satu-satu di tempat saya menabung resah
pelan-pelan saya sibakkan tirai malam yang semakin mengeriput
ada empat atau lima tawa jumawa di sana
lalu saya cukupkan
rindu ini tertangkupkan
tepat di menit ke delapan
saat mata saya bercumbu bersama kegelapan
Saya rindu. 14.
Juni
Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...
-
Yuhuuuu, jadi ini adalah satu label baru di blog saya, yang saya namai #RabuReview. Jadi, setiap hari Rabu, saya akan memosting satu ha...



