Showing posts with label My Dewliver. Show all posts
Showing posts with label My Dewliver. Show all posts

Monday, May 12, 2014

Kejora-Kejora Milikmu



(satu)
ada kejora-kejora
di mata jernih milikmu
yang mampu luruhkan
segala gelisah yang membanjir

(dua)
ada kejora-kejora
di senyum lancip milikmu
yang seketika hancurkan
kaktus berduri di dalam hati

(tiga)
ada kejora-kejora
di tiap lambaian aksaramu
yang seketika kuatkan
segala sumpah untuk tetap bersetia

(empat)
ada kejora-kejora
di setiap helai rambut pekatmu
yang tak ada sedetik
mampu hapuskan segala keringat menyoal betapa lelahnya saya berjalan

(lima)
ada kejora-kejora
di lekukan tirusmu
yang membuat sayang saya terhadapmu
mengunung tiada ampun

sebab begitu banyak kejora-kejora
yang saya tangkap dari apapun milik kamu

21:13. Tantangan Permainan Frasa dari Dewliver.

Thursday, May 30, 2013

Retak

Saya merasa kuat karena kamu. Kamu ibarat tiang yang tetap setia kokoh, saat semua tiang di sekeliling saya roboh tak tertolong. Kamu menguatkan saya. Kamu memberi saya udara lebih ketika saya diperangkap sesak. Kamu memberi saya ruang saat saya terkungkung sempit. Kamu. Hanya kamu. Tak ada spasi.

Maaf jika selama ini saya hanya menyusahkan. Pun dengan semua ocehan dan keluhan saya. Kini kamu ikut roboh. Saya mengirim pinta di langit agar Sang Pemilik Langit menghidupkan satu tiang yang lain untuk saya topangi. Saya berharap Dia mengirimkan saya tiang yang kuat dan menerima kelemahan saya dan memercayai segala kekuatan saya.

Saya tahu kamu lelah. Kamu penat dengan saya. Kamu melepas ikatan percaya yang selama ini kamu simpul kuat atas saya.

Terimakasih untuk semuanya. Saya berdoa semoga Dia hadirkan untukmu seseorang yang lain, yang bisa membuat kamu bahagia, bukan seperti saya yang hanya mengemis kekuatan dari kamu.

Nb: Postingan terakhir dengan label My Dewliver. :')

Wednesday, May 8, 2013

Pulang

Ini saatnya aku pulang
rumah yang kutuju itu kamu
pintu itu masih terbuka, kan?
aku ingin mengitari perputaranmu
meminjam cahayamu
membagi dukaku
dan menenun bahagiaku
bersamamu

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...