Showing posts with label My Story. Show all posts
Showing posts with label My Story. Show all posts

Thursday, April 14, 2016

Tentang Pekerjaan Baru



Yuhuuuuu, siapa di sini yang sudah menemukan pekerjaan impiannya? Atau masih dalam proses mencari? Ehm, atau masih deg-degan menanti ujian skripsi? Yang semangat, ya. Sekarang, saya mau cerita-cerita dulu soal pekerjaan baru saya. Yes, I found a new job. :)

Thursday, February 25, 2016

Image Tiang Listrik

Sudah Kamis aja, artinya ketemu lagi di #KamisBercerita. Heuheu, maafkan saya bolos di #RabuReview kemarin, di rumah chaos banget, sampai-sampai di grup whatsapp dikiranya saya udah mau manten. Etapi, amin sik. Ehehe.

cr

Thursday, February 18, 2016

Luwuk, Email di Plasa.com, Sampai AADC 2

Dokumen Pribadi


Kali ini saya akan bercerita soal Luwuk, kota yang setiap kali saya sebutkan, orang-orang selalu bilang, "Eh, Luwuk itu di mana? Ah, ya, dekat dari Makassar, kan?" *sigh*

Monday, September 15, 2014

Jika Suatu Hari Nanti



Ini seperti coretan di atas kertas tua, mungkin. Jika suatu ketika nanti, anak-anak kalian bertanya tentang sosok di foto kita bersama, siapa perempuan berkerudung panjang yang selalu tersenyum, semoga lisanmu dengan ringan akan menjawab bahwa saya adalah saudara kalian.

Mungkin, ini pula seperti pesan yang saya alirkan melalui seuntai benang pada kaleng susu tua, jika kelak kita tak punya masa lagi untuk bersua, semoga kalian masih menempatkan saya lekat pada memori kepala kalian; pun hati kalian.

Sebab hari ini, saya menemukan bahwa rumah kesekian saya adalah kalian; dimana saya selalu punya alasan untuk pulang, untuk kembali.

JJANG, Love ya! :***

Sunday, August 17, 2014

Posko JJANG!

"Friendship is born at that moment when one man says to another: "What! You too? I thought that no one but myself . . ." -C.S Lewis, The Four Loves


Friday, June 6, 2014

Juni Ke Dua Puluh; Ada Banyak Semoga di Kepala Saya

“The great thing about getting older is that you don't lose all the other ages you've been.” --Madeleine L'Engle

Friday, May 23, 2014

KKN, Baliho, dan Hotel Mewah

Agaknya pembaca akan mulai kebingungan membaca judul tulisan saya kali ini --halah--, yang mungkin saja bertanya-tanya apa korelasi diantara ketiganya. Muahaha, sederhana, ini tentang perjalanan saya hari ini bersama saudara saya, Nur Khofifah. Jadi ceritanya begini...

Krik...
Krik...
Krik...

Pagi ini, tertanggal dua puluh tiga Mei dua ribu empat belas, kami berdua memutuskan untuk pergi mengurus hal-hal yang berkaitan dengan KKN (bukan korupsi, kolusi, dan nepotisme ya! :p), berhubung tahun ini adalah giliran kami untuk melewati tahap tersebut. Maka tepat pukul sepuluh pagi, kami berangkat ke Gedung Phinisi untuk mengambil blangko formulir KKN di bagian kemahasiswaan dengan menaiki bentor dari kontrakan.

FYI, bagi yang belum pernah lihat penampakan Gd. Phinisi Universitas Negeri Makassar. :) (Pic Source: Google)

Thursday, May 8, 2014

Rerintik di Atas Kepala Saya



Saya menatap kalender dengan mata sempurna menyipit. Ada banyak deretan angka. Lamat-lamat, saya saksikan beberapa bulatan merah diperbuat oleh jemari saya sendiri. Banyak. Iya, bulatan tersebut berarti sesuatu yang paling sering saya sumpahi ketika bangun dari pembaringan; deadline. Entah mengapa, mahasiswa semester akhir seperti saya selalu terpapar sensitif jikalau bersua kata tersebut.

Banyak cerita di setiap bulatan kalender tersebut. Terkadang, di satu tanggal ganjil, ada bulatan merah dengan gambar hati di sudut angkanya. Artinya, itu adalah waktu dimana saya harus meluangkan diri bersama diri sendiri dengan berjalan menyusuri pantai hanya menggunakan sandal jepit lalu berselonjor kaki, membiarkan ombak menepuk-nepuk ujung kerudung saya. Hingga basah. Lalu tawa bahagia sempurna terbit dari wajah saya, meluapkan semua kekesalan pada bulatan lain di pertanggalan tadi.

Berturut-turut hari bergulir, banyak pintu yang harus saya buka. Dan pada setiap kunci yang berfungsi sebagai pembuka pintu-pintu banyak tadi, saya tidak boleh sering mengumpat bulatan-bulatan merah di pertanggalan yang saya tempel di dinding. Itu kata Mamak.

Lalu saya hapus segala resah biru yang saya senantiasa temui. Entah ketika tugas kuliah yang menumpuk tak kunjung selesai, atau penasehat akademik yang selalu rewel untuk dibawakan referensi banyak soal proposal penelitian saya. Iya, tidak jarang saya menangis. Mengeluarkan segala sesak yang mengantri di baik rongga dada saya. Tapi, ketika berbalik pada nasehat orang tua di kampung, semua kekesalan itu lenyap. Dan, satu keyakinan saya bahwa semangat saya tak akan pernah padam sampai toga bertahta manis di atas kepala saya.

14:11 dan masih mendapat tantangan permainan frasa dari Kak Adi.

Tuesday, May 6, 2014

Kenalan?


“Because never in my entire childhood did I feel like a child. I felt like a person all along―the same person that I am today.” --Orson Scott Card, Ender's Game


Saya tipe orang yang senang sekali memulai suatu percakapan dengan orang baru. Sekalipun penampakan luar orang tersebut garang, saya akan tetap memulai untuk membuat suatu perbincangan, seperti pada umumnya; perkenalan.

Kita; Kenangan yang Sulit untuk Menguap

 “Memory is the happiness of being alone.” - Lois Lowry, Anastasia Krupnik

Kenangan selalu berkelebat dalam kepala. Semacam lautan kisah yang mengumpul di tepi kepala, lalu menjelma menjadi ombak-ombak beriak yang indah, seraya memantul-mantul dengan suara yang indah.

Ah, saya ingin bercerita tentang kenangan saya bersama saudara-saudara hebat saya di Forum Lingkar Pena Makassar. Tiga hari kemarin, tepat tanggal 2-4 Mei 2014, kami mengadakan perekrutan anggota baru atau istilah kerennya Training of Writing and Recruitment di Leang-Leang Maros, Sulawesi Selatan. Ini adalah kali sekian saya menjadi panitia dalam kegiatan sejenis, dan saya tidak pernah merasa bosan apalagi penat dengan semuanya.

Sunday, April 20, 2014

Bagaimana Kita Mampu Melupakan?

“If you don't know history, then you don't know anything. You are a leaf that doesn't know it is part of a tree. ”  ― Michael Crichton



Handphone saya berderit pelan. Sebuah pesan pendek masuk, dari sahabat saya, Lista, yang menanyakan persiapan saya sudah sejauh mana. Iya, hari ini kami akan berkunjung ke Museum Kota Makassar yang sedang memperingati hari warisan dunia atau istilah kerennya World Heritage Day.

Iya, kamu tunggu saya di depan gerbang kompleks. Begitu kira-kira jawaban saya terhadap pesannya. Pukul lima belas kurang, kami berdua bertemu di gerbang. Setelah bersalaman kemudian cipika-cipiki seraya koprol keliling kompleks, kami kemudian bersiaga menuju tempat penyetopan angkutan umum. Di sinilah kejadian absurd pertama terjadi.

Monday, January 6, 2014

Confession 1: I am a Bolliwood Lovers

I am an Indian who trapped in Indonesian body. Ini postingan pertama saya di tahun 2014, dan saya harus mengakui bahwa saya adalah salah seorang penggemar berat film- film Bolliwood. Saya menyukai film Bolliwood dengan bahasa Hindi asli.
Saya memang sudah menjadi penggemar film India sejak duduk di bangku kelas lima SD. Bahkan, saya sudah hafal lirik-lirik lagu berbahasa Hindi sejak dulu. Pun sekarang, ketika orang mengutak-atik laptop atau handphone saya, maka mereka akan menemukan list lagu India yang bisa dikatakan cukup banyak.
Mama saya adalah penggemar drama India. Beliau hafal banyak nama pemain film India, idolanya tetap Shah Rukh Khan, begitu pula saya. Di sekumpulan keluarga, rata-rata kami adalah penikmat karya seni dan sastra, tapi sayalah yang paling tergila-gila dengan film India.
Saya selalu terpesona dengan setingan di film-film Bolliwood tersebut. Memang, kisah cintanya klasik, namun aktig memukau serta konflik yang tidak murahan menjadi daya tarik tersendiri buat saya.
Terakhir, jika sedang galau, setelah AlQuran tentunya, obat mujarab galau untuk diri saya adalah film-film India.

NB: Ah, ya, besok-besok saya akan membuat lebih banyak pengakuan lahi di sini.

Saturday, December 14, 2013

Karena Ini Kenangan, Bukan Kekonyolan

Kau ingat kan, saat rok merah kita sobek karena memanjat pagar sekolah?
Bukan, kita bukan bolos. Tapi takut kalau-kalau pantat kita disuntik oleh dokter. Pulang ke rumah, kita dimarahi habis-habisan oleh mamak kita, kita menangis sesenggukan setelah itu mamak lupa terhadap rasa marahnya sambil berlalu ke mesin jahit di ruang tengah untuk membenahi rok-rok itu.
Atau, kau masih ingat tidak saat kita berebut mencungkil buah asam tepat sehabis ashar?
Aku selalu berhasil mencungkil lebih banyak, karena tubuhku jauh lebih tinggi dan kayu yang kupakai jauh lebih panjang. Kau merajuk. Tapi setelah itu tak ada lagi kekesalan, kita duduk di bawah pohon asam bersama-sama menyantap buah asam. Aku selalu ingat bagaimana tampang kita saat buah yang terasa sangat asam masuk ke mulut. Lucu.
Masih ingat juga kan tentang permainan dende, lompat tali, petak umpet dan seseruan lainnya?
Selalu ada keriangan, kadang marah, lalu pulang dengan banjir peluh dan rasa kesal karena merasa dicurangi. Tapi esok di sekolah, kita lupa semuanya dan kembali merencanakan janji untuk bermain lagi di saat sore.
Pun saya juga selalu ingat, semoga kau pun ingat, soal bagaimana kita selalu menumbuk dedaunan dan tanah merah dan berlagak seperti chef.
Haha, sangat lucu. Setelah 'masakan' kita rampung, kita menjajakannya pada teman yang lain, yang dibayar menggunakan uang-uangan daun, lalu kita menyimpannya rapi di dompet-dompet bertuliskan nama toko emas. Setelah dedaunan itu kering, kita membuangnya lalu menggantinya demgan dedaunan baru.
Ada juga yang tak bisa saya lupa, yakni saat kita belajar mengaji di masjid setiap sore.
Kau, aku, kita, saat pelajaran sudah dimulai, selalu bolak-balik di tempat wudhu, alasan kita pada ustadzah karena wudhu kita batal, padahal bukan karena itu, melainkan karena kita ingin bermain air dan saling berciprat-cipratan di sana. Lalu selalu saja kita dipergoki ibu-ibu bermuka masam yang berteriak menyuruh kita kembali ke dalam masjid. Haha.

Sekarang saya, pun kau sudah jatuh dewasa. Tak ada lagi kekonyolan seperti di atas yang saya temui. Bahkan saat bertemu, kau dan teman-teman yang lain telah menjelma menjadi sangat mengesankan. Ketua ikatan badan mahasiswa inilah, koordinator divisi itulah, pemimpin redaksi harian kampus anulah. Wah, saya tidak pernah menyangka bahwa teman sepermainan kecil saya akan berubah menjadi semengesankan ini. Tak ada yang lebih indah selain bernostalgia kan katamu? Semoga besok-besok kita bisa berkumpul di satu lapangan lepas, sambil bermain dende lagi, Teman.

Ketika deru hujan masih setia menguarkan kenangan.
15:58

Monday, December 9, 2013

Hujan Silam, Hujan Dewasa

Hujan selalu berbisik
tentang kenangan-kenangan
tentang janji-janji masa depan
pun tentang keresahan

Kita selalu menari
dahulu di bawah tempias hujan
menjulurkan jari-jari kita di bawah atap mamak
kemudian berlarian pulang disebab dingin yang menyergap
lalu segelas teh hangat siap di bawah tudung saji
kemudian kita mengeluh tentang jari-jari yang mengerut atau bibir yang gemetaran
disusul tentang cerita keong lambat yang berhasil kita tangkap dan pindahkan dari rinai deras

Semenit dua menit kita menguap satu-satu
berlarian mengepung diri di atas seprai hangat berbau daster mamak
saya bercerita banyak
kau mengangguk sambil menyisiri rambut saya dengan jemari kekarmu
lalu mamak datang menggelitiki kaki kita satu persatu

Wahai, Bapak
hujan dewasa ini tak lagi ceria seperti hujanku silam
ada banyak derap beban di setiap rintihnya
tak ada lagi mandi di bawah deras hujan
tak ada lagi teh manis yang mengepul
tak hadir lagi gulatan canda di seprai biru tua milik kita bertiga
hanya mendengar suara kalian, bapak mamak
dari sebuah benda kotak hitam tanpa lilitan kabel
ditemani rinai tetes hujan
saya jauh
ribuan kilometer
mendekap rindu yang bersesakan
adakah pulang nanti bisa kita bermain hujan lagi, Bapak?

16.49 ketika Makassar diderap hujan dan tugas semakin mencekam menyentuh deadline

Tuesday, July 9, 2013

Kemungkinan

Ada banyak kemungkinan yang tumbuh subur di kepala saya. Kemungkinan bahwa usia rindu yang saya miliki untuk kamu, bahkan jauh lebih tua dari usia kita berdua. Kemungkinan bahwa  rasa rindu itu ingin segera dipensiunkan dengan penggenapan jumpa. Lalu kemungkinan tentang betapa rasa rindu itu belum menemui titik balik menjadi lipatan temu. Jauh. Terlalu jauh.

Saya ingin memangkas kemungkinan ketiga. Bahwa titik temu itu masih jauh. Tidak, detik-detik semakin mengalir deras menuju muara pertemuan kita, lipatan waktu terpenting dalam samudera kehidupan kita. Saya benci mengapa kemungkinan ketiga itu sangat susah untuk saya matikan dalam lahan kepala saya. Maksud hati ingin mematikannya dengan racun terbaik, namun waktu mengubahnya menjadi pupuk terhebat.

Saya rasa kemungkinan ketiga itu sudah semakin dewasa sekarang. Ia sudah paham bahwa kemungkinan keempat akan segera lahir. Ia tak bisa membantah apalagi menebas waktu. Kemungkinan keempat, bahwa rasa rindu itu akan ditebas habis oleh pertemuan yang tak pernah usai.

Malam. Oleh kamu. Dan untuk kamu.
S.A.F

Saturday, July 6, 2013

Perempuan Hujan

Ketika air mengetuk-ngetuk ibu jari
saya temui kamu di tepian nafas hujan
menggantung lemah di sisi yang memudar
lalu memghilang perlahan ditelan derap-derapnya
saya melukiskanmu dengan kuas tanpa tinta
lalu membiarkan molekul udara yang membentuk diri menjadi rupamu

Saya tak ingin melupa. Sama sekali tak
membiarkan wujudmu menguar seperti bebauan tanah basah
tak memusingkan kenanganmu yang menjamur seperti kunang-kunang cahaya

membiarkan kamu menebar benih subur di kepala saya adalah cara terbaik melenyapkan kamu dari semak ingatan saya

Malam. 22.01 dengan segenap sesak

Super Quality Time

Sudah sepekan ini saya tidak berkeliling di dunia maya, terkait kepulangan saya di rumah. Saya benar-benar ingin menghabiskan waktu liburan dan mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat serta hangat bersama keluarga.

Saat sampai di rumah, sehari setelahnya, saya mematikan koneksi internet smartphone saya. Saya bertekad untuk fokus mengisi waktu liburan murni dengan keluarga. Maka mulailah saat itu, saya menghabiskan waktu dengan bereksperimen masakan ini itu di dapur (foto akan menyusul), berkebun dengan Mama tercinta, latihan debat bahasa Inggris dengan Bapak yang selama ini saya rindukan, bermain full time bersama ponakan-ponakan tercinta, menikmati panorama hamparan laut setiap matahari terbit dan terbenam bersama Mama, serta banyak lagi.

Liburan masih menyisakan banyak detik. Saya harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

Sungguh, tak ada tempat seindah rumah. :')

Friday, June 21, 2013

S.A.F

Kurang lebih sudah enam ratus hari saya mengenal kamu. Lipatan detik sudah jatuh menekuk jauh di bawah kaki saya. Entah, sudah berapa kenangan yang terlampaui. Sudah berapa banyak cerita yang tergerus di kaki-kaki detik. Saya, di pagi ini, takjub menatap embun yang membiaskan perkenalan kita.

Kita punya awalan yang tak tertebak. Pun mungkin akhir yang belum bisa diterka. Saya dan kamu yakin, bahwa ketika hari melahirkan berjuta kawasan subur untuk rindu, maka pastilah ia telah mengandung banyak lahan untuk pertemuan. Saya dan kamu tahu pasti, ketika rindu menggeruskan rasa sakit saat ini, pasti ia telah menyediakan obat jumpa untuk menawar segala perih.

Biarkan awan itu meletup-letup di langit
toh, pada akhirnya kita jumpa dengan nama kasih

S.A.F

Thursday, June 20, 2013

Cerita Perempuan Senja

Kita berlalu menapaki pematangan waktu. Menjejakkan langkah seribu menebas potongan detik. Kamu dan saya paham. Sangat paham. Akan ada badai hadir di menit-menit setelah ini. Namun, kamu dan saya yakin. Sangat yakin. Bahwa ada sesuatu yang mengatas namakan diri dengan cinta, yang mampu merobek badai-badai itu.

Kita seperti kalut. Apakah ini salah? Kamu dan saya menggeleng pasti. Ini tidak salah. Hanya sedikit ketidakbiasaan dari orang sekeliling kita. Mereka belum paham. Belum menangkap apa sesungguhnya yang sedang kita centangkan. Kamu lelah? Saya tidak. Jika kamu bertanya dengan pertanyaan yang sama, maka saya akan menggeleng kuat dan berkata tidak dengan yakinnya seyakin saat saya ditawari neraka.

Saya tahu, kita sedang waspada menanti cercah saga esok hari. Entah bagaimana sampul akhir cerita kita. Tidak ada yang bisa menebak. Namun saya akan pastikan, hanya ada dua akhir dari kisah kita; kamu tersenyum pada saya dan saya bahagia, atau saya tersenyum padamu dan kamu bahagia.

Perempuan senja yang kamu cintai

Hyuga Kio

Monday, June 17, 2013

Kekata adalah Kita

Mengapa?
sebab senyum kita adalah kekata
tawa kita mengartikan sebab
cerita kita adalah ungkapan
kebersamaan kita menguak kisah

Lipatan waktu berbaik hati mempertemukan kita. Di detik kesekian. Kita bersahabat. Menjalin cerita bersama. Detik bergulir. Ada-ada saja cerita yang kita lukis. Bahagia iya. Sedih tentu saja ada. Marahan? Jangan tanya lagi kalau soal itu. Ah, terlalu banyak coretan yang telah kita buat.

Kekata adalah kita. Sempurna deretan abjad yang telah mencoreti lembar persaudaraan kita.

Kemudian, apa kata kau? Saya orangnya kekanak-kanakan. Haha. Memang. Saya masih labil. Jujur, saya iri padamu. Bagaimana bisa kau menyelesaikan suatu pukulan masalah dengan begitu dewasanya? Bagaimana? Saya belum bisa seperti itu. Jujur, selama ini saya belajar banyak darimu. Terlalu banyak hal-hal yang telah saya pelajari dari kau.

Terimakasih. Terimakasih telah menjadi sahabat saya hingga detik ini, dan beribu detik yang akan datang. Terimakasih karena telah menghadiahi saya persaudaraan hebat ini. Semoga Dia tak hanya berbaik hati mempertemukan kita di dunia ini, namun juga di syurgaNya kelak.

Kau adalah cinta di setiap hembusan detik
hadiah cantik di tiap lipatan doa
kita adalah persahabatan yang tak pernah usai

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...