Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Wednesday, May 13, 2015

Tari; Perempuan Penuh Senyum yang Pernah Saya Temui

"If you see a friend without the smile; give him one of yours!" --Anonymous--


Ada banyak hal-hal sederhana di dunia ini yang bisa membuat saya jatuh cinta, salah satunya senyum yang lahir dari sabit-sabit bibir seseorang.

Sunday, April 5, 2015

Aku(t)



Namanya Nurul
gadis empatbelas tahun
wajahnya kebas merah, seperti cemas
cemas menanti seseorang di perempatan jalan
sebentar-sebentar, dia mengusap wajahnya dengan selembar tisu
lalu menoleh berulang-ulang pada jam tangannya yang melingkar
kepalanya dipenuhi tanya
kapan?
akankah dia datang?
bukankah kemarin dia sudah berjanji untuk bertemu sore ini?
lalu bersama-sama pergi menyaksikan pertandingan voli di lapangan kampung sebelah
kemudian mengapa dia belum jua datang?
dua jam berlalu
kakinya mulai keram
hatinya perih
tersayat
matanya mulai panas membendung air
kemudian dia berbalik
memutuskan menghapus ingatan tentangnya
lalu menelan bulat-bulat sesak sakit yang dia rasakan
kembali pulang

Tantangan permainan frasa dari Dik Yuyung.

Tuesday, March 31, 2015

Tuan dengan Mata Penuh dan Kacamata Hitamnya



Tuan,
pagi ini saya berhasil mencuri pandang ke arahmu
diam-diam memerhatikan gurat senyummu yang selalu memesona
walau terhitung jarak waktu yang begitu senjang, sampai kita dipertemukan kembali hari ini
ini puisi?
bukan.
saya selalu tidak berhasil merangkai kata-kata indah buatmu
selalu gagal.
entah di alinea ke berapa, kepala saya bertemu buntu
kamu terlalu indah untuk saya gambarkan dalam jajaran frasa
saya hanya bisa membenturkan ingatan saya pada bingkai kotak kacamata hitammu,
pada wajah sawo matangmu,
pada senyum ramahmu,
pada suara beratmu saat menyapa saya,
pada pesan-pesan pendekmu,
pada rambut legam panjangmu,
dan kesemuanya selalu berhasil mencuri nyenyak saya
membuat saya terdiam lama
pun kadang, membuat saya terlihat bodoh; senyum-senyum sendiri menatap kejauhan

Ah, ingat potongan kalimat ini?
"kalau cinta, mengapa tidak kau katakan?"
"perempuan tidak pantas mengungkapkan."

Ya.
saya hanya bisa diam
menyelipkan namamu banyak-banyak di doa saya
mengirim banyak semoga tentang kita, di antara rinai yang menderas
berharap waktu akan berbaik hati menjawab


(tertawa getir)
saya hanya bisa tersenyum
tertunduk diam
saya selalu berharap, tiada pernah bertemu kecewa
tapi ah, apalah ini
mungkin kamu pun tak akan pernah sampai pada tumpukan-tumpukan tulisan ini.


Penghujung Maret, ketika
saya disesaki perihal kamu, Tuan.


Perempuan Teratai


Saturday, May 10, 2014

18 Sampai 19



18:00. Langit merona. Banyak gradasi. Cokelat tanah, merah saga, ungu magenta, juga kuning kenari. Ini kesenangan kita. Berselonjor kaki di tanah lapang. Menikmati persembahan langit ditemani suara-suara merdu seluruh menara dari setiap sudut. Bergegas, sayang kita jatuh pada langit. Langit dengan sejuta cantik.

18:20. Kita masih berasyik masyuk menatap langit. Tidak menghiraukan panggilan mamak yang berteriak kencang mengancam pukulan sapu lidi jika tidak segera ke surau. Shalat dan mengaji. Biar kita tak jadi makhluk keji, ucap mamak. Tuhan mendengarkan. Dia turunkan hujan yang menderas, membuat kita terbirit lari menuju rumahNya. Tawa lepas.

18:50. Sekembalinya dari surau, kita diminta mengganti pakaian. Dengan pakaian terbaik. Sedang ada hajatan di kampung sebelah. Marawis mengalun bergema. Opor ayam pasti ada, kesukaanmu. Sambal petai juga pasti tersedia, kesukaanku. Kita bersorak. Berlomba berebut naik ke sepeda tua bapak.

19:00. Semua anak lelaki berkumpul. Sebaya. Kita berlomba naik ke genteng milik Mak Nini, demi seguhan pemandangan yang lebih mengundang takjub. Ada pesta kembang api dari kota. Di atas sini, kita bisa menyaksikan lebih. Semua tertawa, sambil mengunyah kacang goreng di genggaman.

19:40. Bapak berteriak lantang. Waktunya pulang. Kita enggan beranjak, namun kembali diingatkan, shalat isya belum kita tunaikan. Kemudian berebut lagi naik di sadel belakang sepeda. Tertawa-tawa. Kepala kita penuh cerita, bekal obrolan di kelas besok.

21:20. Tantangan permainan frasa dari Kak Adi.


Thursday, May 8, 2014

Duduk dan Dengarkan Kata Hati Saya



"Saya sakit!" Kamu berujar pelan. Mata bulatmu menggambarkan keresahan. Kulitmu serupa warna mata pensil yang sering kita gunakan mengarsir bulatan lembar jawaban.

Izinkan saya duduk di dekatmu, mengusap jemari gemuk putihmu, lalu lirih berdoa dalam. Semoga kamu selalu baik. Senantiasa dalam kebajikan. Sekarang sedang hujan, kan? Ini waktu yang tepat buat saya panjatkan pinta kepada Sang Penguasa Langit.

"Saya ingin buah manggis. Kulitnya jauh lebih baik." Kamu menatap dengan sorot pinta. Saya angguk, tunggu hingga tiba musim panen. Saya akan berikan dengan akarnya di telapakmu, agar kamu bisa menanamnya di belakang rumahmu yang bertanah gembur itu. Dengan ketentuan, kamu harus sehat. Tak sakit. Kamu harus kuat. Tak lemah.

"Saya memberimu buku saja dulu, ya?" Saya menatap menawarkan. Kamu tersenyum. Mengangguk sekali dua kali. Rambut ombakmu bergoyang lincah. Buku gambar, katamu. Ah, bukannya kamu tak pandai menggambar? Kamu halus menggeleng. Kamu ingin menggambar matahari yang terbit dari balik gunung yang tua menghijau. Iya. Saya akan membawakannya untukmu, dengan ketentuan kamu harus tegar. Tak boleh gentar. Kamu harus teguh. Tak boleh jatuh.

Kita senantiasa berdoa, dengan segala sifat rendah hati. Pun, ketika Dia belum membuka lembaran surat yang berisi doa kita, tetaplah menjaga prasangka baik kita terhadapNya.

22:28, permainan frasa dari Nur.

Hal-Hal yang Berdesakan di Batok Kepala Saya



Berapa usiamu sekarang?
masih menulis angka satu di awalannya?
atau dua?
tiga?
ah, sudahlah, begitu banyak orang yang terlalu peka terhadap urusan tanya-menanya usia
pun saya, berhitung bulan, saya akan menulis angka dua di depan aksara usia saya
lalu,
banyak hal yang berdesakan di dalam tempurung kepala

Begitu banyak
tentang kapan saya akan melahirkan buku solo dan memajangnya di rak buku best seller
tentang kapan saya akan berpendar merona usai seorang lelaki berikrar akad di depan Bapak
tentang kapan saya akan bersemu merah saat bibir-bibir mungil memanggil saya dengan sebutan ummi
tentang kapan saya akan tersenyum bangga saat melihat jundi-jundi kecil saya menjadi juara kelas
tentang kapan saya bisa mematikan segala ketakutan saya terhadap selain Dia

tentang banyak hal
yang mendesak pori-pori otak saya

19:24. Tantangan manis permainan frasa dari Kak Syirah.

Lelaki Bernama Terbit



Ada banyak jingga berpendar saga di bola matamu. Dan saya yakin, itu cinta. Malu-malu, kamu bersuara lirih, menyebutkan kata yang harus saya ucap ketika ingin menyapamu. Nama? Iya, kamu mengucap nama. Terbit. Itu namamu. Dan, bagi saya terbit adalah indah, sebab kawanan iblis serupa terbirit, karena ketika terbit, banyak suara pengangunganNya yang tergemakan di seluruh menara.

Ah, Terbit. Kamu indah. Serupa bola-bola salju berwarna putih yang semakin membesar, ada pula rasa itu menyusup halus dalam dada saya. Beralun indah, serupa menetes di genting perasa saya. Boleh saya ikat hatimu di sekat ulu saya? Tidak, saya tak akan mengikatnya dengan tali rafia warna-warni, tapi saya akan mengikatnya dengan bersetia di sisimu, seperti setianya pelangi ketika hujan mereda.

19:10. Tantangan permainan frasa dari Kak Irna.

Monday, April 28, 2014

Coretan 22:30

Malam sudah merayap tua. Pun kamu, masih setia membaris kekata. Pejam kataku, kamu lelah, kan? Pejam. Pejam saja.
Tak ada harap di sini. Pun kamu, saya harap tidak ada. Saya terlampau takut kalau kita bertumbuh harap. Kepala saya, berturut-turut hati saya, sudah terpenuhi.

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...