Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Sunday, May 24, 2015

Teruntuk kalian; Dua "Stroberi Berbeda" yang Telah Dia Toreh Berdampingan

"A successfull marriage requires falling in love many times, always with the same person." --Mignon Mclaughlin--



Pagi tadi rerintik memeluk bumi, sepersekian waktu kemudian, kalian akan saling berikrar sehidup semati; hingga jannahNya. Doa melangit deras teruntuk kalian berdua; jiwa-jiwa penuh cinta yang sedang menuai semi.

Wednesday, May 13, 2015

Tari; Perempuan Penuh Senyum yang Pernah Saya Temui

"If you see a friend without the smile; give him one of yours!" --Anonymous--


Ada banyak hal-hal sederhana di dunia ini yang bisa membuat saya jatuh cinta, salah satunya senyum yang lahir dari sabit-sabit bibir seseorang.

Monday, April 6, 2015

Untukmu, Shalihah



Amma...
menyemai usia duapuluhdua dirimu kini
banyak doa yang bertebaran di langit-langit kamar saya
di luar masih hujan
mengetuk-ngetuk jendela
setiap bulirnya
ada doa yang melangit
membuncah dari bibir

Amma...
berbilang tahun saya mengenalmu
kamu
menjadi satu dari sekian hadiah yang Dia berikan buat saya
kemudian
banyak semoga yang melesat buatmu
semoga
semoga
semoga
semoga

kebaikan menyertai setiap hentak langkahmu
berkah menyemai di setiap ucap lisanmu
bahagia memancar dari setiap tatap irismu
syukur mengalir dari setiap perolehanmu

semoga pula
ini bukan bilangan usia terakhir milikmu, dimana saya menjadi saudaramu
iya, kan?

semoga pula
kamu semakin keren


Teruntuk saudariku tercinta, Rahma Afnan, tetaplah bertumbuh menjadi gadis yang menyenangkan.


Thursday, April 2, 2015

Selaksa Doa Teruntuk Gadis Merah Jambu


"Dan, pada akhirnya kamu bakal paham, bahwa, saudara bukan berarti harus lahir dari rahim yang sama. Bahasa tawa pun terkadang, bisa menjadi semacam pengikat." --Kio--


Sunday, August 17, 2014

Posko JJANG!

"Friendship is born at that moment when one man says to another: "What! You too? I thought that no one but myself . . ." -C.S Lewis, The Four Loves


Saturday, May 10, 2014

Coba Ingat



ingat sepuluh tahun silam?
saat kita masih berkepang dua
memakai baju terusan penuh corak warna
diselimuti ketika ingin beranjak lelap?
lalu berpura-pura memejam mata
ketika lampu dimatikan dan pintu ditarik menutup
kita tertawa tertahan
lalu nekat melanjutkan permainan bongkar pasang

ingat sepuluh tahun silam?
saat seragam baru sejenak kita tanggalkan
segera kita duduk bersila di lantai
bermain bola bekel sambil memunguti biak-biak aneka warna
lalu tertawa sumringah
ocehan tentang makan siang kita abaikan

ingat sepuluh tahun silam?
saat hujan turun menderas
kita berlari bahagia di bawah atap
mandi sepuasnya
sambil bersenandung soundtrack kartun favorit
hingga gigil
dingin memanggil
lalu masuk terbirit
ada teh manis hangat di meja bundar

ingat sepuluh tahun silam?
saat pulang kursus sempoa
kita berebut memutar vcd
lagu Maissy andalan kita
bernyanyi dengan suara cempreng
membangunkan adik bayi yang sedang lelap di sebelah rumah

ingat sepuluh tahun silam?
saat kita masih berseragam rupa warna bendera
saat kita masih berbedak tak rata
saat kita masih senang main lompat karet
saat kita masih setia bermain gundu
saat kita masih sering menumbuk tanah cokelat selaiknya koki hebat
saat kita masih lugu nan polos

semoga kamu ingat
sebab saya tak pernah jumpa lupa atas itu

21:41. Tantangan permainan frasa dari Kak Nahla.

Saturday, December 14, 2013

Karena Ini Kenangan, Bukan Kekonyolan

Kau ingat kan, saat rok merah kita sobek karena memanjat pagar sekolah?
Bukan, kita bukan bolos. Tapi takut kalau-kalau pantat kita disuntik oleh dokter. Pulang ke rumah, kita dimarahi habis-habisan oleh mamak kita, kita menangis sesenggukan setelah itu mamak lupa terhadap rasa marahnya sambil berlalu ke mesin jahit di ruang tengah untuk membenahi rok-rok itu.
Atau, kau masih ingat tidak saat kita berebut mencungkil buah asam tepat sehabis ashar?
Aku selalu berhasil mencungkil lebih banyak, karena tubuhku jauh lebih tinggi dan kayu yang kupakai jauh lebih panjang. Kau merajuk. Tapi setelah itu tak ada lagi kekesalan, kita duduk di bawah pohon asam bersama-sama menyantap buah asam. Aku selalu ingat bagaimana tampang kita saat buah yang terasa sangat asam masuk ke mulut. Lucu.
Masih ingat juga kan tentang permainan dende, lompat tali, petak umpet dan seseruan lainnya?
Selalu ada keriangan, kadang marah, lalu pulang dengan banjir peluh dan rasa kesal karena merasa dicurangi. Tapi esok di sekolah, kita lupa semuanya dan kembali merencanakan janji untuk bermain lagi di saat sore.
Pun saya juga selalu ingat, semoga kau pun ingat, soal bagaimana kita selalu menumbuk dedaunan dan tanah merah dan berlagak seperti chef.
Haha, sangat lucu. Setelah 'masakan' kita rampung, kita menjajakannya pada teman yang lain, yang dibayar menggunakan uang-uangan daun, lalu kita menyimpannya rapi di dompet-dompet bertuliskan nama toko emas. Setelah dedaunan itu kering, kita membuangnya lalu menggantinya demgan dedaunan baru.
Ada juga yang tak bisa saya lupa, yakni saat kita belajar mengaji di masjid setiap sore.
Kau, aku, kita, saat pelajaran sudah dimulai, selalu bolak-balik di tempat wudhu, alasan kita pada ustadzah karena wudhu kita batal, padahal bukan karena itu, melainkan karena kita ingin bermain air dan saling berciprat-cipratan di sana. Lalu selalu saja kita dipergoki ibu-ibu bermuka masam yang berteriak menyuruh kita kembali ke dalam masjid. Haha.

Sekarang saya, pun kau sudah jatuh dewasa. Tak ada lagi kekonyolan seperti di atas yang saya temui. Bahkan saat bertemu, kau dan teman-teman yang lain telah menjelma menjadi sangat mengesankan. Ketua ikatan badan mahasiswa inilah, koordinator divisi itulah, pemimpin redaksi harian kampus anulah. Wah, saya tidak pernah menyangka bahwa teman sepermainan kecil saya akan berubah menjadi semengesankan ini. Tak ada yang lebih indah selain bernostalgia kan katamu? Semoga besok-besok kita bisa berkumpul di satu lapangan lepas, sambil bermain dende lagi, Teman.

Ketika deru hujan masih setia menguarkan kenangan.
15:58

Monday, June 17, 2013

Kekata adalah Kita

Mengapa?
sebab senyum kita adalah kekata
tawa kita mengartikan sebab
cerita kita adalah ungkapan
kebersamaan kita menguak kisah

Lipatan waktu berbaik hati mempertemukan kita. Di detik kesekian. Kita bersahabat. Menjalin cerita bersama. Detik bergulir. Ada-ada saja cerita yang kita lukis. Bahagia iya. Sedih tentu saja ada. Marahan? Jangan tanya lagi kalau soal itu. Ah, terlalu banyak coretan yang telah kita buat.

Kekata adalah kita. Sempurna deretan abjad yang telah mencoreti lembar persaudaraan kita.

Kemudian, apa kata kau? Saya orangnya kekanak-kanakan. Haha. Memang. Saya masih labil. Jujur, saya iri padamu. Bagaimana bisa kau menyelesaikan suatu pukulan masalah dengan begitu dewasanya? Bagaimana? Saya belum bisa seperti itu. Jujur, selama ini saya belajar banyak darimu. Terlalu banyak hal-hal yang telah saya pelajari dari kau.

Terimakasih. Terimakasih telah menjadi sahabat saya hingga detik ini, dan beribu detik yang akan datang. Terimakasih karena telah menghadiahi saya persaudaraan hebat ini. Semoga Dia tak hanya berbaik hati mempertemukan kita di dunia ini, namun juga di syurgaNya kelak.

Kau adalah cinta di setiap hembusan detik
hadiah cantik di tiap lipatan doa
kita adalah persahabatan yang tak pernah usai

Thursday, May 30, 2013

Kamu = Obat

Tak terasa sudah dua tahun kita bersahabat. Sahabat? Bukan, kita bersaudara. Mengenal kamu di awal-awal saya melepas putih abu-abu saya. Merasai persaudaraan manis bersama kamu adalah salah satu dari sekian banyak hadiah indah dari Tuhan, dan salah satu dari sedikit bingkisan hebat dariNya.

Mimpi? Ah, kita berdua adalah pemimpi ulung. Kaki-kaki langit pun sudah meneguk mimpi-mimpi kita. Apa katamu? Raja Ampat, Jepang, Indonesia Open, dan, hei, banyak sekali mimpi kita berdua yang sudah tercatat dalam agenda otak saya. Tulisan kecil ini akan meledak jika harus saya sebutkan semua.

Kamu adalah obat. Kamu tahu penawar ketika saya sedih. Kamu paham pengurang rasa sakit ketika saya 'nyeri'. Kamu mafhum akan apapun yang saya rasakan.

"Jangan pusing lagi ya, saya sedih ketika kamu juga sedih." Kamu berujar perlahan sambil menepuk bahu saya. Saya menanggapinya dengan menonjok bahu kamu dan berkata kamu sok tahu. Hei, padahal dalam hati, saya memeluk dan mengikat kuat simpul kata-katamu tadi.

Saya bangga memunyai sahabat seperti kamu. Saya bahagia memunyai persaudaraan seperti ini. Kita adalah sahabat terkeren dunia akhirat!

Untuk Lista, the ugliest friend that I ever had. Hoho.
Peluk cium dari saudarimu yang cantik, Kio.
Uhibbukifillah! :')

Monday, May 27, 2013

Memupuk Rindu

Di ruang tak berparas kita dipertemukan
kaki waktu melangkah mencatat nama kita
menyatukan huruf nama kita dalam desing baris
mengabarkan kita akan perjumpaan yang tak bersua

Ibu detik memanggil kita dalam satu helaan
menjahit kisah kita dalam satu nampan
kita tak pernah mengenal perjumpaan
lipatan masa belum berkenan memberikan

Ukhti...
cukupkan buih rindu ini
jangan tangkupkan ia dalam mangkuk sepi
genapkan ia dengan berbagi
agar tak ada pedih, berkurang sedih

Saya lelah di sini
memupuk rindu dalam sesak
mengharapkan temu wajah kalian
merindui bau pertemuan dengan kalian
mengeja bagaimana rasa tertawa bersama kalian
menebak bagaimana bahagia saling berangkul dengan kalian

Ukhti...
berjanjilah kelak untuk jumpa
tak dapat di dunia
mari kita tunai temu di syurga

Saya mencintai kalian karena Sang Maha Pencinta! :')

18.32 - Tengah disesaki rindu - Didedikasikan untuk semua akhwatfilah @pedulijilbab di seluruh pelosok tanah air

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...