Sunday, May 24, 2015
Teruntuk kalian; Dua "Stroberi Berbeda" yang Telah Dia Toreh Berdampingan
Wednesday, May 13, 2015
Tari; Perempuan Penuh Senyum yang Pernah Saya Temui
Monday, April 6, 2015
Untukmu, Shalihah
Thursday, April 2, 2015
Selaksa Doa Teruntuk Gadis Merah Jambu
Sunday, August 17, 2014
Posko JJANG!
Saturday, May 10, 2014
Coba Ingat
saat kita masih berkepang dua
memakai baju terusan penuh corak warna
diselimuti ketika ingin beranjak lelap?
lalu berpura-pura memejam mata
ketika lampu dimatikan dan pintu ditarik menutup
kita tertawa tertahan
lalu nekat melanjutkan permainan bongkar pasang
ingat sepuluh tahun silam?
saat seragam baru sejenak kita tanggalkan
segera kita duduk bersila di lantai
bermain bola bekel sambil memunguti biak-biak aneka warna
lalu tertawa sumringah
ocehan tentang makan siang kita abaikan
ingat sepuluh tahun silam?
saat hujan turun menderas
kita berlari bahagia di bawah atap
mandi sepuasnya
sambil bersenandung soundtrack kartun favorit
hingga gigil
dingin memanggil
lalu masuk terbirit
ada teh manis hangat di meja bundar
ingat sepuluh tahun silam?
saat pulang kursus sempoa
kita berebut memutar vcd
lagu Maissy andalan kita
bernyanyi dengan suara cempreng
membangunkan adik bayi yang sedang lelap di sebelah rumah
ingat sepuluh tahun silam?
saat kita masih berseragam rupa warna bendera
saat kita masih berbedak tak rata
saat kita masih senang main lompat karet
saat kita masih setia bermain gundu
saat kita masih sering menumbuk tanah cokelat selaiknya koki hebat
saat kita masih lugu nan polos
semoga kamu ingat
sebab saya tak pernah jumpa lupa atas itu
21:41. Tantangan permainan frasa dari Kak Nahla.
Saturday, December 14, 2013
Karena Ini Kenangan, Bukan Kekonyolan
Kau ingat kan, saat rok merah kita sobek karena memanjat pagar sekolah?
Bukan, kita bukan bolos. Tapi takut kalau-kalau pantat kita disuntik oleh dokter. Pulang ke rumah, kita dimarahi habis-habisan oleh mamak kita, kita menangis sesenggukan setelah itu mamak lupa terhadap rasa marahnya sambil berlalu ke mesin jahit di ruang tengah untuk membenahi rok-rok itu.
Atau, kau masih ingat tidak saat kita berebut mencungkil buah asam tepat sehabis ashar?
Aku selalu berhasil mencungkil lebih banyak, karena tubuhku jauh lebih tinggi dan kayu yang kupakai jauh lebih panjang. Kau merajuk. Tapi setelah itu tak ada lagi kekesalan, kita duduk di bawah pohon asam bersama-sama menyantap buah asam. Aku selalu ingat bagaimana tampang kita saat buah yang terasa sangat asam masuk ke mulut. Lucu.
Masih ingat juga kan tentang permainan dende, lompat tali, petak umpet dan seseruan lainnya?
Selalu ada keriangan, kadang marah, lalu pulang dengan banjir peluh dan rasa kesal karena merasa dicurangi. Tapi esok di sekolah, kita lupa semuanya dan kembali merencanakan janji untuk bermain lagi di saat sore.
Pun saya juga selalu ingat, semoga kau pun ingat, soal bagaimana kita selalu menumbuk dedaunan dan tanah merah dan berlagak seperti chef.
Haha, sangat lucu. Setelah 'masakan' kita rampung, kita menjajakannya pada teman yang lain, yang dibayar menggunakan uang-uangan daun, lalu kita menyimpannya rapi di dompet-dompet bertuliskan nama toko emas. Setelah dedaunan itu kering, kita membuangnya lalu menggantinya demgan dedaunan baru.
Ada juga yang tak bisa saya lupa, yakni saat kita belajar mengaji di masjid setiap sore.
Kau, aku, kita, saat pelajaran sudah dimulai, selalu bolak-balik di tempat wudhu, alasan kita pada ustadzah karena wudhu kita batal, padahal bukan karena itu, melainkan karena kita ingin bermain air dan saling berciprat-cipratan di sana. Lalu selalu saja kita dipergoki ibu-ibu bermuka masam yang berteriak menyuruh kita kembali ke dalam masjid. Haha.
Sekarang saya, pun kau sudah jatuh dewasa. Tak ada lagi kekonyolan seperti di atas yang saya temui. Bahkan saat bertemu, kau dan teman-teman yang lain telah menjelma menjadi sangat mengesankan. Ketua ikatan badan mahasiswa inilah, koordinator divisi itulah, pemimpin redaksi harian kampus anulah. Wah, saya tidak pernah menyangka bahwa teman sepermainan kecil saya akan berubah menjadi semengesankan ini. Tak ada yang lebih indah selain bernostalgia kan katamu? Semoga besok-besok kita bisa berkumpul di satu lapangan lepas, sambil bermain dende lagi, Teman.
Ketika deru hujan masih setia menguarkan kenangan.
15:58
Monday, June 17, 2013
Kekata adalah Kita
Mengapa?
sebab senyum kita adalah kekata
tawa kita mengartikan sebab
cerita kita adalah ungkapan
kebersamaan kita menguak kisah
Lipatan waktu berbaik hati mempertemukan kita. Di detik kesekian. Kita bersahabat. Menjalin cerita bersama. Detik bergulir. Ada-ada saja cerita yang kita lukis. Bahagia iya. Sedih tentu saja ada. Marahan? Jangan tanya lagi kalau soal itu. Ah, terlalu banyak coretan yang telah kita buat.
Kekata adalah kita. Sempurna deretan abjad yang telah mencoreti lembar persaudaraan kita.
Kemudian, apa kata kau? Saya orangnya kekanak-kanakan. Haha. Memang. Saya masih labil. Jujur, saya iri padamu. Bagaimana bisa kau menyelesaikan suatu pukulan masalah dengan begitu dewasanya? Bagaimana? Saya belum bisa seperti itu. Jujur, selama ini saya belajar banyak darimu. Terlalu banyak hal-hal yang telah saya pelajari dari kau.
Terimakasih. Terimakasih telah menjadi sahabat saya hingga detik ini, dan beribu detik yang akan datang. Terimakasih karena telah menghadiahi saya persaudaraan hebat ini. Semoga Dia tak hanya berbaik hati mempertemukan kita di dunia ini, namun juga di syurgaNya kelak.
Kau adalah cinta di setiap hembusan detik
hadiah cantik di tiap lipatan doa
kita adalah persahabatan yang tak pernah usai
Thursday, May 30, 2013
Kamu = Obat
Tak terasa sudah dua tahun kita bersahabat. Sahabat? Bukan, kita bersaudara. Mengenal kamu di awal-awal saya melepas putih abu-abu saya. Merasai persaudaraan manis bersama kamu adalah salah satu dari sekian banyak hadiah indah dari Tuhan, dan salah satu dari sedikit bingkisan hebat dariNya.
Mimpi? Ah, kita berdua adalah pemimpi ulung. Kaki-kaki langit pun sudah meneguk mimpi-mimpi kita. Apa katamu? Raja Ampat, Jepang, Indonesia Open, dan, hei, banyak sekali mimpi kita berdua yang sudah tercatat dalam agenda otak saya. Tulisan kecil ini akan meledak jika harus saya sebutkan semua.
Kamu adalah obat. Kamu tahu penawar ketika saya sedih. Kamu paham pengurang rasa sakit ketika saya 'nyeri'. Kamu mafhum akan apapun yang saya rasakan.
"Jangan pusing lagi ya, saya sedih ketika kamu juga sedih." Kamu berujar perlahan sambil menepuk bahu saya. Saya menanggapinya dengan menonjok bahu kamu dan berkata kamu sok tahu. Hei, padahal dalam hati, saya memeluk dan mengikat kuat simpul kata-katamu tadi.
Saya bangga memunyai sahabat seperti kamu. Saya bahagia memunyai persaudaraan seperti ini. Kita adalah sahabat terkeren dunia akhirat!
Untuk Lista, the ugliest friend that I ever had. Hoho.
Peluk cium dari saudarimu yang cantik, Kio.
Uhibbukifillah! :')
Monday, May 27, 2013
Memupuk Rindu
Di ruang tak berparas kita dipertemukan
kaki waktu melangkah mencatat nama kita
menyatukan huruf nama kita dalam desing baris
mengabarkan kita akan perjumpaan yang tak bersua
Ibu detik memanggil kita dalam satu helaan
menjahit kisah kita dalam satu nampan
kita tak pernah mengenal perjumpaan
lipatan masa belum berkenan memberikan
Ukhti...
cukupkan buih rindu ini
jangan tangkupkan ia dalam mangkuk sepi
genapkan ia dengan berbagi
agar tak ada pedih, berkurang sedih
Saya lelah di sini
memupuk rindu dalam sesak
mengharapkan temu wajah kalian
merindui bau pertemuan dengan kalian
mengeja bagaimana rasa tertawa bersama kalian
menebak bagaimana bahagia saling berangkul dengan kalian
Ukhti...
berjanjilah kelak untuk jumpa
tak dapat di dunia
mari kita tunai temu di syurga
Saya mencintai kalian karena Sang Maha Pencinta! :')
18.32 - Tengah disesaki rindu - Didedikasikan untuk semua akhwatfilah @pedulijilbab di seluruh pelosok tanah air
Juni
Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...
-
Yuhuuuu, jadi ini adalah satu label baru di blog saya, yang saya namai #RabuReview. Jadi, setiap hari Rabu, saya akan memosting satu ha...


