Tuesday, March 31, 2015
Balada Mahasiswa Semester Banyak
Tuan dengan Mata Penuh dan Kacamata Hitamnya
pagi ini saya berhasil mencuri pandang ke arahmu
diam-diam memerhatikan gurat senyummu yang selalu memesona
walau terhitung jarak waktu yang begitu senjang, sampai kita dipertemukan kembali hari ini
ini puisi?
bukan.
saya selalu tidak berhasil merangkai kata-kata indah buatmu
selalu gagal.
entah di alinea ke berapa, kepala saya bertemu buntu
kamu terlalu indah untuk saya gambarkan dalam jajaran frasa
saya hanya bisa membenturkan ingatan saya pada bingkai kotak kacamata hitammu,
pada wajah sawo matangmu,
pada senyum ramahmu,
pada suara beratmu saat menyapa saya,
pada pesan-pesan pendekmu,
pada rambut legam panjangmu,
dan kesemuanya selalu berhasil mencuri nyenyak saya
membuat saya terdiam lama
pun kadang, membuat saya terlihat bodoh; senyum-senyum sendiri menatap kejauhan
Ah, ingat potongan kalimat ini?
"kalau cinta, mengapa tidak kau katakan?"
"perempuan tidak pantas mengungkapkan."
Ya.
saya hanya bisa diam
menyelipkan namamu banyak-banyak di doa saya
mengirim banyak semoga tentang kita, di antara rinai yang menderas
berharap waktu akan berbaik hati menjawab
(tertawa getir)
saya hanya bisa tersenyum
tertunduk diam
saya selalu berharap, tiada pernah bertemu kecewa
tapi ah, apalah ini
mungkin kamu pun tak akan pernah sampai pada tumpukan-tumpukan tulisan ini.
Penghujung Maret, ketika
saya disesaki perihal kamu, Tuan.
Perempuan Teratai
Friday, November 21, 2014
Untitled
Saya ndak tahu mau nulis apa. Sebentar-sebentar saya ngecek hape. Sebentar-sebentar saya neguk segelas air. Duh, gigi bungsu saya sedang tumbuh, jadi maaf saja kalau saya menjadi sedikit (?) sensitif.
Saturday, November 15, 2014
Kepada Masa Lalu
Saya yakin kamu akan membaca coretan saya ini. Saya yakin mata kamu akan menjalar di setiap huruf yang saya tulis. Kali ini, saya hanya ingin mengatakan, terimakasih sudah pernah menjadi bagian hidup saya. Bagi saya, kamu juga adalah satu dari hadiah yang Tuhan berikan buat saya. Segala kebaikanmu, saya ucapkan terimakasih. Segala tulusmu, pun saya hadiahi terimakasih yang tulus.
Apa katamu? Perpisahan kita baik-baik saja. Semoga. Semoga tidak pernah ada luka yang membekas di sudut-sudut hatimu. Semua tentang kita sudah jauh tertinggal di belakang. Sekarang, saatnya kamu, pun saya, melangkah melewati jalan masing-masing. Tuhan punya kado yang indah buat saya, pun buat kamu. Mari buka kado kita masing-masing tanpa harus mengintip apa isi kado yang lain. Saya punya jalan sendiri sekarang, juga kamu.
Saya doakan kamu selalu bahagia. Tanpa saya. Selamanya.
20:30, semoga kamu paham
Saturday, November 8, 2014
Setelah Ini Apa?
Waktu melesat cepat.
Melepaskan anak-anak panah terbang tinggi-tinggi, meninggalkan kita jauh di belakang. Tidak peduli saat ini kita sedang tersadar atau tidak dengan kepergiannya.
***
Seperti biasa, beranda-beranda media sosial kita kebanjiran berita ini itu. Mulai dari pernikahan, lahiran, kematian, dan yang paling mengerikan bagi saya ya wisuda. Iya. Melihat begitu banyak mimik ceria yang berlalu-lalang di laman media sosial, duh, melepas status mahasiswa seasyik itu, ya? Saya kurang paham. Iya. Kan belum pernah.
Sekarang, contohnya. Saya sedang duduk di tepi pintu posko lokasi KKN. Memerhatikan kerlap-kerlip bintang yang layu di atas langit. Aih, tiga bulan melesat cepat, ya? Serasa seperti baru kemarin saya sampai di rumah bercat tembok putih ini. Seperti baru kemarin saya membaui tempat asing ini, tahu-tahu, lusa saya sudah harus kembali ke napas-napas lama. Kembali menekuni bangun hingga tidur di tempat yang dulu lagi. Kembali menekuri jalanan-jalanan kota yang selalu sesak, tak pernah lengang. Dan, pertanyaan paling mengganggu kembali menusuk masuk di kepala; setelah ini apa?
Sepotong-sepotong Puisi
(1)
dulu
dulu sekali
saya senang sekali memerhatikan alis matamu
ia mengelok
menghantarkan saya pada pusara kenangan
(2)
malam ini
ada yang datang lagi di kepala saya
seperti mengapit buku tua di ketiaknya
tentang kita, ucapnya
bukankah semua sudah kita labeli expired?
(3)
mata saya mendadak basah
pelupuk yang saya katup seperti pening
ada kamu di air mata saya
mengalir deras
menembus batas-batas samudera
(4)
kita sudah berjanji untuk saling melupakan
berjanji untuk saling menghapus jejak-jejak
melupakan raut wajah
menghilangkan ingatan tentang cara bicara
juga cara tersenyum
(5)
lalu mendadak kepala saya hadir tanya
"apa kabar?"
aduh
mulut saya kebas
tidak tahu arah bicara sekarang
(6)
lebih baik saya akhiri ini
titik
dulu
dulu sekali
saya senang sekali memerhatikan alis matamu
ia mengelok
menghantarkan saya pada pusara kenangan
(2)
malam ini
ada yang datang lagi di kepala saya
seperti mengapit buku tua di ketiaknya
tentang kita, ucapnya
bukankah semua sudah kita labeli expired?
(3)
mata saya mendadak basah
pelupuk yang saya katup seperti pening
ada kamu di air mata saya
mengalir deras
menembus batas-batas samudera
(4)
kita sudah berjanji untuk saling melupakan
berjanji untuk saling menghapus jejak-jejak
melupakan raut wajah
menghilangkan ingatan tentang cara bicara
juga cara tersenyum
(5)
lalu mendadak kepala saya hadir tanya
"apa kabar?"
aduh
mulut saya kebas
tidak tahu arah bicara sekarang
(6)
lebih baik saya akhiri ini
titik
Wednesday, October 22, 2014
Satu Waktu Nanti
Nanti,
saat kamu merajuk
saya akan buatkan secangkir jahe hangat
lalu meredakan rajukmu dengan candaan saya
yang mungkin akan terasa garing
Nanti,
saat kamu lelah selepas kerja
saya akan duduk rapi di sisimu
mendengar segala keluhmu
Nanti,
saat kamu merasa ingin berhenti
saya akan ikut menghentikan langkah kaki saya
menunggumu siap mengayuh langkah kembali
tanpa harus ada yang saling meninggalkan satu sama lain
tanpa harus ada yang saling mendahului
Sebab kita memulai langkah di waktu yang sama
dan akan terus meneruskan langkah bersama
terus begitu
Saturday, October 11, 2014
Selamat Datang, Cinta
Karena cinta datang seperti bulir-bulir hujan yang mengecup ubun-ubun tanah. Tanpa aba-aba. Tanpa permisi. Masuk begitu saja. Menyeruak ke dalam dada. Kamu, cinta itu.
Posko, 22:42
Saat mata belum ingin mengatup.
Saturday, September 20, 2014
Kepada Tuan; Ini Sejatinya Ini Sederhana
Bukankah ini memang sederhana?
Kita akan bertemu, entah di lipatan waktu keberapa, entah di belahan dunia bagian mana.
Moskow saat musim dingin mungkin seperti impian saya?
Entah. Kita tak pernah benar-benar tahu. Toh, kita tak perlu tahu, sebab Dia pasti punya rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kita impikan atau rencanakan.
Sejatinya ini sederhana. Kelak, ketika saya malu-malu menjawab warna kesukaan saya saat kau tanyakan, atau saat kau menjadi kaku saat pelan ingin menggenggam tangan saya untuk bersisian melewati separuh dunia. Iya, semua sederhana. Tetap langitkan doa-doa kita.
Monday, September 15, 2014
Jika Suatu Hari Nanti
Ini seperti coretan di atas kertas tua, mungkin. Jika suatu ketika nanti, anak-anak kalian bertanya tentang sosok di foto kita bersama, siapa perempuan berkerudung panjang yang selalu tersenyum, semoga lisanmu dengan ringan akan menjawab bahwa saya adalah saudara kalian.
Mungkin, ini pula seperti pesan yang saya alirkan melalui seuntai benang pada kaleng susu tua, jika kelak kita tak punya masa lagi untuk bersua, semoga kalian masih menempatkan saya lekat pada memori kepala kalian; pun hati kalian.
Sebab hari ini, saya menemukan bahwa rumah kesekian saya adalah kalian; dimana saya selalu punya alasan untuk pulang, untuk kembali.
JJANG, Love ya! :***
Wednesday, September 10, 2014
Entah
Ada kalanya terkadang kita cukup berdiam diri. Memerhatikan sekitar. Menajamkan telinga. Mengatupkan bibir untuk beberapa saat. Lalu memejamkan mata sepersekian waktu. Untuk mendengar, bahwa terkadang dunia punya pesan buat kita, dan hanya bisa disampaikan saat kita berdiam diri.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Juni
Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...
-
Yuhuuuu, jadi ini adalah satu label baru di blog saya, yang saya namai #RabuReview. Jadi, setiap hari Rabu, saya akan memosting satu ha...



