Thursday, April 2, 2015

Kepala yang Terbenam

Malam sudah semakin menua
hujan jatuh saling bersusulan
bergantian mengecupi ubun-ubun bumi
membasahi kepala yang sejak pagi tadi memberangus kesal
ada serupa genangan kenangan yang mengair
menjalar perlahan
mengetuk kotak memori di sudut batok
dan pada akhirnya tersadar
kepala ini, ingatan ini, telah lama terbenam pada sesuatu
yang mengatas namakan diri dengan cinta
lalu lupa pada sekelumit janji yang pernah terkucur dari lisan

Hujan masih setia membenturkan raganya pada atap
menimbulkan bunyi gaduh
namun berirama kantuk
semakin lama lalu semakin tersadar
kepala yang terbenam ini harus segera diangkat dari kubangan ingatan yang menyiksa
lalu, doa kemudian merayapi malam yang pekat ditemani hujan yang semakin menderas
ada baiknya, malam ini kita jatuh kepada lelap
esok, semua akan baik-baik saja

Selaksa Doa Teruntuk Gadis Merah Jambu


"Dan, pada akhirnya kamu bakal paham, bahwa, saudara bukan berarti harus lahir dari rahim yang sama. Bahasa tawa pun terkadang, bisa menjadi semacam pengikat." --Kio--


Kaleng Surat

"Kring.."

Suara ketukan pintu dari Pak Pos membuat saya tersentak kaget. Ini surat kedua darimu, Tuan. Datang dengan sampul berwarna biru gelap dengan gambar kartun Maruko Chan kesukaan saya, hasil lukisan tanganmu sendiri. Kuperhatikan dengan seksama, amplop berwarna biru tadi pun hasil buatan tanganmu juga. Ah, ya, saya ingat, sore itu, hampir gelap, ketika garis kemerahan menyemburat di batas cakrawala, kamu berkata pada saya perlahan, sangat perlahan hingga hampir tak terdengar bersaing dengan debur ombak.

"Matamu seperti palung terdalam lautan ini. Biru pekat. Menenangkan, tapi bisa saja menenggelamkan." Kamu berucap lirih.
"Apa?" Tanyaku tanpa menatapmu.
"Matamu dalam. Menenggelamkan. Saya seperti jatuh sesak di sana, tapi sesak bahagia. Rasanya enggan ingin pulang." kamu berujar lebih keras. Saya tertawa sambil memerhatikan alis ulat bulumu, seraya menonjok pelan bahu kananmu. Kamu tahu? Sore itu adalah salah satu dari sore terbaik yang pernah saya punya.

***
Saya merobek ujung sampul surat. Ada dua lembar kertas kecokelatan terlampir di dalamnya. Tak sabar, saya segera merogoh dan membacanya. Duh, Tuan, tulisan tanganmu kenapa selalu rapi dan indah begitu, sih? Ini yang selalu membuat saya iri padamu. Saya membacanya dalam diam, sambil sesekali menyesap segelas cokelat hangat. Hari sedang hujan, dan ternyata, sepucuk surat darimu dan segelas cokelat hangat menjadi teman terbaik di tengah rinai.



Hujan; dan saya sedang merindui kamu.

Wednesday, April 1, 2015

Mengapa Begitu Jauh Mencari?; Ada Surga di Rumahmu



“Kelak, akan datang anak-anak berlari menujumu, kemudian bergantian menciumimu. Kau akan menjadi surga untuk anak-anakmu.” –Ramadhan kepada Nayla

Adegan pembuka yang berhasil membuat saya mengalihkan pandangan dari arah telepon genggam –kebiasaan yang agak buruk ketika film sudah dimulai, saya masih berasyik masyuk dengan telepon genggam--, benar-benar dari awal film ini sudah mencuri perhatian pandangan, dengar, dan juga menggetarkan hati. Adegan pembuka di mana seorang pasien yang terkulai lemas di atas kereta dorong, derap-derap kaki yang terburu-buru, dan juga alunan kalimat syahadat yang susul-menyusul. Saya terdiam, memusatkan seluruh perhatian saya ke depan, sambil menekan tombol kunci telepon genggam tanpa mengalihkan pandangan sekalipun. Film ini sepertinya akan banyak menguras air mata, dugaan awal saya

****************************************************************

Tuan Kesayangan Sepanjang Hayat

Terimakasih telah bersetia, tetap menjadi teman terbaik saya. Entah sulit, entah bahagia, terjebak dalam kebimbangan, pun saat kita (kebanyakan saya) mengeluh ini-itu.

Ingin rasanya saya nyanyikan Thinking Out Loud di telingamu, samar-samar, menyampaikan betapa melangitnya perasaan saya padamu, Tuan. :')

Tuesday, March 31, 2015

Balada Mahasiswa Semester Banyak



Yakali curhat lagi. Duh, Mak, sekarang tepat tiga tahun lima bulan saya menyandang status mahasiswa. Ingat awal-awal kuliah dulu, excited luar biasa, semangat masuk kampus yang meluap-luap, tugas yang ndak pernah dicicil apalagi telat, wah, pokoknya luar biasa sekali dulu. Dulu. Iya, dulu.

Tuan dengan Mata Penuh dan Kacamata Hitamnya



Tuan,
pagi ini saya berhasil mencuri pandang ke arahmu
diam-diam memerhatikan gurat senyummu yang selalu memesona
walau terhitung jarak waktu yang begitu senjang, sampai kita dipertemukan kembali hari ini
ini puisi?
bukan.
saya selalu tidak berhasil merangkai kata-kata indah buatmu
selalu gagal.
entah di alinea ke berapa, kepala saya bertemu buntu
kamu terlalu indah untuk saya gambarkan dalam jajaran frasa
saya hanya bisa membenturkan ingatan saya pada bingkai kotak kacamata hitammu,
pada wajah sawo matangmu,
pada senyum ramahmu,
pada suara beratmu saat menyapa saya,
pada pesan-pesan pendekmu,
pada rambut legam panjangmu,
dan kesemuanya selalu berhasil mencuri nyenyak saya
membuat saya terdiam lama
pun kadang, membuat saya terlihat bodoh; senyum-senyum sendiri menatap kejauhan

Ah, ingat potongan kalimat ini?
"kalau cinta, mengapa tidak kau katakan?"
"perempuan tidak pantas mengungkapkan."

Ya.
saya hanya bisa diam
menyelipkan namamu banyak-banyak di doa saya
mengirim banyak semoga tentang kita, di antara rinai yang menderas
berharap waktu akan berbaik hati menjawab


(tertawa getir)
saya hanya bisa tersenyum
tertunduk diam
saya selalu berharap, tiada pernah bertemu kecewa
tapi ah, apalah ini
mungkin kamu pun tak akan pernah sampai pada tumpukan-tumpukan tulisan ini.


Penghujung Maret, ketika
saya disesaki perihal kamu, Tuan.


Perempuan Teratai


Friday, November 21, 2014

Untitled

Saya ndak tahu mau nulis apa. Sebentar-sebentar saya ngecek hape. Sebentar-sebentar saya neguk segelas air. Duh, gigi bungsu saya sedang tumbuh, jadi maaf saja kalau saya menjadi sedikit (?) sensitif.

Saturday, November 15, 2014

Kepada Masa Lalu


Kepada masa lalu,

Saya yakin kamu akan membaca coretan saya ini. Saya yakin mata kamu akan menjalar di setiap huruf yang saya tulis. Kali ini, saya hanya ingin mengatakan, terimakasih sudah pernah menjadi bagian hidup saya. Bagi saya, kamu juga adalah satu dari hadiah yang Tuhan berikan buat saya. Segala kebaikanmu, saya ucapkan terimakasih. Segala tulusmu, pun saya hadiahi terimakasih yang tulus.

Apa katamu? Perpisahan kita baik-baik saja. Semoga. Semoga tidak pernah ada luka yang membekas di sudut-sudut hatimu. Semua tentang kita sudah jauh tertinggal di belakang. Sekarang, saatnya kamu, pun saya, melangkah melewati jalan masing-masing. Tuhan punya kado yang indah buat saya, pun buat kamu. Mari buka kado kita masing-masing tanpa harus mengintip apa isi kado yang lain. Saya punya jalan sendiri sekarang, juga kamu.

Saya doakan kamu selalu bahagia. Tanpa saya. Selamanya.

20:30, semoga kamu paham

Saturday, November 8, 2014

Setelah Ini Apa?

Waktu melesat cepat.
Melepaskan anak-anak panah terbang tinggi-tinggi, meninggalkan kita jauh di belakang. Tidak peduli saat ini kita sedang tersadar atau tidak dengan kepergiannya.
***

Seperti biasa, beranda-beranda media sosial kita kebanjiran berita ini itu. Mulai dari pernikahan, lahiran, kematian, dan yang paling mengerikan bagi saya ya wisuda. Iya. Melihat begitu banyak mimik ceria yang berlalu-lalang di laman media sosial, duh, melepas status mahasiswa seasyik itu, ya? Saya kurang paham. Iya. Kan belum pernah.

Sekarang, contohnya. Saya sedang duduk di tepi pintu posko lokasi KKN. Memerhatikan kerlap-kerlip bintang yang layu di atas langit. Aih, tiga bulan melesat cepat, ya? Serasa seperti baru kemarin saya sampai di rumah bercat tembok putih ini. Seperti baru kemarin saya membaui tempat asing ini, tahu-tahu, lusa saya sudah harus kembali ke napas-napas lama. Kembali menekuni bangun hingga tidur di tempat yang dulu lagi. Kembali menekuri jalanan-jalanan kota yang selalu sesak, tak pernah lengang. Dan, pertanyaan paling mengganggu kembali menusuk masuk di kepala; setelah ini apa?

Sepotong-sepotong Puisi

(1)
dulu
dulu sekali
saya senang sekali memerhatikan alis matamu
ia mengelok
menghantarkan saya pada pusara kenangan

(2)
malam ini
ada yang datang lagi di kepala saya
seperti mengapit buku tua di ketiaknya
tentang kita, ucapnya
bukankah semua sudah kita labeli expired?

(3)
mata saya mendadak basah
pelupuk yang saya katup seperti pening
ada kamu di air mata saya
mengalir deras
menembus batas-batas samudera

(4)
kita sudah berjanji untuk saling melupakan
berjanji untuk saling menghapus jejak-jejak
melupakan raut wajah
menghilangkan ingatan tentang cara bicara
juga cara tersenyum

(5)
lalu mendadak kepala saya hadir tanya
"apa kabar?"
aduh
mulut saya kebas
tidak tahu arah bicara sekarang

(6)
lebih baik saya akhiri ini
titik

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...