Saturday, August 1, 2015

Butuh Berapa Banyak?

Ah, butuh berapa banyak keberanian untuk mengungkapkan sayang kita pada yang dicintai?

Butuh berapa banyak rasa sabar untuk menghadapi tangis bocah nakal yang merengek minta es sirop di pagi yang hujan?

Butuh berapa banyak kesetiaan untuk tetap menunggu dia yang belum jua tiba mengetuk pintu rumah kita?

Butuh berapa banyak degup untuk membuktikan betapa kita gugup berhadapan dengan dosen penguji di sidang skripsi?

Butuh berapa banyak uang agar bisa membawa pulang telepon genggam seri terbaru dari gerai telepon?

Butuh berapa banyak tangis untuk mengisyaratkan betapa sakitnya kaki kita saat terantuk batu?

Dan, butuh berapa banyak hari lagi untukmu, agar sampai padaku, dan menjawab semua pertanyaanku tentang berapa banyak ini, Tuan?

Rumah, 15:49

Singkat Saja

ke dalam matamu
saya  melesat
masuk semakin dalam
seraya menahan sesak
hei, saya rindu!

Sunday, May 24, 2015

Teruntuk kalian; Dua "Stroberi Berbeda" yang Telah Dia Toreh Berdampingan

"A successfull marriage requires falling in love many times, always with the same person." --Mignon Mclaughlin--



Pagi tadi rerintik memeluk bumi, sepersekian waktu kemudian, kalian akan saling berikrar sehidup semati; hingga jannahNya. Doa melangit deras teruntuk kalian berdua; jiwa-jiwa penuh cinta yang sedang menuai semi.

Wednesday, May 13, 2015

Tari; Perempuan Penuh Senyum yang Pernah Saya Temui

"If you see a friend without the smile; give him one of yours!" --Anonymous--


Ada banyak hal-hal sederhana di dunia ini yang bisa membuat saya jatuh cinta, salah satunya senyum yang lahir dari sabit-sabit bibir seseorang.

Monday, April 6, 2015

Untukmu, Shalihah



Amma...
menyemai usia duapuluhdua dirimu kini
banyak doa yang bertebaran di langit-langit kamar saya
di luar masih hujan
mengetuk-ngetuk jendela
setiap bulirnya
ada doa yang melangit
membuncah dari bibir

Amma...
berbilang tahun saya mengenalmu
kamu
menjadi satu dari sekian hadiah yang Dia berikan buat saya
kemudian
banyak semoga yang melesat buatmu
semoga
semoga
semoga
semoga

kebaikan menyertai setiap hentak langkahmu
berkah menyemai di setiap ucap lisanmu
bahagia memancar dari setiap tatap irismu
syukur mengalir dari setiap perolehanmu

semoga pula
ini bukan bilangan usia terakhir milikmu, dimana saya menjadi saudaramu
iya, kan?

semoga pula
kamu semakin keren


Teruntuk saudariku tercinta, Rahma Afnan, tetaplah bertumbuh menjadi gadis yang menyenangkan.


Sunday, April 5, 2015

Aku(t)



Namanya Nurul
gadis empatbelas tahun
wajahnya kebas merah, seperti cemas
cemas menanti seseorang di perempatan jalan
sebentar-sebentar, dia mengusap wajahnya dengan selembar tisu
lalu menoleh berulang-ulang pada jam tangannya yang melingkar
kepalanya dipenuhi tanya
kapan?
akankah dia datang?
bukankah kemarin dia sudah berjanji untuk bertemu sore ini?
lalu bersama-sama pergi menyaksikan pertandingan voli di lapangan kampung sebelah
kemudian mengapa dia belum jua datang?
dua jam berlalu
kakinya mulai keram
hatinya perih
tersayat
matanya mulai panas membendung air
kemudian dia berbalik
memutuskan menghapus ingatan tentangnya
lalu menelan bulat-bulat sesak sakit yang dia rasakan
kembali pulang

Tantangan permainan frasa dari Dik Yuyung.

Kotak Aj(aib)

Tv hitam putih berkedap-kedap lemah di ruangan tengah
bapak sedang sibuk menyetel parabola
aku duduk berselonjor malas
duh, apa guna menyaksikan berita yang hanya mencekoki kita dengan ajaran pluralitas yang menikung jauh dari nilai moral?
aku membuang pandangan
menjatuhkan tatapanku pada buku yang kugenggam
kalau kata mamak
menyaksikan acara tv sekarang ini efeknya membuat kepala buntu
sama ketika kau berlebihan mengonsumsi masako dalam masakan
hasilnya persis, kan?
sama-sama membunuh secara perlahan
membuat intelektual kerdil
akibatnya berantai, mengular sampai batas entah


Tantangan permainan frasa dari Dik Tari


.

Surau dan Kenangan yang Membeku di Dalamnya




Kamu ingat maulid tujuh tahun silam? Di pagi-pagi buta, saat kita bergegas berlomba untuk mandi di sumur belakang rumah. Bergantian disirami oleh puang aji, lalu tertawa-tawa mengulur waktu agar bisa mandi lebih lama, tapi iming-iming telur warna-warni berhasil membuat kita terbirit-birit berhasil melaju berlomba mengenakan baju terbaik di almari. Baju koko rapi dengan setelan celana kain, tak ketinggalan kopiah favorit,
 dengan wangi deterjen khas mamak.

Bersusulan menuju surau kampung. Menatap tempat sampah surau yang disesaki kertas minyak. Kemudian kita berlarian masuk. Gaduh. Diteriaki Pak Ustadz karena mengganggu barazanji yang tengah berurai. Akhirnya kita duduk bersila, takut-takut menatap sebilah bambu yang dipegang Pak Ustadz, takut dipecut kalau-kalau kita mengacau lagi. Bunyi gemericik air dari tempat wudhu surau bersusulan merdu. Kita masih berdiam sambil meringis ngeri melihat Aco yang dicambuk karena menendang ember songkolo.


Tantangan permainan frasa dari Dik Rika.

Dia



Pagi ini saya terpekur menatap dinding, kemudian mataku tertumbuk pada kalender yang menempel mesra. Ah, rupa-rupanya saya telah membuat janji dengan lelaki jangkung berkacamata tebal di taman kota senja ini. Apa katanya kemarin? Ingin ditemani membeli handuk di minimarket? Hih, apa dia tidak punya cara yang lebih baik untuk mendekati seorang gadis? Apa dia tidak belajar dari teman-temannya yang lain? Misalnya dengan memberi sekotak cokelat atau boneka pink atau apakah yang jauh lebih manis dari sekedar berkunjung ke minimarket.

Kemudian saya bangkit dari tidur, berturut-turut bercermin menatap diri. Apa istimewanya lelaki jangkung itu? Kata teman-temanku tidak ada sama sekali. Tapi hei, saya yang selalu bersikap tegar di hadapa semua, seketika bisa menjadi sendu di depannya. Apa itu berarti saya merasa nyaman saat berada di sisinya dan kemudian seketika menumpahkan tebaran resah, keluh, gundah, dan semua perasaan yang bercampur selaiknya kopi kental yang selalu kuhirup di sore yang basah.


Tantangan permainan frasa dari Dik Yaya.

Saturday, April 4, 2015

Tumbuh Tua Bersamamu

Saya sudah lama menyimpan doa ini,
apakah kamu juga?

Segara; Lautan-Lautan dengan Dermaga Aku

Sepagi ini, saya coba menenangkan pikiran
menulis tentangmu, selalu butuh keberanian besar
ah, arti namamu adalah lautan, kan?
kemudian, biarkan saya terbenam di dalamnya
tenggelam hanyut, terbawa arus
melesat jauh ke dalam
menembus relung-relungmu yang dipenuhi arus yang berlarian
lalu membangun istana kekal
bertempat di sana

Lautan;
jangankan tanpa kuminta
matamu saja seperti menyimpan gelombang
mengetuk pencarian yang lama terhenti
bak menjelma ibarat sebotol obat penenang
tepukan ombakmu yang selalu berhasil menyusupi lelapku

Jika kamu lautan; maka izinkan aku menjadi tepianmu, yang selalu menjadi tempatmu pulang.



10:00; Ombakmu.


Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...