Showing posts with label Bapak. Show all posts
Showing posts with label Bapak. Show all posts

Tuesday, December 10, 2013

Mamak

Cahaya luruh satu-satu di matamu
lalu dian sempurna lahir dari tutur bijakmu

Mamak...
ananda rindu peluk hangatmu
ananda rindu kecup kasihmu
ananda jauh
ananda tak bisa melempar sauh
ananda tak ada daya untuk temu

Mamak...
ananda ingin bersandar di pelukmu
ingin merasai debar degupmu
seperti ketika ananda masih menyusu dulu

Mamak...
ananda hanya bisa menatap pigura
ananda hanya mampu mendengar suara dari telepon tanpa kabel
ananda hanya bisa melebur doa untuk ditembuskan ke langit
semoga dikau, Mamak
dan lelaki tercintamu, bapak
bisa ananda bahagiakan hingga ke surga

17.59 saat kepala berdentum menderu-deru.

Monday, December 9, 2013

Hujan Silam, Hujan Dewasa

Hujan selalu berbisik
tentang kenangan-kenangan
tentang janji-janji masa depan
pun tentang keresahan

Kita selalu menari
dahulu di bawah tempias hujan
menjulurkan jari-jari kita di bawah atap mamak
kemudian berlarian pulang disebab dingin yang menyergap
lalu segelas teh hangat siap di bawah tudung saji
kemudian kita mengeluh tentang jari-jari yang mengerut atau bibir yang gemetaran
disusul tentang cerita keong lambat yang berhasil kita tangkap dan pindahkan dari rinai deras

Semenit dua menit kita menguap satu-satu
berlarian mengepung diri di atas seprai hangat berbau daster mamak
saya bercerita banyak
kau mengangguk sambil menyisiri rambut saya dengan jemari kekarmu
lalu mamak datang menggelitiki kaki kita satu persatu

Wahai, Bapak
hujan dewasa ini tak lagi ceria seperti hujanku silam
ada banyak derap beban di setiap rintihnya
tak ada lagi mandi di bawah deras hujan
tak ada lagi teh manis yang mengepul
tak hadir lagi gulatan canda di seprai biru tua milik kita bertiga
hanya mendengar suara kalian, bapak mamak
dari sebuah benda kotak hitam tanpa lilitan kabel
ditemani rinai tetes hujan
saya jauh
ribuan kilometer
mendekap rindu yang bersesakan
adakah pulang nanti bisa kita bermain hujan lagi, Bapak?

16.49 ketika Makassar diderap hujan dan tugas semakin mencekam menyentuh deadline

Sunday, October 27, 2013

Perempuan Berjemari Cahaya dan Lelaki Pemanggul Kebahagiaan

Kalian
ketika Juli dan Agustus terbit
cahaya kalian bersinar menembus kaki-kaki langit
di saat Juli dan Agustus lahir
di saat itu pula janji kalian melahirkan kebahagiaan terpahat di hunjaman bumi

Perempuan berjemari cahaya,
kau menunjukiku jalan dengan daun berwarna-warni berguguran di atasnya
kau memetakan segala semak yang akan dilalui kaki kecilku
kau menebas ilalang yang menghalau langkah getirku
kau tampar segala ragu yang menohok mimpi-mimpiku

Lelaki pemanggul kebahagiaan,
kau gariskan bujur yang panjang bernama suka
bahagia
cinta
kasih sayang
penerimaan
ketulusan
segala kesabaran
untukku
yang kau sebut perempuan hebat yang hadir dalan hidupmu

Perempuan berjemari cahaya yang kupanggil Mamak,
senantiasa doa ini menggedor-gedor arsyiNya untuk bahagiamu
Lelaki pemanggul kebahagiaan yang kusebut Bapak,
tak luput bibir kecil ini merapal segala pinta dariNya untuk bahagiamu pula

Kalian,
adalah hadiah terbesar dari Dia dalam hidup saya.

17:41
Ketika tugas menumpuk dan merasa lelah yang sangat menghampiri, menatap pigura kalian berdua, membuat semangat saya berpacu ratusan kali lipat. Mama, Bapak, doakan Ananda. :')

Tuesday, June 4, 2013

Surat Terbuka Untuk Bapak

Saya suka memerhatikan raut wajahmu, gerusan urat di wajah tua namun teduhmu, seolah bercerita tentang sejuta cerita hidup yang pernah kau lewati. Pun jemari dan lenganmu yang kokoh, seperti menjelaskan bahwa sungguh hidup ini keras. Bola matamu yang hitam serta jajaran alis matamu yang pekat dan tebal melukiskan ribuan cinta yang siap kau torehkan dalam hidup saya.

Kau sosok pendiam. Pecinta angka. Penggila sastra. Pengagum semua ilmu pengetahuan. Jujur, tiap mendengar kisah kau berjuang demi mencicipi bangku sekolah, saya menjadi malu. Malu terhadap diri saya yang terkadang bermalas-malasan di tanah rantau. Masih sering mengeluh ini itu, padahal kau sudah sekuat tenaga menyediakan segala sarana dan prasarana yang menunjang saya di sini. Ah, saya malu. Malu sekali. Malu hanya bisa mempersembahkan prestasi itu-itu saja padamu, malu hanya bisa menangis cengeng saat ada masalah. Malu. Saya malu menjadi puteri dari seorang hebat seperti kau.

Masih lekat cerita tentang kau menjadi mahasiswa sipil terbaik se-Indonesia di jamanmu. Pigura saat kening kau dikecup menteri pendidikan masih segar dipajang. Saya? Jangankan Bapak Menteri, pun rektor masih kabur soal keberadaan saya. Ah, lagi-lagi saya belum berhasil memberikan kebanggaan untuk kau.

Namun apa katamu? Saya anak terhebat. Ketika saya uraikan ini untukmu, kau kata bahwa saya sudah membanggakanmu. Kau menunjuk kepala saya sambil berkata bahwa saya anak cemerlang. Kau menunjuk dada saya lalu berujar saya anak berhati lurus. Kau tak pernah mengucap sepatah kalimatpun yang membuat saya kecewa atau sedih.

Kau orang yang cuek. Katamu, saya sakit-sakitan karena terlalu membebani suatu pikiran. Saya selalu ingin mencontoh bagaimana kau dengan begitu bijak dan tenangnya menghadapi suatu masalah dan voila! masalah seketika selesai. Saya takjub. Mama benar-benar beruntung mendapatkan lelaki sehebat kau.

Tak pernah kau berkata kasar. Memukul apalagi. Namun keseganan saya pada kau sangat besar. Keseganan yang bukan berarti takut. Tak pernah kau tunjukkan mimik tak sedap pada saya dan Mama. Kata Mama, sudah dua puluh delapan tahun kalian bersama, tak sedikitpun kau pernah membuat Mama menangis. Ah, langit, tolong aminkan doa saya agar kelak mendapat lelaki berhati dan berpemahaman lurus seperti Bapak.

Lagi-lagi, saya hanya bisa berujar dari lubuk perasa saya yang paling dalam, saya bangga mempunyai Bapak seperti kau, berjanji akan terus mempersembahkan yang terbaik yang bisa saya lakukan, berjanji tak akan pernah mengecewakan kau barang seatompun. Saya berjanji. Berjanji. Hingga laut. Hingga darah. Hingga langit.

Teruntuk Bapak saya tercinta, Ir. Adrin Sululing, Bapak juara satu seluruh dunia, terimakasih untuk segala kisah yang telah dan akan kau torehkan dalam hidup saya. Saya mencintaimu karena Allah.

Peluk cium dari Ananda,

Reski Puspitasari A. Sululing

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...