Showing posts with label Cerita Hujanku. Show all posts
Showing posts with label Cerita Hujanku. Show all posts

Monday, April 7, 2014

Tidak Seharusnya

Saya dan hujan seharusnya tak perlu berlomba
berlomba tentang seberapa hebat rintik kami mencuri perhatianmu
kamu mungkin sedang menatap hujan satu-satu yang jatuh menepuk jendelamu
pun mungkin kamu tengah berharap saya duduk di sebelahmu
berbagi banyak tawa dan cerita
tentang bagaimana klub bola kesayangan kita bertanding tadi malam
tentang suara saya yang selalu sengau ketika minum es kelapa di ujung jalan
tentang sepatu-sepatu raksasa kita
tentang sambal petai pedas buatan saya
tentang sobekan kecil di lengan bajumu
tentang isi ransel hitam di pundak saya
tentang musim bebuahan yang akan datang
tentang seberapa sukanya kamu pada kopi hitam

Tentang banyak hal
tentang banyak hal
tentang banyak hal

Seharusnya saya dan hujan tak perlu berlomba.

13:52, saat rintik di luar berlari perlahan

Wednesday, December 18, 2013

Sajak Gerimis; tentang kita yang tak pernah menemui kata sudah

Terkadang di pelepah rintik aku temui bebayang matamu. Ada satu-satu rindu yang merembes ke sini. Di kepalamu mungkin terlalu banyak lahan kenangan tentang saya. Pun di kepala saya, sila kau tengok kemari.

Ada satu dua hal yang sulit kita mengerti, mengapa Tuhan yang duduk anggun di sana masih membiarkan kita tersakiti dengan jarak. Jarak yang jutaan. Rindu yang tertahan. Lalu banyak cerita yang belum terceritakan. Ada banyak hal yang tidak atau belum kita pahami. Banyak.

19:04 di sela rerintik

Saturday, December 14, 2013

Izinkan Saya Menabung Rindu, Tuan!

Hujan masih jatuh satu-satu di atas atap tempat saya berbaring merindu
satu dua gumpal harap masih mengantri sesak di sudut rerintik
saya selalu suka mewarnai matamu dengan krayon warna bata
lalu mengarsir rambutmu dengan gradasi ungu tua
tak lupa, bibirmu dengan warna saga
saga yang menyala

Hujan masih jatuh satu-satu di tempat saya menabung resah
pelan-pelan saya sibakkan tirai malam yang semakin mengeriput
ada empat atau lima tawa jumawa di sana
lalu saya cukupkan
rindu ini tertangkupkan
tepat di menit ke delapan
saat mata saya bercumbu bersama kegelapan

Saya rindu. 14.

Karena Ini Kenangan, Bukan Kekonyolan

Kau ingat kan, saat rok merah kita sobek karena memanjat pagar sekolah?
Bukan, kita bukan bolos. Tapi takut kalau-kalau pantat kita disuntik oleh dokter. Pulang ke rumah, kita dimarahi habis-habisan oleh mamak kita, kita menangis sesenggukan setelah itu mamak lupa terhadap rasa marahnya sambil berlalu ke mesin jahit di ruang tengah untuk membenahi rok-rok itu.
Atau, kau masih ingat tidak saat kita berebut mencungkil buah asam tepat sehabis ashar?
Aku selalu berhasil mencungkil lebih banyak, karena tubuhku jauh lebih tinggi dan kayu yang kupakai jauh lebih panjang. Kau merajuk. Tapi setelah itu tak ada lagi kekesalan, kita duduk di bawah pohon asam bersama-sama menyantap buah asam. Aku selalu ingat bagaimana tampang kita saat buah yang terasa sangat asam masuk ke mulut. Lucu.
Masih ingat juga kan tentang permainan dende, lompat tali, petak umpet dan seseruan lainnya?
Selalu ada keriangan, kadang marah, lalu pulang dengan banjir peluh dan rasa kesal karena merasa dicurangi. Tapi esok di sekolah, kita lupa semuanya dan kembali merencanakan janji untuk bermain lagi di saat sore.
Pun saya juga selalu ingat, semoga kau pun ingat, soal bagaimana kita selalu menumbuk dedaunan dan tanah merah dan berlagak seperti chef.
Haha, sangat lucu. Setelah 'masakan' kita rampung, kita menjajakannya pada teman yang lain, yang dibayar menggunakan uang-uangan daun, lalu kita menyimpannya rapi di dompet-dompet bertuliskan nama toko emas. Setelah dedaunan itu kering, kita membuangnya lalu menggantinya demgan dedaunan baru.
Ada juga yang tak bisa saya lupa, yakni saat kita belajar mengaji di masjid setiap sore.
Kau, aku, kita, saat pelajaran sudah dimulai, selalu bolak-balik di tempat wudhu, alasan kita pada ustadzah karena wudhu kita batal, padahal bukan karena itu, melainkan karena kita ingin bermain air dan saling berciprat-cipratan di sana. Lalu selalu saja kita dipergoki ibu-ibu bermuka masam yang berteriak menyuruh kita kembali ke dalam masjid. Haha.

Sekarang saya, pun kau sudah jatuh dewasa. Tak ada lagi kekonyolan seperti di atas yang saya temui. Bahkan saat bertemu, kau dan teman-teman yang lain telah menjelma menjadi sangat mengesankan. Ketua ikatan badan mahasiswa inilah, koordinator divisi itulah, pemimpin redaksi harian kampus anulah. Wah, saya tidak pernah menyangka bahwa teman sepermainan kecil saya akan berubah menjadi semengesankan ini. Tak ada yang lebih indah selain bernostalgia kan katamu? Semoga besok-besok kita bisa berkumpul di satu lapangan lepas, sambil bermain dende lagi, Teman.

Ketika deru hujan masih setia menguarkan kenangan.
15:58

Tuesday, December 10, 2013

Terkadang Kita Lupa

Terkadang kita lupa bahwa betapa setiap detik detak jantung kita akan dimintai pertanggungjawaban

Pun terkadang kita lupa bahwa setiap hela uap napas kita akan dituntut penjelasan

Lalu berturut-turut alpa dari ingatan kita bahwa segala derak dari sendi kita akan berbicara di hari pembalasan kelak

Entah. Kita lupa. Atau memang kita tidak mau mengingatnya.

Kelas sintax., 09.58. Saat hujan masih bergelantungan di kaki langit.

Rintik Pagi yang Selalu Kau Rindu

Subuh menggeliat. Satu-dua suara dari menara masjid mulai bersahutan membangunkan kaum yang masih terhimpit hangatnya selimut. Ah, hujan masih setia merundung kota kami hingga pagi ini. Kembang sepatu di beranda rumah basah kuyup bahagia. Saya merenung. Betapa saya merindukan tujuh tahun silam. Saat hujan dan saya bersiap dengan seragam putih biru saya, kau mendecak dalam dan siap mengantar saya menunggu angkot dengan payung besar tiga warnamu. Tak lupa sebelum itu kau menyeduhkan saya secangkir teh di gelas bergradasi krem. Berturut-turut kau rapikan sisiran rambut serta dasi biru panjang milik saya. Pun melihatmu mensejajarkan kartu-kartu patui yang kau sebut pulos di dekat jendela membuat saya mafhum, kau cinta pada hujan. Teramat.

Mak tua, ini sudah tahun keberapa kau tak menyaksikan hujan di kota kami? Sudah berapa lama? Apa di sana hujannya jauh lebih indah dari kota kami? Di menit ke sepuluh saat ini, sungguh saya rindu. Saya merindui bau dastermu yang terpapar uap setrika bara yang beraroma khas. Pun saya rindu bunyi kunci almari yang kau simpan di saku dastermu saat kau berjalan. Saya rindu tatap mata teduhmu ketika lagi-lagi saya menjadi juara kelas. Dan yang paling saya rindukan adalah ketika hujan datang, kau setia menatap ketukan rintik yang mengenai kaca jendelamu.

06.12. Hujan. Rindu almarhumah R. Sululing, mamak tua terbaik dalam hidup saya.

Monday, December 9, 2013

Hujan Silam, Hujan Dewasa

Hujan selalu berbisik
tentang kenangan-kenangan
tentang janji-janji masa depan
pun tentang keresahan

Kita selalu menari
dahulu di bawah tempias hujan
menjulurkan jari-jari kita di bawah atap mamak
kemudian berlarian pulang disebab dingin yang menyergap
lalu segelas teh hangat siap di bawah tudung saji
kemudian kita mengeluh tentang jari-jari yang mengerut atau bibir yang gemetaran
disusul tentang cerita keong lambat yang berhasil kita tangkap dan pindahkan dari rinai deras

Semenit dua menit kita menguap satu-satu
berlarian mengepung diri di atas seprai hangat berbau daster mamak
saya bercerita banyak
kau mengangguk sambil menyisiri rambut saya dengan jemari kekarmu
lalu mamak datang menggelitiki kaki kita satu persatu

Wahai, Bapak
hujan dewasa ini tak lagi ceria seperti hujanku silam
ada banyak derap beban di setiap rintihnya
tak ada lagi mandi di bawah deras hujan
tak ada lagi teh manis yang mengepul
tak hadir lagi gulatan canda di seprai biru tua milik kita bertiga
hanya mendengar suara kalian, bapak mamak
dari sebuah benda kotak hitam tanpa lilitan kabel
ditemani rinai tetes hujan
saya jauh
ribuan kilometer
mendekap rindu yang bersesakan
adakah pulang nanti bisa kita bermain hujan lagi, Bapak?

16.49 ketika Makassar diderap hujan dan tugas semakin mencekam menyentuh deadline

Tuesday, November 13, 2012

Kita, Menanti Hujan



November kali ini terlalu terik, bukan?
kita, kau dan aku
di pelataran kampus ungu
sambil membuang pandang pada keramaian

"Sayang yah, November tak bercinta dengan hujan kali ini!"
kau berujar pelan
aku tersenyum, kemudian mengangguk
anak-anak rambut di dahiku melekat oleh peluh
kau merogoh sapu tangan biru andalanmu
lalu menyeka bulir-bulir yang merembes

November terlalu terik
hujan tak kunjung datang, artinya
kita, kau dan aku
tak bisa bermain hujan
sambil sesekali berbaring di bebasahan
lalu berdecak dengan becek
kemudian menghirup teh hangat bersama

Malam, 7:03 PM

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...