Showing posts with label Hujan. Show all posts
Showing posts with label Hujan. Show all posts

Monday, December 9, 2013

Hujan Silam, Hujan Dewasa

Hujan selalu berbisik
tentang kenangan-kenangan
tentang janji-janji masa depan
pun tentang keresahan

Kita selalu menari
dahulu di bawah tempias hujan
menjulurkan jari-jari kita di bawah atap mamak
kemudian berlarian pulang disebab dingin yang menyergap
lalu segelas teh hangat siap di bawah tudung saji
kemudian kita mengeluh tentang jari-jari yang mengerut atau bibir yang gemetaran
disusul tentang cerita keong lambat yang berhasil kita tangkap dan pindahkan dari rinai deras

Semenit dua menit kita menguap satu-satu
berlarian mengepung diri di atas seprai hangat berbau daster mamak
saya bercerita banyak
kau mengangguk sambil menyisiri rambut saya dengan jemari kekarmu
lalu mamak datang menggelitiki kaki kita satu persatu

Wahai, Bapak
hujan dewasa ini tak lagi ceria seperti hujanku silam
ada banyak derap beban di setiap rintihnya
tak ada lagi mandi di bawah deras hujan
tak ada lagi teh manis yang mengepul
tak hadir lagi gulatan canda di seprai biru tua milik kita bertiga
hanya mendengar suara kalian, bapak mamak
dari sebuah benda kotak hitam tanpa lilitan kabel
ditemani rinai tetes hujan
saya jauh
ribuan kilometer
mendekap rindu yang bersesakan
adakah pulang nanti bisa kita bermain hujan lagi, Bapak?

16.49 ketika Makassar diderap hujan dan tugas semakin mencekam menyentuh deadline

Saturday, July 6, 2013

Perempuan Hujan

Ketika air mengetuk-ngetuk ibu jari
saya temui kamu di tepian nafas hujan
menggantung lemah di sisi yang memudar
lalu memghilang perlahan ditelan derap-derapnya
saya melukiskanmu dengan kuas tanpa tinta
lalu membiarkan molekul udara yang membentuk diri menjadi rupamu

Saya tak ingin melupa. Sama sekali tak
membiarkan wujudmu menguar seperti bebauan tanah basah
tak memusingkan kenanganmu yang menjamur seperti kunang-kunang cahaya

membiarkan kamu menebar benih subur di kepala saya adalah cara terbaik melenyapkan kamu dari semak ingatan saya

Malam. 22.01 dengan segenap sesak

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...