Showing posts with label Lovely Mom. Show all posts
Showing posts with label Lovely Mom. Show all posts

Monday, December 16, 2013

Sajak Sederhana; dari perempuanmu, untuk perempuanku

Tujuh Agustus, empat puluh tujuh tahun silam
sejak waktu berderak di situ
kau hadir sebagai anugerah
buat mereka, pun buat saya
doa melejit satu-satu
dari bibir-bibir penuh getar bahagia
melejit ke langit, menggedor arsyNYA

Enam juni, sembilan belas tahun yang dahulu
doa kembali pecah satu-satu
dari bibir-bibir kalap senyum
buatku
yang kau sebut perempuanmu

Aku mendekap hangat
menyapih pada dada putihmu
merasai hangat
meresap kasih
sejak itu aku tahu
sejak itu aku paham
kau, adalah cinta tanpa batas akhir

Mata cokelatmu selalu berkilat-kilat
saat mulai aku tengkurap, merangkak lalu berjalan dengan kedua kaki gempalku
kau tersenyum sekuat doa

Mata cokelatmu kembali berkilat berbinar
saat aku mulai berlarian dengan seragam
merah, biru, abu-abu lalu menjemput toga
kau berseru syukur
sambil melanjut doa yang tak pernah terukur

Bagimu,
aku perempuanmu
kau selalu mengecupi mataku satu-satu
berturut-turut bau suarku

Bagiku,
kau perempuanku
berjanji dari relung hati
berdoa untukmu di sepanjang detik

-enam belas desember pada saat jarum jam terpaku di angka tiga.

(puisi ini sedang diikutkan pada lomba menulis puisi #KBMAward yang diadakan oleh Klub Buku Makassar dan Kak @hujanrintih2 dalam rangka menyambut hari ibu)

Tuesday, December 10, 2013

Mamak

Cahaya luruh satu-satu di matamu
lalu dian sempurna lahir dari tutur bijakmu

Mamak...
ananda rindu peluk hangatmu
ananda rindu kecup kasihmu
ananda jauh
ananda tak bisa melempar sauh
ananda tak ada daya untuk temu

Mamak...
ananda ingin bersandar di pelukmu
ingin merasai debar degupmu
seperti ketika ananda masih menyusu dulu

Mamak...
ananda hanya bisa menatap pigura
ananda hanya mampu mendengar suara dari telepon tanpa kabel
ananda hanya bisa melebur doa untuk ditembuskan ke langit
semoga dikau, Mamak
dan lelaki tercintamu, bapak
bisa ananda bahagiakan hingga ke surga

17.59 saat kepala berdentum menderu-deru.

Monday, December 9, 2013

Hujan Silam, Hujan Dewasa

Hujan selalu berbisik
tentang kenangan-kenangan
tentang janji-janji masa depan
pun tentang keresahan

Kita selalu menari
dahulu di bawah tempias hujan
menjulurkan jari-jari kita di bawah atap mamak
kemudian berlarian pulang disebab dingin yang menyergap
lalu segelas teh hangat siap di bawah tudung saji
kemudian kita mengeluh tentang jari-jari yang mengerut atau bibir yang gemetaran
disusul tentang cerita keong lambat yang berhasil kita tangkap dan pindahkan dari rinai deras

Semenit dua menit kita menguap satu-satu
berlarian mengepung diri di atas seprai hangat berbau daster mamak
saya bercerita banyak
kau mengangguk sambil menyisiri rambut saya dengan jemari kekarmu
lalu mamak datang menggelitiki kaki kita satu persatu

Wahai, Bapak
hujan dewasa ini tak lagi ceria seperti hujanku silam
ada banyak derap beban di setiap rintihnya
tak ada lagi mandi di bawah deras hujan
tak ada lagi teh manis yang mengepul
tak hadir lagi gulatan canda di seprai biru tua milik kita bertiga
hanya mendengar suara kalian, bapak mamak
dari sebuah benda kotak hitam tanpa lilitan kabel
ditemani rinai tetes hujan
saya jauh
ribuan kilometer
mendekap rindu yang bersesakan
adakah pulang nanti bisa kita bermain hujan lagi, Bapak?

16.49 ketika Makassar diderap hujan dan tugas semakin mencekam menyentuh deadline

Sunday, October 27, 2013

Perempuan Berjemari Cahaya dan Lelaki Pemanggul Kebahagiaan

Kalian
ketika Juli dan Agustus terbit
cahaya kalian bersinar menembus kaki-kaki langit
di saat Juli dan Agustus lahir
di saat itu pula janji kalian melahirkan kebahagiaan terpahat di hunjaman bumi

Perempuan berjemari cahaya,
kau menunjukiku jalan dengan daun berwarna-warni berguguran di atasnya
kau memetakan segala semak yang akan dilalui kaki kecilku
kau menebas ilalang yang menghalau langkah getirku
kau tampar segala ragu yang menohok mimpi-mimpiku

Lelaki pemanggul kebahagiaan,
kau gariskan bujur yang panjang bernama suka
bahagia
cinta
kasih sayang
penerimaan
ketulusan
segala kesabaran
untukku
yang kau sebut perempuan hebat yang hadir dalan hidupmu

Perempuan berjemari cahaya yang kupanggil Mamak,
senantiasa doa ini menggedor-gedor arsyiNya untuk bahagiamu
Lelaki pemanggul kebahagiaan yang kusebut Bapak,
tak luput bibir kecil ini merapal segala pinta dariNya untuk bahagiamu pula

Kalian,
adalah hadiah terbesar dari Dia dalam hidup saya.

17:41
Ketika tugas menumpuk dan merasa lelah yang sangat menghampiri, menatap pigura kalian berdua, membuat semangat saya berpacu ratusan kali lipat. Mama, Bapak, doakan Ananda. :')

Sunday, May 19, 2013

Bunuh Rasa Itu, Mama!

Mama, tolong gugurkan kesedihan yang sedang bersemi dalam relung hatimu. Usap hingga tandas buliran air matamu. Hempas jauh hingga lenyap kesedihan yang menggantung di langit-langit kehidupanmu. Usir semua rasa sesak yang mengetuk jiwamu. Saya sedih melihat kau sedih. Sudah cukup rasanya bagi saya, merasai kesedihan lewat potongan-potongan kisahmu yang telah lalu. Sungguh, itu terlalu menyesakkan buat saya. Pun kau, yang dahulu adalah seorang gadis kecil, pastilah jengah menghadapinya. Tapi kau kuat, Mama. Kau kuat.

Bukankah dulu, saya pernah berucap, bahwa ketika saya menjadi seorang yang berguna, tak akan saya suguhkan nampan kebahagiaan kepada orang lain, sebelum kau yang terlebih dahulu menyicipinya. Mama, tolong, hilangkan gundah gulanamu. Air matamu bagaikan telaga suram bermendung duka bagi saya, sangat menyakitkan ketika saya harus menyaksikan kau bermuram, Mama.

Lekas, cepat atau lambat, waktu akan menikam rasa sedih itu, Mama. Tuhan tak tidur, Mama. Dia akan menggerakkan tanganNya untuk menuliskan kisah bahagia dalam lembar hidupmu. Mama, saya mencintaimu sampai waktu mencapai entah. Sampai angin berembus entah. Sampai laut berombak entah. Tak ada bantah.

Mama, bunuh semua rasa sedihmu. Saksikan saya, anakmu, cintamu, sampai pada titik membawa secawan rasa manis yang tak akan habis buatmu. Catat janji saya, Mama.

-Sore yang mendung, teruntuk wanita paling hebat dalam hidup saya, Mama Wati. :')

Friday, October 19, 2012

Senja di Mata Ibu



Ibu
matahari sudah sempurna di telan kaki langit
malam ini gelap, Bu
malam ini sempurna mengaburkan segala pandangan
tanpa lampu duapuluhtiga watt ini
aku buta, Bu

Ibu
kau tahu kan hal yang paling kusukai di dunia ini?
yah, salah satunya ketika melihat matahari
matahari yang menggelincir jatuh
meninggalkan jejak kuning keemasan saat kepala mendongak

Ibu
tapi aku paling menyukai senja di matamu
senja yang menyejukkan, Bu!
sembari kau merapikan anak-anak rambut di dahiku

Ibu
tapi di sini aku tak menemukannya
hanya segelintir cahaya senja langit
dan bukan senja di matamu!

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...