Thursday, May 16, 2013

Judul Malam Ini

Jarum jam masih berdetak angkuh
merasa ialah yang paling berkuasa atas kita
menunjukkan tak ada satupun yang bisa mematok langkahnya

Saya terdiam. Tak ada yang bisa saya lakukan selain menutup mulut rapat-rapat. Buku-buku jari memutih. Lalu saya menangkupkan bola mata. Meresapi renyah angin yang menelisik ke dalam pori. Kepala saya mengaung. Membentuk satu pola: Rindu

Sunday, May 12, 2013

Titik

Kepala saya seperti diketuk-ketuk selusin tamu. Saya jengah. Saya mencoba mencari cara agar dapat menghilangkan kejengahan itu, walau saya sadar itu tak akan mudah.

Seperti malam ini, ketika deru kipas angin menemani detik sunyi saya di ruang berbatas ini, kamu mengirim pesan di telepon genggam saya. Saya terpekur. Telepon genggam saya menjerit lembut. Kamu bertanya hal yang sayapun jengah merasainya. Saya sudah baca pesan kamu. Saya pahami isinya.

Lalu? Saya rasa, kamu terlalu berlebihan. Kagum saya kamu artikan melewati dari arti sejati kagum itu sendiri. Saya beri kamu penegasan. Saya teliti bau kalimat saya. Jejak kata saya. Wujud klausa saya. Yang mana? Lalu kamu menggeleng. Entah.

Saya ingin membangun simpul indah dengan tali-tali itu. Simpul yang orang kebanyakan menamainya persahabatan. Saya yang terlalu bersemangat? Atau kamu yang menafsirkannya lebih? Pun saya tak bisa mengelak bahwa saya kagum atas kamu. Atas kerja cerdas kamu. Atas sorot mata kamu. Namun sungguh, berhati-hailah menafsirkan sandi-sandi itu. Saya takut. Terlalu takut.

Harapan-harapan yang kamu anggap meruntuhkan saya, bahkan belum sama sekali terbangun di hati saya. Saya tidak pernah mengikat tali pada tiang yang salah. Saya belajar meraba mozaik-mozaik itu agar tak salah tempat. Tenang, pun saya tak pernah mendefinisikan barisan kalimat kamu sebagai pengungkapan. Tidak. Dan kamu meminta agar saya tak pernah membuka definisi itu karena katamu kamu orang yang salah. Saya sadar, pun saya orang yang salah untuk kamu. Salah. Dan tak akan pernah benar di sisimu.

Untukmu pecinta malam. Di tengah kantuk yang menderu. Selaksa kata ini pengantar tidur saya. Terimakasih untuk telah mencoret warna indah dalam hidup saya.

Wednesday, May 8, 2013

Pulang

Ini saatnya aku pulang
rumah yang kutuju itu kamu
pintu itu masih terbuka, kan?
aku ingin mengitari perputaranmu
meminjam cahayamu
membagi dukaku
dan menenun bahagiaku
bersamamu

Friday, May 3, 2013

Memanggilmu

Menjemput hujan dengan segenap awan merindu
menyanyikan tiga puluh lagu kesedihan
sambil mengundang petir dengan caci maki
tak lupa menggendong sepi di atas ubun

Kamu masih terpaku di sudut kelam
mengais cerita yang tertinggal di sana
di bola mata redupku
kamu masih menyemai sajak
sungguh, saya tak butuh

Dan saya
dengan segenap onggokan jiwa saya
Dan saya
dengan jutaan partikel rindu saya
Dan saya
Dengan beribu buih harap saya

Memanggil kamu pulang...

Salam Pagi

Saya menyukai bau pagi
menyukai gemerisik rerumputan di ujung sepatu
mencintai dingin embun yang menelisik

Seperti pagi ini
ketika kaki mulai menyentuh tanah halaman
secercah cahaya matahari mengerumuni
bernyanyi menyambut hari baru
melantunkan salam pada yang mencipta

Saya kembali terlahir
menjemput selaksa asa
di ujung tempurung otak
cita-cita tercetak telak
saya yakin akan sampai
semua akan tercapai

Jumat Mubarak!

Thursday, May 2, 2013

Padamu Guru

Menjajari kedipan kelopakmu
melirik sejenak untuk menyapu seisi ruang
matamu merah terdedah debu kapur
bajumu mengusut hasil terpaan tanganmu yang terpapar putih kapur

Sepeda tuamu jadi saksi
ketika pagi baru terlahir
roda-rodanya bernyanyi semangat
pun ketika siang menyentuh
ia tetap setia walau berderit lelah

Awal tanggal bibirmu melekuk senyum
ada beberapa lembar ribuan di tangan
hasil memerah tenaga empat pekan
harapmu cukup mencerah tiga puluh ke depan

Terimakasih atas segalanya
yang tak akan sempat terbalas jasa
mungkin hanya lewat kata dan doa
semoga Tuhan membalas syurga

Untukmu, para pendidik sejati

Thursday, April 25, 2013

Daun Cinta

Tumbuh tunasnya berserakan
terbawa benihnya oleh angin timur
mendesak
memecah pertahanan
menelusup pelan serupa senapan lirik
lalu hinggap lama membangun rumah

Usir
tepis ia
jangan sampai ia menjadi betah di kantong hatimu
bunuh ia dengan racun terbaik
jangan tawarkan candu lagi
membiarkannya tumbuh
sama saja dengan membuatnya sakit

Namun
ialah daun cinta
semakin kau injak
semakin ia bertunas ganas
bertambah kau bunuh
semakin ia bertumbuh puluh

Bukan membiarkan
namun mungkin ia akan tak tahan
lalu ia hilang di balik awan

Tuesday, November 13, 2012

Kita, Menanti Hujan



November kali ini terlalu terik, bukan?
kita, kau dan aku
di pelataran kampus ungu
sambil membuang pandang pada keramaian

"Sayang yah, November tak bercinta dengan hujan kali ini!"
kau berujar pelan
aku tersenyum, kemudian mengangguk
anak-anak rambut di dahiku melekat oleh peluh
kau merogoh sapu tangan biru andalanmu
lalu menyeka bulir-bulir yang merembes

November terlalu terik
hujan tak kunjung datang, artinya
kita, kau dan aku
tak bisa bermain hujan
sambil sesekali berbaring di bebasahan
lalu berdecak dengan becek
kemudian menghirup teh hangat bersama

Malam, 7:03 PM

Saturday, October 20, 2012

Ketampanan Bapak



Sore yang teduh
(bisa kulihat tangan bapak?)
ada apa?
(aku ingin melihat guratan cinta di sana)
ah, kau ada-ada saja
-kemudian kau mengacak-acak rambutku-

(Ada segaris kasar melintang di tanganmu, Pak!)
haha, itu hanya sedikit kenangan ketika bapak bekerja keras di tengah terik
(apakah itu melelahkan, Pak?)
-lalu kau menatapku, dan menggeleng mantap-
tidak, sama sekali tidak
(benarkah?)
ya, kerana semuanya bapak lakukan demi kau dan ibumu
-terharu-
dua wanita yang bapak cintai

Bapak, aku mencintaimu karena Allah :')

Friday, October 19, 2012

Senja di Mata Ibu



Ibu
matahari sudah sempurna di telan kaki langit
malam ini gelap, Bu
malam ini sempurna mengaburkan segala pandangan
tanpa lampu duapuluhtiga watt ini
aku buta, Bu

Ibu
kau tahu kan hal yang paling kusukai di dunia ini?
yah, salah satunya ketika melihat matahari
matahari yang menggelincir jatuh
meninggalkan jejak kuning keemasan saat kepala mendongak

Ibu
tapi aku paling menyukai senja di matamu
senja yang menyejukkan, Bu!
sembari kau merapikan anak-anak rambut di dahiku

Ibu
tapi di sini aku tak menemukannya
hanya segelintir cahaya senja langit
dan bukan senja di matamu!

Sunday, September 23, 2012

Tuhan



Bismillahirrahmanirrahiim...

Tuhan
aku hanyalah setitik debu di gurun angkasa
melayang tanpa rasa
beterbangan tanpa sayap

Tuhan
di sela-sela jemari-Mu
ada aku yang meringkuk dan berharap
menyapu segala asa yang masih tercecer
di sini gelap
gelap tanpa dian-Mu

Tuhan
bolehkah ku kirim sepaket pintaku?
ah, semoga saja aku tak mengada-ada
yah, semoga

Malam, 6:52 PM

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...