Friday, August 7, 2015

Sedang kita menyusun begitu banyak kalimat untuk ditulis dan melesat terbang melalui satelit, saya ingat, betapa kamu mencinta saya sampai entah.
Sepotong-sepotong pesan pendek di dua puluh tiga tiga puluh empat.

Sunday, August 2, 2015

Tik!

Kamu tahu? Di kota saya, hujan sedang menderas. Apa kabar kotamu yang panas?

Saturday, August 1, 2015

Menunggu Hujan

Malam ini saya terpekur membuang tatap jauh ke angkasa. Bulan bersinar penuh. Bintang-bintang sedang angkuh memamerkan sinarnya. Saya murung, menunggu hujan yang enggan hadir dari kemarin. Kemaraukah? Artinya, tanah bakal meranggas. Tanaman-tanaman akan bekerja lebih banyak untuk mendapat air di dalam tanah. Ayam-ayam akan terkantuk-kantuk melawan hawa panas di ranting pohon asam, kucing-kucing di rumah akan berdiam diri di bawah naungan pohon jambu, dan adik kecil anak tetangga akan bolak-balik membasuh wajahnya di keran air depan rumah. Saya? Mungkin akan lebih banyak berdiam di kamar, bersitatap dengan deru kipas angin, sambil menyesap es sirop dan mengunyah kacang bawang.

Menunggu hujan sambil memikirkan kamu, adalah perpaduan paling menyedihkan yang pernah saya punya.

Butuh Berapa Banyak?

Ah, butuh berapa banyak keberanian untuk mengungkapkan sayang kita pada yang dicintai?

Butuh berapa banyak rasa sabar untuk menghadapi tangis bocah nakal yang merengek minta es sirop di pagi yang hujan?

Butuh berapa banyak kesetiaan untuk tetap menunggu dia yang belum jua tiba mengetuk pintu rumah kita?

Butuh berapa banyak degup untuk membuktikan betapa kita gugup berhadapan dengan dosen penguji di sidang skripsi?

Butuh berapa banyak uang agar bisa membawa pulang telepon genggam seri terbaru dari gerai telepon?

Butuh berapa banyak tangis untuk mengisyaratkan betapa sakitnya kaki kita saat terantuk batu?

Dan, butuh berapa banyak hari lagi untukmu, agar sampai padaku, dan menjawab semua pertanyaanku tentang berapa banyak ini, Tuan?

Rumah, 15:49

Singkat Saja

ke dalam matamu
saya  melesat
masuk semakin dalam
seraya menahan sesak
hei, saya rindu!

Sunday, May 24, 2015

Teruntuk kalian; Dua "Stroberi Berbeda" yang Telah Dia Toreh Berdampingan

"A successfull marriage requires falling in love many times, always with the same person." --Mignon Mclaughlin--



Pagi tadi rerintik memeluk bumi, sepersekian waktu kemudian, kalian akan saling berikrar sehidup semati; hingga jannahNya. Doa melangit deras teruntuk kalian berdua; jiwa-jiwa penuh cinta yang sedang menuai semi.

Wednesday, May 13, 2015

Tari; Perempuan Penuh Senyum yang Pernah Saya Temui

"If you see a friend without the smile; give him one of yours!" --Anonymous--


Ada banyak hal-hal sederhana di dunia ini yang bisa membuat saya jatuh cinta, salah satunya senyum yang lahir dari sabit-sabit bibir seseorang.

Monday, April 6, 2015

Untukmu, Shalihah



Amma...
menyemai usia duapuluhdua dirimu kini
banyak doa yang bertebaran di langit-langit kamar saya
di luar masih hujan
mengetuk-ngetuk jendela
setiap bulirnya
ada doa yang melangit
membuncah dari bibir

Amma...
berbilang tahun saya mengenalmu
kamu
menjadi satu dari sekian hadiah yang Dia berikan buat saya
kemudian
banyak semoga yang melesat buatmu
semoga
semoga
semoga
semoga

kebaikan menyertai setiap hentak langkahmu
berkah menyemai di setiap ucap lisanmu
bahagia memancar dari setiap tatap irismu
syukur mengalir dari setiap perolehanmu

semoga pula
ini bukan bilangan usia terakhir milikmu, dimana saya menjadi saudaramu
iya, kan?

semoga pula
kamu semakin keren


Teruntuk saudariku tercinta, Rahma Afnan, tetaplah bertumbuh menjadi gadis yang menyenangkan.


Sunday, April 5, 2015

Aku(t)



Namanya Nurul
gadis empatbelas tahun
wajahnya kebas merah, seperti cemas
cemas menanti seseorang di perempatan jalan
sebentar-sebentar, dia mengusap wajahnya dengan selembar tisu
lalu menoleh berulang-ulang pada jam tangannya yang melingkar
kepalanya dipenuhi tanya
kapan?
akankah dia datang?
bukankah kemarin dia sudah berjanji untuk bertemu sore ini?
lalu bersama-sama pergi menyaksikan pertandingan voli di lapangan kampung sebelah
kemudian mengapa dia belum jua datang?
dua jam berlalu
kakinya mulai keram
hatinya perih
tersayat
matanya mulai panas membendung air
kemudian dia berbalik
memutuskan menghapus ingatan tentangnya
lalu menelan bulat-bulat sesak sakit yang dia rasakan
kembali pulang

Tantangan permainan frasa dari Dik Yuyung.

Kotak Aj(aib)

Tv hitam putih berkedap-kedap lemah di ruangan tengah
bapak sedang sibuk menyetel parabola
aku duduk berselonjor malas
duh, apa guna menyaksikan berita yang hanya mencekoki kita dengan ajaran pluralitas yang menikung jauh dari nilai moral?
aku membuang pandangan
menjatuhkan tatapanku pada buku yang kugenggam
kalau kata mamak
menyaksikan acara tv sekarang ini efeknya membuat kepala buntu
sama ketika kau berlebihan mengonsumsi masako dalam masakan
hasilnya persis, kan?
sama-sama membunuh secara perlahan
membuat intelektual kerdil
akibatnya berantai, mengular sampai batas entah


Tantangan permainan frasa dari Dik Tari


.

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...