Thursday, April 25, 2013

Daun Cinta

Tumbuh tunasnya berserakan
terbawa benihnya oleh angin timur
mendesak
memecah pertahanan
menelusup pelan serupa senapan lirik
lalu hinggap lama membangun rumah

Usir
tepis ia
jangan sampai ia menjadi betah di kantong hatimu
bunuh ia dengan racun terbaik
jangan tawarkan candu lagi
membiarkannya tumbuh
sama saja dengan membuatnya sakit

Namun
ialah daun cinta
semakin kau injak
semakin ia bertunas ganas
bertambah kau bunuh
semakin ia bertumbuh puluh

Bukan membiarkan
namun mungkin ia akan tak tahan
lalu ia hilang di balik awan

Tuesday, November 13, 2012

Kita, Menanti Hujan



November kali ini terlalu terik, bukan?
kita, kau dan aku
di pelataran kampus ungu
sambil membuang pandang pada keramaian

"Sayang yah, November tak bercinta dengan hujan kali ini!"
kau berujar pelan
aku tersenyum, kemudian mengangguk
anak-anak rambut di dahiku melekat oleh peluh
kau merogoh sapu tangan biru andalanmu
lalu menyeka bulir-bulir yang merembes

November terlalu terik
hujan tak kunjung datang, artinya
kita, kau dan aku
tak bisa bermain hujan
sambil sesekali berbaring di bebasahan
lalu berdecak dengan becek
kemudian menghirup teh hangat bersama

Malam, 7:03 PM

Saturday, October 20, 2012

Ketampanan Bapak



Sore yang teduh
(bisa kulihat tangan bapak?)
ada apa?
(aku ingin melihat guratan cinta di sana)
ah, kau ada-ada saja
-kemudian kau mengacak-acak rambutku-

(Ada segaris kasar melintang di tanganmu, Pak!)
haha, itu hanya sedikit kenangan ketika bapak bekerja keras di tengah terik
(apakah itu melelahkan, Pak?)
-lalu kau menatapku, dan menggeleng mantap-
tidak, sama sekali tidak
(benarkah?)
ya, kerana semuanya bapak lakukan demi kau dan ibumu
-terharu-
dua wanita yang bapak cintai

Bapak, aku mencintaimu karena Allah :')

Friday, October 19, 2012

Senja di Mata Ibu



Ibu
matahari sudah sempurna di telan kaki langit
malam ini gelap, Bu
malam ini sempurna mengaburkan segala pandangan
tanpa lampu duapuluhtiga watt ini
aku buta, Bu

Ibu
kau tahu kan hal yang paling kusukai di dunia ini?
yah, salah satunya ketika melihat matahari
matahari yang menggelincir jatuh
meninggalkan jejak kuning keemasan saat kepala mendongak

Ibu
tapi aku paling menyukai senja di matamu
senja yang menyejukkan, Bu!
sembari kau merapikan anak-anak rambut di dahiku

Ibu
tapi di sini aku tak menemukannya
hanya segelintir cahaya senja langit
dan bukan senja di matamu!

Sunday, September 23, 2012

Tuhan



Bismillahirrahmanirrahiim...

Tuhan
aku hanyalah setitik debu di gurun angkasa
melayang tanpa rasa
beterbangan tanpa sayap

Tuhan
di sela-sela jemari-Mu
ada aku yang meringkuk dan berharap
menyapu segala asa yang masih tercecer
di sini gelap
gelap tanpa dian-Mu

Tuhan
bolehkah ku kirim sepaket pintaku?
ah, semoga saja aku tak mengada-ada
yah, semoga

Malam, 6:52 PM

Monday, July 9, 2012

Teach Your Children Well



Meminjam salah satu judul tulisan blogger favorit saya, judul ini memancing otak kanan saya untuk menulis hal-hal yang menjurus pada kebiasaan orang tua, khususnya para ibu dalam mendidik buah hati mereka. Sangat disayangkan, jika anak-anak mungil nan lucu itu tumbuh di bawah bimbingan yang berbau serba kekerasan dan tendensi dari orang tua mereka sendiri.

Friday, June 15, 2012

Karena Kita Adalah Dua Stroberi Berbeda



Baiklah, akan kuceritakan kepadamu, mengapa aku mencintai gadis ini. dialah yang akan menjadi tokoh utama dalam ceritaku. Aku bertemu padanya-lebih tepatnya jatuh sayang padanya- sejak ia menjadi juniorku di kampus. Kami dekat. Dekat sebatas kakak senior dan adik junior. Dia menghormatiku, dan tentu saja aku menghargainya. Namun akhirnya perasaan yang sudah lama tak pernah kutengok sejak gadisku sebelumnya-yang kini tidak lagi- pergi melanjutkan studi di negeri daun merah itu. Yah, perasaan yang membuatku tercekat, kemudian terperangah. Aku jatuh cinta pada gadis itu.
Ada yang salah dari persaudaraan kami selama ini. ia yang sudah kuanggap adik, namun dengan sejuta perasaan tak bersalah yang ia miliki, ia menerobos dinding sekat perasaanku. Aku mencintainya bukan tanpa alasan. Ia seperti pelengkap kebahagiaan juga kesedihan dalam hatiku. Aku mencintainya ibarat aku mencintai pelukan hangat ibuku, mencintainya seperti disaat aku merindui nasihat bijak ayahku, juga mencintainya seperti saat akau menertawai suara cadel adik kecilku. Yah, sederhananya, aku mencintainya.
Tepat setelah aku menemukan hari dimana aku bisa menyatakan rasa ini, bukan untuk memacarinya, tapi untuk menjadikannya pengisi kepingan yang melompong dalam hatiku. Ia tersipu. Aku mengerti. Ia berbeda dari gadis yang lain. Ia tak sama. Itulah yang membuatnya spesial di mataku. Ia mengangguk pertanda ia ingin aku persunting secepatnya. Aku bodoh. Itu masih terlalu jauh. Ia masih duduk di semester awal, sedang aku sendiri belum merampungkan kuliahku. Tapi ketika ia mengangguk menyetujui untuk mengikat tali berkomitmen denganku, entah mengapa aku serasa ingin berteriak, meluapkan rasa bahagiaku. Siang itu, kupandangi punggungnya yang berbalik meninggalkanku yang masih tersipu. Jilbab anggunnya terangguk dibelai angin di bawah pohon ketapang tempatku duduk. Ia indah.
***

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...