Wednesday, June 5, 2013

TU(nggu)AN

Tuan, kaki kita belum menapak di tempat yang sama
tapi kita selalu saksikan hujan yang serupa, kan?
hujan yang menari tertawa-tawa
dan gemerutuk tuturan awan

Tuan, selalu ada cerita dari detik yang kemarin
serumpun kisah yang mungkin telah tergores jauh hari sebelumnya
ah, ini bukan tentang yang kita selalu guratkan
mencari sepotong cinta lebih sulit daripada mencungkil segenggam timah

Tuan, mungkin ini belum usai
belum sepenuhnya hilang
dari buku-buku kehidupan kita
ini belum lekang dari pergeseran detik
masih menghujam di dentum dada kita

Tuan, ingin kau rajut kembali cerita itu?
siapkanlah pena dan kertas terbaik yang kau punya!

Kampus. Saat hujan merintih-rintih. Lalu kemudian cerah tanpa sisa

Tuesday, June 4, 2013

Kota Rindu

Kunamai rindu
karena di sana lahir bulir harapan yang menyeruak
membasuh doa dengan rapalan nama
nama-nama yang dikasihi
nama-nama yang tertundatemui

Kunamai rindu
karena di sana menyeruak lebar berbagai pinta
pinta izin dipertemukan di kaki langitNya
mengoarkan bebauan ratap
ratap agar dipertemukan oleh ibu waktu

Kunamai rindu
di sana tertoreh berjuta ingin
ingin yang menggigil
lalu jiwa yang terpanggil

Kunamai rindu
olehnya dipertemukan banyak cerita di sana
cerita tentang betapa bahagia
betapa getir
betapa pahit
betapa indah
dan berjuta betapa lainnya

Kunamai rindu
sebelum kututup ia dengan titik
berharap kita dipertemukan di sana pada kata milik

19.34. Kontrakan.
Puisi ini didedikasikan khusus untuk Kota Luwuk tertjinta. Enam tahun menetap di sana, mengajarkan saya banyak hal menyoal hidup. :')

Surat Terbuka Untuk Bapak

Saya suka memerhatikan raut wajahmu, gerusan urat di wajah tua namun teduhmu, seolah bercerita tentang sejuta cerita hidup yang pernah kau lewati. Pun jemari dan lenganmu yang kokoh, seperti menjelaskan bahwa sungguh hidup ini keras. Bola matamu yang hitam serta jajaran alis matamu yang pekat dan tebal melukiskan ribuan cinta yang siap kau torehkan dalam hidup saya.

Kau sosok pendiam. Pecinta angka. Penggila sastra. Pengagum semua ilmu pengetahuan. Jujur, tiap mendengar kisah kau berjuang demi mencicipi bangku sekolah, saya menjadi malu. Malu terhadap diri saya yang terkadang bermalas-malasan di tanah rantau. Masih sering mengeluh ini itu, padahal kau sudah sekuat tenaga menyediakan segala sarana dan prasarana yang menunjang saya di sini. Ah, saya malu. Malu sekali. Malu hanya bisa mempersembahkan prestasi itu-itu saja padamu, malu hanya bisa menangis cengeng saat ada masalah. Malu. Saya malu menjadi puteri dari seorang hebat seperti kau.

Masih lekat cerita tentang kau menjadi mahasiswa sipil terbaik se-Indonesia di jamanmu. Pigura saat kening kau dikecup menteri pendidikan masih segar dipajang. Saya? Jangankan Bapak Menteri, pun rektor masih kabur soal keberadaan saya. Ah, lagi-lagi saya belum berhasil memberikan kebanggaan untuk kau.

Namun apa katamu? Saya anak terhebat. Ketika saya uraikan ini untukmu, kau kata bahwa saya sudah membanggakanmu. Kau menunjuk kepala saya sambil berkata bahwa saya anak cemerlang. Kau menunjuk dada saya lalu berujar saya anak berhati lurus. Kau tak pernah mengucap sepatah kalimatpun yang membuat saya kecewa atau sedih.

Kau orang yang cuek. Katamu, saya sakit-sakitan karena terlalu membebani suatu pikiran. Saya selalu ingin mencontoh bagaimana kau dengan begitu bijak dan tenangnya menghadapi suatu masalah dan voila! masalah seketika selesai. Saya takjub. Mama benar-benar beruntung mendapatkan lelaki sehebat kau.

Tak pernah kau berkata kasar. Memukul apalagi. Namun keseganan saya pada kau sangat besar. Keseganan yang bukan berarti takut. Tak pernah kau tunjukkan mimik tak sedap pada saya dan Mama. Kata Mama, sudah dua puluh delapan tahun kalian bersama, tak sedikitpun kau pernah membuat Mama menangis. Ah, langit, tolong aminkan doa saya agar kelak mendapat lelaki berhati dan berpemahaman lurus seperti Bapak.

Lagi-lagi, saya hanya bisa berujar dari lubuk perasa saya yang paling dalam, saya bangga mempunyai Bapak seperti kau, berjanji akan terus mempersembahkan yang terbaik yang bisa saya lakukan, berjanji tak akan pernah mengecewakan kau barang seatompun. Saya berjanji. Berjanji. Hingga laut. Hingga darah. Hingga langit.

Teruntuk Bapak saya tercinta, Ir. Adrin Sululing, Bapak juara satu seluruh dunia, terimakasih untuk segala kisah yang telah dan akan kau torehkan dalam hidup saya. Saya mencintaimu karena Allah.

Peluk cium dari Ananda,

Reski Puspitasari A. Sululing

Thursday, May 30, 2013

Kamu = Obat

Tak terasa sudah dua tahun kita bersahabat. Sahabat? Bukan, kita bersaudara. Mengenal kamu di awal-awal saya melepas putih abu-abu saya. Merasai persaudaraan manis bersama kamu adalah salah satu dari sekian banyak hadiah indah dari Tuhan, dan salah satu dari sedikit bingkisan hebat dariNya.

Mimpi? Ah, kita berdua adalah pemimpi ulung. Kaki-kaki langit pun sudah meneguk mimpi-mimpi kita. Apa katamu? Raja Ampat, Jepang, Indonesia Open, dan, hei, banyak sekali mimpi kita berdua yang sudah tercatat dalam agenda otak saya. Tulisan kecil ini akan meledak jika harus saya sebutkan semua.

Kamu adalah obat. Kamu tahu penawar ketika saya sedih. Kamu paham pengurang rasa sakit ketika saya 'nyeri'. Kamu mafhum akan apapun yang saya rasakan.

"Jangan pusing lagi ya, saya sedih ketika kamu juga sedih." Kamu berujar perlahan sambil menepuk bahu saya. Saya menanggapinya dengan menonjok bahu kamu dan berkata kamu sok tahu. Hei, padahal dalam hati, saya memeluk dan mengikat kuat simpul kata-katamu tadi.

Saya bangga memunyai sahabat seperti kamu. Saya bahagia memunyai persaudaraan seperti ini. Kita adalah sahabat terkeren dunia akhirat!

Untuk Lista, the ugliest friend that I ever had. Hoho.
Peluk cium dari saudarimu yang cantik, Kio.
Uhibbukifillah! :')

Retak

Saya merasa kuat karena kamu. Kamu ibarat tiang yang tetap setia kokoh, saat semua tiang di sekeliling saya roboh tak tertolong. Kamu menguatkan saya. Kamu memberi saya udara lebih ketika saya diperangkap sesak. Kamu memberi saya ruang saat saya terkungkung sempit. Kamu. Hanya kamu. Tak ada spasi.

Maaf jika selama ini saya hanya menyusahkan. Pun dengan semua ocehan dan keluhan saya. Kini kamu ikut roboh. Saya mengirim pinta di langit agar Sang Pemilik Langit menghidupkan satu tiang yang lain untuk saya topangi. Saya berharap Dia mengirimkan saya tiang yang kuat dan menerima kelemahan saya dan memercayai segala kekuatan saya.

Saya tahu kamu lelah. Kamu penat dengan saya. Kamu melepas ikatan percaya yang selama ini kamu simpul kuat atas saya.

Terimakasih untuk semuanya. Saya berdoa semoga Dia hadirkan untukmu seseorang yang lain, yang bisa membuat kamu bahagia, bukan seperti saya yang hanya mengemis kekuatan dari kamu.

Nb: Postingan terakhir dengan label My Dewliver. :')

Wednesday, May 29, 2013

Tanya

Dan ketika kaki lelah melangkah, haruskah kita berputar arah?

Sepotong Teriakan

Saya berkoar dengan bahasa ini itu
berbisik merintih dengan macam cara
menulis kata dengan rajut beragam
kesemuanya, untuk senyum

Lalu saya tiba pada titik jenuh
kepala saya penuh
otak saya berpeluh
dan tangan saya lumpuh

Tak
Tik
Tak
Tik

Kaki saya melangkah ke segala arah
mencoba mengais jawaban antah berantah
tak kenal lelah
walau temui susah

Coba dengar ini
sedikit bisikan nurani
mengaung di hamparan tirani
mencoba menggapai berani
untuk kau dengar lalu temani

Cukup

Saya ingin robek mulut kau!

Persetan dengan ocehan kau!

Saya benci kau!

Mulai sekarang lepaskan ikatan ini

Sumpah dunia dan kekal, saya bukan sahabat kau lagi!

Tuesday, May 28, 2013

Abaikan Soal Judul

Kita mengecap banyak rasa. Berjalan, berbanding lurus saling berangkul. Kau sebut saya sebagai saudaramu, pun saya menggandengmu sebagai saudara. Saya mencintai kekata yang mengalir deras dari letupan-letupan bibirmu. Saya selalu bahagia saat bertemu denganmu, memeluk tubuhmu, kemudian menempelkan pipi kiri kanan saya di pipimu. Ini membahagiakan. Susah saya gambarkan dalam rangka kata.

Sampai akhirnya, kau berkata ini itu. Saya muak. Kau dengan mudahnya memapar simbol ini itu untuk seseorang. Mereka salah. Yang demikian benar. Itu berdosa. Begini boleh. Kau berdalih. Mereka neraka karena begitu. Kita syurga karena begini. Hei, Muhammad Sang Manusia Sempurna sekalipun tak pernah mengakui bahwa ia mulia, lalu bagaimana dengan kita?

Suaramu tak lagi merdu di telinga saya. Desingnya serupa cemprengan kaset rusak. Maaf jika saya keluar dari barisan ini. Entah, silakan saja kau menganggap bahwa saya adalah neraka dan kau serta sejawatmu menuai syurga. Silakan. Kalian berhak berkata. Tapi biarkan Dia yang menata.

Monday, May 27, 2013

Memupuk Rindu

Di ruang tak berparas kita dipertemukan
kaki waktu melangkah mencatat nama kita
menyatukan huruf nama kita dalam desing baris
mengabarkan kita akan perjumpaan yang tak bersua

Ibu detik memanggil kita dalam satu helaan
menjahit kisah kita dalam satu nampan
kita tak pernah mengenal perjumpaan
lipatan masa belum berkenan memberikan

Ukhti...
cukupkan buih rindu ini
jangan tangkupkan ia dalam mangkuk sepi
genapkan ia dengan berbagi
agar tak ada pedih, berkurang sedih

Saya lelah di sini
memupuk rindu dalam sesak
mengharapkan temu wajah kalian
merindui bau pertemuan dengan kalian
mengeja bagaimana rasa tertawa bersama kalian
menebak bagaimana bahagia saling berangkul dengan kalian

Ukhti...
berjanjilah kelak untuk jumpa
tak dapat di dunia
mari kita tunai temu di syurga

Saya mencintai kalian karena Sang Maha Pencinta! :')

18.32 - Tengah disesaki rindu - Didedikasikan untuk semua akhwatfilah @pedulijilbab di seluruh pelosok tanah air

Saturday, May 25, 2013

Lupa

Saya terdiam
kehabisan anak kalimat untuk dirangkaikan
saya lupa
lupa pada detik jam yang berdentang mengejar
lupa pada rentang jarak yang menganga memisahkan
lupa pada betapa jauhnya kita

Sinar jatuh mengenai iris pupil saya
menyorot cerita yang jauh tertinggal
menganyam kenangan
menenun ingatan
memahat pertemuan

Kamu
dahulu
selalu
di ulu

Friday, May 24, 2013

Mendung

Hari ini hari kelabu. Mungkin saya kurang bersedekah. Atau mungkin Tuhan ingin menegur saya dengan cara ini. Hilang.

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...