Saturday, September 14, 2013

Harap(an)

Saya tidak percaya dengan sesuatu bernama kebetulan. Semua telah tercoreti dengan tanganNya. Dengan penglihatanNya. begitu juga dengan lipatan jumpa kita, saya percaya, bahwa sebelum ruh ditiupkan pada ubun-ubun kita, segala garis tentang pertemuan ini sudah berjajar rapi dalam bukuNya.


***

Saya senang menjejali otak saya dengan kalimat pengharapan, walau saya paham benar, bahwa pengharapan, dengan selalu akan menukar apa yang telah saya bangun menjadi tidak berkesesuaian. Hampa tanpa korelasi. Kosong tanpa jawaban. Menggaung tanpa ada pengisi.

Ini menjadi berbeda ketika jumpa hadir di antara saya dan kamu. Saya berani untuk berharap. Saya mampu untuk membangun mozaik-mozaik pinta padaNya. Saya tak melahirkan keraguan atas itu.

Cinta?
Entah. Kata itu sudah lama tak ada dalam batok kepala saya. Mungkin jawabannya bisa iya. Condong ke iya. Saya tengah berada dalam perahu yang mengapung di lautan bernamakan cinta.

Cinta ini membuat saya berani meletupkan harapan atas kamu, Tuan.

Pagi, 9:48


Wednesday, September 4, 2013

D!

saya ingin menikahimu di ujung belati
saya
membisikkan mantra-mantra
kematian sambil mengusap ubun-
ubunmu dengan rapalan doa sekarat
lalu saya ingin menjelma menjadi
dongeng buta di sudut bantalmu
menanak diri saya menjadi mimpi
buruk yang tak punya ujung
kemudian meniupkan kenangan itu
(lagi) di pelupuk memorimu
sembari berlalu, meninggalkanmu
yang berdarah-darah

(Reski, di ujung pagi)

Monday, July 15, 2013

Rumah Baru

Rumah. Tidak begitu megah. Yang jelas itu adalah ibu dari mimpi-mimpi kita yang akan lahir. Semoga meraup berkah di dalamnya. :')

05.48

Tuesday, July 9, 2013

Kemungkinan

Ada banyak kemungkinan yang tumbuh subur di kepala saya. Kemungkinan bahwa usia rindu yang saya miliki untuk kamu, bahkan jauh lebih tua dari usia kita berdua. Kemungkinan bahwa  rasa rindu itu ingin segera dipensiunkan dengan penggenapan jumpa. Lalu kemungkinan tentang betapa rasa rindu itu belum menemui titik balik menjadi lipatan temu. Jauh. Terlalu jauh.

Saya ingin memangkas kemungkinan ketiga. Bahwa titik temu itu masih jauh. Tidak, detik-detik semakin mengalir deras menuju muara pertemuan kita, lipatan waktu terpenting dalam samudera kehidupan kita. Saya benci mengapa kemungkinan ketiga itu sangat susah untuk saya matikan dalam lahan kepala saya. Maksud hati ingin mematikannya dengan racun terbaik, namun waktu mengubahnya menjadi pupuk terhebat.

Saya rasa kemungkinan ketiga itu sudah semakin dewasa sekarang. Ia sudah paham bahwa kemungkinan keempat akan segera lahir. Ia tak bisa membantah apalagi menebas waktu. Kemungkinan keempat, bahwa rasa rindu itu akan ditebas habis oleh pertemuan yang tak pernah usai.

Malam. Oleh kamu. Dan untuk kamu.
S.A.F

Saturday, July 6, 2013

Perempuan Hujan

Ketika air mengetuk-ngetuk ibu jari
saya temui kamu di tepian nafas hujan
menggantung lemah di sisi yang memudar
lalu memghilang perlahan ditelan derap-derapnya
saya melukiskanmu dengan kuas tanpa tinta
lalu membiarkan molekul udara yang membentuk diri menjadi rupamu

Saya tak ingin melupa. Sama sekali tak
membiarkan wujudmu menguar seperti bebauan tanah basah
tak memusingkan kenanganmu yang menjamur seperti kunang-kunang cahaya

membiarkan kamu menebar benih subur di kepala saya adalah cara terbaik melenyapkan kamu dari semak ingatan saya

Malam. 22.01 dengan segenap sesak

Super Quality Time

Sudah sepekan ini saya tidak berkeliling di dunia maya, terkait kepulangan saya di rumah. Saya benar-benar ingin menghabiskan waktu liburan dan mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat serta hangat bersama keluarga.

Saat sampai di rumah, sehari setelahnya, saya mematikan koneksi internet smartphone saya. Saya bertekad untuk fokus mengisi waktu liburan murni dengan keluarga. Maka mulailah saat itu, saya menghabiskan waktu dengan bereksperimen masakan ini itu di dapur (foto akan menyusul), berkebun dengan Mama tercinta, latihan debat bahasa Inggris dengan Bapak yang selama ini saya rindukan, bermain full time bersama ponakan-ponakan tercinta, menikmati panorama hamparan laut setiap matahari terbit dan terbenam bersama Mama, serta banyak lagi.

Liburan masih menyisakan banyak detik. Saya harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

Sungguh, tak ada tempat seindah rumah. :')

Sunday, June 30, 2013

Rumah

Di sini saya menggali sejuta cerita
lalu kemudian saya temukan banyak puing bahagia.

Karena rumah, adalah jalan pulang yang selalu kita tempuh. Sejauh bagaimanapun kita melangkah.

Liburan. Pantai. Gunung. Serta hiruk pikuk kota kecil.

Friday, June 21, 2013

S.A.F

Kurang lebih sudah enam ratus hari saya mengenal kamu. Lipatan detik sudah jatuh menekuk jauh di bawah kaki saya. Entah, sudah berapa kenangan yang terlampaui. Sudah berapa banyak cerita yang tergerus di kaki-kaki detik. Saya, di pagi ini, takjub menatap embun yang membiaskan perkenalan kita.

Kita punya awalan yang tak tertebak. Pun mungkin akhir yang belum bisa diterka. Saya dan kamu yakin, bahwa ketika hari melahirkan berjuta kawasan subur untuk rindu, maka pastilah ia telah mengandung banyak lahan untuk pertemuan. Saya dan kamu tahu pasti, ketika rindu menggeruskan rasa sakit saat ini, pasti ia telah menyediakan obat jumpa untuk menawar segala perih.

Biarkan awan itu meletup-letup di langit
toh, pada akhirnya kita jumpa dengan nama kasih

S.A.F

Thursday, June 20, 2013

Cerita Perempuan Senja

Kita berlalu menapaki pematangan waktu. Menjejakkan langkah seribu menebas potongan detik. Kamu dan saya paham. Sangat paham. Akan ada badai hadir di menit-menit setelah ini. Namun, kamu dan saya yakin. Sangat yakin. Bahwa ada sesuatu yang mengatas namakan diri dengan cinta, yang mampu merobek badai-badai itu.

Kita seperti kalut. Apakah ini salah? Kamu dan saya menggeleng pasti. Ini tidak salah. Hanya sedikit ketidakbiasaan dari orang sekeliling kita. Mereka belum paham. Belum menangkap apa sesungguhnya yang sedang kita centangkan. Kamu lelah? Saya tidak. Jika kamu bertanya dengan pertanyaan yang sama, maka saya akan menggeleng kuat dan berkata tidak dengan yakinnya seyakin saat saya ditawari neraka.

Saya tahu, kita sedang waspada menanti cercah saga esok hari. Entah bagaimana sampul akhir cerita kita. Tidak ada yang bisa menebak. Namun saya akan pastikan, hanya ada dua akhir dari kisah kita; kamu tersenyum pada saya dan saya bahagia, atau saya tersenyum padamu dan kamu bahagia.

Perempuan senja yang kamu cintai

Hyuga Kio

.

Dan jangan pernah melupakan. Karena lupa adalah lahan subur bagi kenangan.

Monday, June 17, 2013

Kekata adalah Kita

Mengapa?
sebab senyum kita adalah kekata
tawa kita mengartikan sebab
cerita kita adalah ungkapan
kebersamaan kita menguak kisah

Lipatan waktu berbaik hati mempertemukan kita. Di detik kesekian. Kita bersahabat. Menjalin cerita bersama. Detik bergulir. Ada-ada saja cerita yang kita lukis. Bahagia iya. Sedih tentu saja ada. Marahan? Jangan tanya lagi kalau soal itu. Ah, terlalu banyak coretan yang telah kita buat.

Kekata adalah kita. Sempurna deretan abjad yang telah mencoreti lembar persaudaraan kita.

Kemudian, apa kata kau? Saya orangnya kekanak-kanakan. Haha. Memang. Saya masih labil. Jujur, saya iri padamu. Bagaimana bisa kau menyelesaikan suatu pukulan masalah dengan begitu dewasanya? Bagaimana? Saya belum bisa seperti itu. Jujur, selama ini saya belajar banyak darimu. Terlalu banyak hal-hal yang telah saya pelajari dari kau.

Terimakasih. Terimakasih telah menjadi sahabat saya hingga detik ini, dan beribu detik yang akan datang. Terimakasih karena telah menghadiahi saya persaudaraan hebat ini. Semoga Dia tak hanya berbaik hati mempertemukan kita di dunia ini, namun juga di syurgaNya kelak.

Kau adalah cinta di setiap hembusan detik
hadiah cantik di tiap lipatan doa
kita adalah persahabatan yang tak pernah usai

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...