Tuesday, February 11, 2014

Pejalan

Kita pejalan
berayun langkah
memikul harapan dan rapalan doa di pundak
tak henti mengingat mamak dan bapak nun jauh

Kita pejalan
tak kenal yang bernama lelah
Tak tertarik pula dengan putus asa

Sebab kita pejalan
pantang berhenti langkah kita sebelum mengena tujuan

Welcome 6th semester, I'll drive you well!!

Saturday, February 8, 2014

Setoples Rindu Untuk Kamu

Jika saya adalah hujan, mungkin rumah kamu sudah membanjir dipenuhi genangan rindu. Tidak main-main, saya rindu. Tapi sekarang saya akan mengirimimu setoples dahulu, tunggu sampai idul fitri tiba dan kamu akan melihat betapa tumahmu telah sesak dengan ribuan toples rindu dari saya.

19.08 ketika gelap mulai menyelimuti.

Monday, January 6, 2014

Confession 1: I am a Bolliwood Lovers

I am an Indian who trapped in Indonesian body. Ini postingan pertama saya di tahun 2014, dan saya harus mengakui bahwa saya adalah salah seorang penggemar berat film- film Bolliwood. Saya menyukai film Bolliwood dengan bahasa Hindi asli.
Saya memang sudah menjadi penggemar film India sejak duduk di bangku kelas lima SD. Bahkan, saya sudah hafal lirik-lirik lagu berbahasa Hindi sejak dulu. Pun sekarang, ketika orang mengutak-atik laptop atau handphone saya, maka mereka akan menemukan list lagu India yang bisa dikatakan cukup banyak.
Mama saya adalah penggemar drama India. Beliau hafal banyak nama pemain film India, idolanya tetap Shah Rukh Khan, begitu pula saya. Di sekumpulan keluarga, rata-rata kami adalah penikmat karya seni dan sastra, tapi sayalah yang paling tergila-gila dengan film India.
Saya selalu terpesona dengan setingan di film-film Bolliwood tersebut. Memang, kisah cintanya klasik, namun aktig memukau serta konflik yang tidak murahan menjadi daya tarik tersendiri buat saya.
Terakhir, jika sedang galau, setelah AlQuran tentunya, obat mujarab galau untuk diri saya adalah film-film India.

NB: Ah, ya, besok-besok saya akan membuat lebih banyak pengakuan lahi di sini.

Monday, December 23, 2013

Rintik (1)

Coba kita, saya dan kamu
peluk rintik itu satu-satu
merasai sejuknya ketika merembes di bawah kaki tanpa sepatu milik kita
ada satu dua cerita yang belum tuntas di sini
di saat kamu, Tuan
menghadap timur
temui tuhanmu
dan rapal-rapal doa

Wednesday, December 18, 2013

Sajak Gerimis; tentang kita yang tak pernah menemui kata sudah

Terkadang di pelepah rintik aku temui bebayang matamu. Ada satu-satu rindu yang merembes ke sini. Di kepalamu mungkin terlalu banyak lahan kenangan tentang saya. Pun di kepala saya, sila kau tengok kemari.

Ada satu dua hal yang sulit kita mengerti, mengapa Tuhan yang duduk anggun di sana masih membiarkan kita tersakiti dengan jarak. Jarak yang jutaan. Rindu yang tertahan. Lalu banyak cerita yang belum terceritakan. Ada banyak hal yang tidak atau belum kita pahami. Banyak.

19:04 di sela rerintik

Monday, December 16, 2013

Pada Saat Jasadmu Semayam; kutitip ini

Kita bertemu pada detik keberapa saat berselang
saat napasmu temui kidung-kidung rapalku
aku menganga
mengais jutaan partikel yang kau kata dia

Kita bertemu pada rintik tanggal yang entah menyentuh atap bagian mana
saat matamu serta pucuk hidungmu
menyentuh tengkuk tempatku bersemayam
aku terbatuk
terbatuk debu
memantik masa
sama-sama hilang
pada detik yang lupa sembahyang

Entah
kita bertemu atau hanya berujar dengan kata temu
saat terik tandang matahari bernyanyi di atas kepala kita
kau mengecup bauku
lalu berkata dengan melodi perlahan
bahwa kau telah mati di bawah telapak gempalku

Isya, 19:31

Tentang Ihwal Mengapa Saya Berpuisi

Setiap menatap cerobong matamu
selalu saja ada alasan mengapa saya terus berdiri di sini
memaku banyak puisi di dinding rumah yang rapuh
siapa tebak
enam puluh enam tahun kelak
tanpa sebab yang telak
kita lupa banyak
tak ada jejak

Setiap memandangi guratan wajahmu
selalu saja timbul ribuan alasan mengapa saya terus menunggu
walau tergugu
kaki saya tetap tak terganggu
menunggu
terus terpaku dan membeku
masih dengan bergumpal-gumpal puisi di tangan saya

Karena selalu banyak alasan
jika itu tentang kamu

-17:53 selepas kelas yang melelahkan-

Sajak Sederhana; dari perempuanmu, untuk perempuanku

Tujuh Agustus, empat puluh tujuh tahun silam
sejak waktu berderak di situ
kau hadir sebagai anugerah
buat mereka, pun buat saya
doa melejit satu-satu
dari bibir-bibir penuh getar bahagia
melejit ke langit, menggedor arsyNYA

Enam juni, sembilan belas tahun yang dahulu
doa kembali pecah satu-satu
dari bibir-bibir kalap senyum
buatku
yang kau sebut perempuanmu

Aku mendekap hangat
menyapih pada dada putihmu
merasai hangat
meresap kasih
sejak itu aku tahu
sejak itu aku paham
kau, adalah cinta tanpa batas akhir

Mata cokelatmu selalu berkilat-kilat
saat mulai aku tengkurap, merangkak lalu berjalan dengan kedua kaki gempalku
kau tersenyum sekuat doa

Mata cokelatmu kembali berkilat berbinar
saat aku mulai berlarian dengan seragam
merah, biru, abu-abu lalu menjemput toga
kau berseru syukur
sambil melanjut doa yang tak pernah terukur

Bagimu,
aku perempuanmu
kau selalu mengecupi mataku satu-satu
berturut-turut bau suarku

Bagiku,
kau perempuanku
berjanji dari relung hati
berdoa untukmu di sepanjang detik

-enam belas desember pada saat jarum jam terpaku di angka tiga.

(puisi ini sedang diikutkan pada lomba menulis puisi #KBMAward yang diadakan oleh Klub Buku Makassar dan Kak @hujanrintih2 dalam rangka menyambut hari ibu)

Sunday, December 15, 2013

Gerimis Kita

Gerimis membuat aku lupa pada rasa sakit. Sakit pada setiap kalimat yang pernah kau ucap padaku Gerimis menghapusnya telak, seperti menghilangkan jejak sepatu kita pada derak tanah kemarin.
                                      ***
Aku menarik napas dalam. Ini hari pernikahanmu. Tentu sekarang kamu tengah tersenyum bahagia dan tersipu menerima ucapan selamat dari para tamu sembari bergelayut manja di tangan lelaki itu, lelaki pilihanmu. Sementara aku? Aku hanya bisa terpekur memandangi gerimis yang jatuh satu-satu dan menepuk kaca jendela kamarku. Aku harus melupaimu dan aku harus bangkit dari segala rasa sakit ini.

Dulu ini sering sekali kau sebut gerimis kita. Gerimis yang menyoal betapa kita akan selalu mencintai sepanjang sisa hidup yang akan kita lalui bersama-sama. Tentang bagaimana repotnya kita nanti saat rumah mungil kita didera musim hujan dan atapnya bocor. Banyak kenangan. Terlalu banyak. Dan itu membuat saya sesak. Tiga tahun bersama, sampai gerimis dua bulan kemarin kau mengucap kalimat itu.

“Maafkan aku, Rei. Kita tidak bisa melanjutkan ini. Terlalu berat. Terlalu banyak keraguan yang menghampiriku akhir-akhir ini menyoal kita. Ada baiknya kita sudahi saja semuanya. Dia, lelaki pilihanku saat ini, telah berhasil menebas segala raguku padamu dengan memilih dia sebagai teman hidupku.”

Kau pergi. Berbalik. Menanggalkan segala cerita tentang gerimis kita.

(Cerita ini tengah diikutkan pada lomba Flash Fiction yang diadakan oleh Klub Buku Makassar)

Saturday, December 14, 2013

Izinkan Saya Menabung Rindu, Tuan!

Hujan masih jatuh satu-satu di atas atap tempat saya berbaring merindu
satu dua gumpal harap masih mengantri sesak di sudut rerintik
saya selalu suka mewarnai matamu dengan krayon warna bata
lalu mengarsir rambutmu dengan gradasi ungu tua
tak lupa, bibirmu dengan warna saga
saga yang menyala

Hujan masih jatuh satu-satu di tempat saya menabung resah
pelan-pelan saya sibakkan tirai malam yang semakin mengeriput
ada empat atau lima tawa jumawa di sana
lalu saya cukupkan
rindu ini tertangkupkan
tepat di menit ke delapan
saat mata saya bercumbu bersama kegelapan

Saya rindu. 14.

Karena Ini Kenangan, Bukan Kekonyolan

Kau ingat kan, saat rok merah kita sobek karena memanjat pagar sekolah?
Bukan, kita bukan bolos. Tapi takut kalau-kalau pantat kita disuntik oleh dokter. Pulang ke rumah, kita dimarahi habis-habisan oleh mamak kita, kita menangis sesenggukan setelah itu mamak lupa terhadap rasa marahnya sambil berlalu ke mesin jahit di ruang tengah untuk membenahi rok-rok itu.
Atau, kau masih ingat tidak saat kita berebut mencungkil buah asam tepat sehabis ashar?
Aku selalu berhasil mencungkil lebih banyak, karena tubuhku jauh lebih tinggi dan kayu yang kupakai jauh lebih panjang. Kau merajuk. Tapi setelah itu tak ada lagi kekesalan, kita duduk di bawah pohon asam bersama-sama menyantap buah asam. Aku selalu ingat bagaimana tampang kita saat buah yang terasa sangat asam masuk ke mulut. Lucu.
Masih ingat juga kan tentang permainan dende, lompat tali, petak umpet dan seseruan lainnya?
Selalu ada keriangan, kadang marah, lalu pulang dengan banjir peluh dan rasa kesal karena merasa dicurangi. Tapi esok di sekolah, kita lupa semuanya dan kembali merencanakan janji untuk bermain lagi di saat sore.
Pun saya juga selalu ingat, semoga kau pun ingat, soal bagaimana kita selalu menumbuk dedaunan dan tanah merah dan berlagak seperti chef.
Haha, sangat lucu. Setelah 'masakan' kita rampung, kita menjajakannya pada teman yang lain, yang dibayar menggunakan uang-uangan daun, lalu kita menyimpannya rapi di dompet-dompet bertuliskan nama toko emas. Setelah dedaunan itu kering, kita membuangnya lalu menggantinya demgan dedaunan baru.
Ada juga yang tak bisa saya lupa, yakni saat kita belajar mengaji di masjid setiap sore.
Kau, aku, kita, saat pelajaran sudah dimulai, selalu bolak-balik di tempat wudhu, alasan kita pada ustadzah karena wudhu kita batal, padahal bukan karena itu, melainkan karena kita ingin bermain air dan saling berciprat-cipratan di sana. Lalu selalu saja kita dipergoki ibu-ibu bermuka masam yang berteriak menyuruh kita kembali ke dalam masjid. Haha.

Sekarang saya, pun kau sudah jatuh dewasa. Tak ada lagi kekonyolan seperti di atas yang saya temui. Bahkan saat bertemu, kau dan teman-teman yang lain telah menjelma menjadi sangat mengesankan. Ketua ikatan badan mahasiswa inilah, koordinator divisi itulah, pemimpin redaksi harian kampus anulah. Wah, saya tidak pernah menyangka bahwa teman sepermainan kecil saya akan berubah menjadi semengesankan ini. Tak ada yang lebih indah selain bernostalgia kan katamu? Semoga besok-besok kita bisa berkumpul di satu lapangan lepas, sambil bermain dende lagi, Teman.

Ketika deru hujan masih setia menguarkan kenangan.
15:58

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...