Monday, June 23, 2014

Jika Saja

jika kau melihat; ada semacam merah saga di mata saya
seperti bara api
atau seperti daun-daun kerontang
bahkan juga seperti darah-darah dari cecar bibirmu

jika kau mendengar; ada semacam tangisan teriris di penghujung ucap saya
seperti rapal kematian
atau seperti cemeti-cemeti duka
bahkan juga seperti lupa yang menggumpal-gumpal

Wednesday, June 11, 2014

I Swear

I swear by the moon
and the stars in the sky
and I swear like the
shadow that's by your side
I see the questions in your eyes
I know what's weighing on your mind
you can be sure I know my part
'cause I stand beside you through the years
you'll only cry those happy tears
and though I make mistakes
I'll never break your heart
and I swear by the moon
and the stars in the sky I'll be there
I swear like the shadow that's by your side
I'll be there for better or worse
till death do us part
I'll love you with every beat of my heart
and I swear
tetaplah bersamaku
jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku, ku milikmu
kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu

bila di depan nanti
banyak cobaan untuk kisah cinta kita
jangan cepat menyerah
kau punya aku
ku punya kamu
selamanya akan begitu

--Tulus, Teman Hidup

Friday, June 6, 2014

Juni Ke Dua Puluh; Ada Banyak Semoga di Kepala Saya

“The great thing about getting older is that you don't lose all the other ages you've been.” --Madeleine L'Engle

Friday, May 23, 2014

KKN, Baliho, dan Hotel Mewah

Agaknya pembaca akan mulai kebingungan membaca judul tulisan saya kali ini --halah--, yang mungkin saja bertanya-tanya apa korelasi diantara ketiganya. Muahaha, sederhana, ini tentang perjalanan saya hari ini bersama saudara saya, Nur Khofifah. Jadi ceritanya begini...

Krik...
Krik...
Krik...

Pagi ini, tertanggal dua puluh tiga Mei dua ribu empat belas, kami berdua memutuskan untuk pergi mengurus hal-hal yang berkaitan dengan KKN (bukan korupsi, kolusi, dan nepotisme ya! :p), berhubung tahun ini adalah giliran kami untuk melewati tahap tersebut. Maka tepat pukul sepuluh pagi, kami berangkat ke Gedung Phinisi untuk mengambil blangko formulir KKN di bagian kemahasiswaan dengan menaiki bentor dari kontrakan.

FYI, bagi yang belum pernah lihat penampakan Gd. Phinisi Universitas Negeri Makassar. :) (Pic Source: Google)

Monday, May 12, 2014

Kejora-Kejora Milikmu



(satu)
ada kejora-kejora
di mata jernih milikmu
yang mampu luruhkan
segala gelisah yang membanjir

(dua)
ada kejora-kejora
di senyum lancip milikmu
yang seketika hancurkan
kaktus berduri di dalam hati

(tiga)
ada kejora-kejora
di tiap lambaian aksaramu
yang seketika kuatkan
segala sumpah untuk tetap bersetia

(empat)
ada kejora-kejora
di setiap helai rambut pekatmu
yang tak ada sedetik
mampu hapuskan segala keringat menyoal betapa lelahnya saya berjalan

(lima)
ada kejora-kejora
di lekukan tirusmu
yang membuat sayang saya terhadapmu
mengunung tiada ampun

sebab begitu banyak kejora-kejora
yang saya tangkap dari apapun milik kamu

21:13. Tantangan Permainan Frasa dari Dewliver.

Saturday, May 10, 2014

Coba Ingat



ingat sepuluh tahun silam?
saat kita masih berkepang dua
memakai baju terusan penuh corak warna
diselimuti ketika ingin beranjak lelap?
lalu berpura-pura memejam mata
ketika lampu dimatikan dan pintu ditarik menutup
kita tertawa tertahan
lalu nekat melanjutkan permainan bongkar pasang

ingat sepuluh tahun silam?
saat seragam baru sejenak kita tanggalkan
segera kita duduk bersila di lantai
bermain bola bekel sambil memunguti biak-biak aneka warna
lalu tertawa sumringah
ocehan tentang makan siang kita abaikan

ingat sepuluh tahun silam?
saat hujan turun menderas
kita berlari bahagia di bawah atap
mandi sepuasnya
sambil bersenandung soundtrack kartun favorit
hingga gigil
dingin memanggil
lalu masuk terbirit
ada teh manis hangat di meja bundar

ingat sepuluh tahun silam?
saat pulang kursus sempoa
kita berebut memutar vcd
lagu Maissy andalan kita
bernyanyi dengan suara cempreng
membangunkan adik bayi yang sedang lelap di sebelah rumah

ingat sepuluh tahun silam?
saat kita masih berseragam rupa warna bendera
saat kita masih berbedak tak rata
saat kita masih senang main lompat karet
saat kita masih setia bermain gundu
saat kita masih sering menumbuk tanah cokelat selaiknya koki hebat
saat kita masih lugu nan polos

semoga kamu ingat
sebab saya tak pernah jumpa lupa atas itu

21:41. Tantangan permainan frasa dari Kak Nahla.

18 Sampai 19



18:00. Langit merona. Banyak gradasi. Cokelat tanah, merah saga, ungu magenta, juga kuning kenari. Ini kesenangan kita. Berselonjor kaki di tanah lapang. Menikmati persembahan langit ditemani suara-suara merdu seluruh menara dari setiap sudut. Bergegas, sayang kita jatuh pada langit. Langit dengan sejuta cantik.

18:20. Kita masih berasyik masyuk menatap langit. Tidak menghiraukan panggilan mamak yang berteriak kencang mengancam pukulan sapu lidi jika tidak segera ke surau. Shalat dan mengaji. Biar kita tak jadi makhluk keji, ucap mamak. Tuhan mendengarkan. Dia turunkan hujan yang menderas, membuat kita terbirit lari menuju rumahNya. Tawa lepas.

18:50. Sekembalinya dari surau, kita diminta mengganti pakaian. Dengan pakaian terbaik. Sedang ada hajatan di kampung sebelah. Marawis mengalun bergema. Opor ayam pasti ada, kesukaanmu. Sambal petai juga pasti tersedia, kesukaanku. Kita bersorak. Berlomba berebut naik ke sepeda tua bapak.

19:00. Semua anak lelaki berkumpul. Sebaya. Kita berlomba naik ke genteng milik Mak Nini, demi seguhan pemandangan yang lebih mengundang takjub. Ada pesta kembang api dari kota. Di atas sini, kita bisa menyaksikan lebih. Semua tertawa, sambil mengunyah kacang goreng di genggaman.

19:40. Bapak berteriak lantang. Waktunya pulang. Kita enggan beranjak, namun kembali diingatkan, shalat isya belum kita tunaikan. Kemudian berebut lagi naik di sadel belakang sepeda. Tertawa-tawa. Kepala kita penuh cerita, bekal obrolan di kelas besok.

21:20. Tantangan permainan frasa dari Kak Adi.


Saya, Kamu, di Buku Bersampul Edelweis


dan ada semacam gempa
guncangan hebat
di dada
saat bola matamu
bertamu di iris saya
lalu seketika
gelap berubah terang
sesak menjadi lapang
suram berganti suka
lalu kegelisahan bermetomorfosa menuju penerimaan yang baik

lalu perlahan
matahari menyibak awan
menyentuh kepangan rambut legam milik saya
menyentuh pipi tembam
lalu menghangatkan lapisan epidermis
kamu disitu
setia duduk memaku cerita
tak gentar
seumpama batu karang ditepuk ombak
tak goyah

ingat ketika kamu bersumpah setia?
bola matamu menyalak pekat
serupa aspal
berjanji tiada dusta

sebentar
biar saya catat dulu pertemuan kita
janji-janji kita
di buku bersampul edelweis
ini biar kita tak jumpa lupa
kan?

20:56. Tantangan permainan frasa dari Dewliver. :')

Friday, May 9, 2014

Sebab Kita Telah Purna



awan kelabu
saya bersembunyi di balik hitamnya
kapan terakhir kita menangis berdua?
iya, saat kaki kita sandar di makamnya
makam harapan
yang kita bangun dengan banyak aksara

saya meratap di balik kerudung hitam
terisak pelan
pelan sekali
menyusup angin
menelisik di balik daun
menengadah
memejam sedetik
lalu kembali diam
kita purna

lalu perlahan kita melangkah
menyeret alas kaki kita untuk saling menjauh
untuk saling melupakan
untuk saling menggenapkan kehilangan
sebab tak ada lagi warna di kebersamaan
hanya hitam
tak ada lagi jingga atau merah jambu
bahkan kita telah lupa bagaimana cara saling membagi senyum

kemudian
biarkan saya menulis akhir kisah ini di atas selembar kertas bening
biar tak ada satu mata pun yang bisa mengejanya
sebab kita
telah purna

21:38. Permainan frasa dari Kak Syirah.

Thursday, May 8, 2014

Duduk dan Dengarkan Kata Hati Saya



"Saya sakit!" Kamu berujar pelan. Mata bulatmu menggambarkan keresahan. Kulitmu serupa warna mata pensil yang sering kita gunakan mengarsir bulatan lembar jawaban.

Izinkan saya duduk di dekatmu, mengusap jemari gemuk putihmu, lalu lirih berdoa dalam. Semoga kamu selalu baik. Senantiasa dalam kebajikan. Sekarang sedang hujan, kan? Ini waktu yang tepat buat saya panjatkan pinta kepada Sang Penguasa Langit.

"Saya ingin buah manggis. Kulitnya jauh lebih baik." Kamu menatap dengan sorot pinta. Saya angguk, tunggu hingga tiba musim panen. Saya akan berikan dengan akarnya di telapakmu, agar kamu bisa menanamnya di belakang rumahmu yang bertanah gembur itu. Dengan ketentuan, kamu harus sehat. Tak sakit. Kamu harus kuat. Tak lemah.

"Saya memberimu buku saja dulu, ya?" Saya menatap menawarkan. Kamu tersenyum. Mengangguk sekali dua kali. Rambut ombakmu bergoyang lincah. Buku gambar, katamu. Ah, bukannya kamu tak pandai menggambar? Kamu halus menggeleng. Kamu ingin menggambar matahari yang terbit dari balik gunung yang tua menghijau. Iya. Saya akan membawakannya untukmu, dengan ketentuan kamu harus tegar. Tak boleh gentar. Kamu harus teguh. Tak boleh jatuh.

Kita senantiasa berdoa, dengan segala sifat rendah hati. Pun, ketika Dia belum membuka lembaran surat yang berisi doa kita, tetaplah menjaga prasangka baik kita terhadapNya.

22:28, permainan frasa dari Nur.

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...