Tuesday, December 10, 2013

Terkadang Kita Lupa

Terkadang kita lupa bahwa betapa setiap detik detak jantung kita akan dimintai pertanggungjawaban

Pun terkadang kita lupa bahwa setiap hela uap napas kita akan dituntut penjelasan

Lalu berturut-turut alpa dari ingatan kita bahwa segala derak dari sendi kita akan berbicara di hari pembalasan kelak

Entah. Kita lupa. Atau memang kita tidak mau mengingatnya.

Kelas sintax., 09.58. Saat hujan masih bergelantungan di kaki langit.

Rintik Pagi yang Selalu Kau Rindu

Subuh menggeliat. Satu-dua suara dari menara masjid mulai bersahutan membangunkan kaum yang masih terhimpit hangatnya selimut. Ah, hujan masih setia merundung kota kami hingga pagi ini. Kembang sepatu di beranda rumah basah kuyup bahagia. Saya merenung. Betapa saya merindukan tujuh tahun silam. Saat hujan dan saya bersiap dengan seragam putih biru saya, kau mendecak dalam dan siap mengantar saya menunggu angkot dengan payung besar tiga warnamu. Tak lupa sebelum itu kau menyeduhkan saya secangkir teh di gelas bergradasi krem. Berturut-turut kau rapikan sisiran rambut serta dasi biru panjang milik saya. Pun melihatmu mensejajarkan kartu-kartu patui yang kau sebut pulos di dekat jendela membuat saya mafhum, kau cinta pada hujan. Teramat.

Mak tua, ini sudah tahun keberapa kau tak menyaksikan hujan di kota kami? Sudah berapa lama? Apa di sana hujannya jauh lebih indah dari kota kami? Di menit ke sepuluh saat ini, sungguh saya rindu. Saya merindui bau dastermu yang terpapar uap setrika bara yang beraroma khas. Pun saya rindu bunyi kunci almari yang kau simpan di saku dastermu saat kau berjalan. Saya rindu tatap mata teduhmu ketika lagi-lagi saya menjadi juara kelas. Dan yang paling saya rindukan adalah ketika hujan datang, kau setia menatap ketukan rintik yang mengenai kaca jendelamu.

06.12. Hujan. Rindu almarhumah R. Sululing, mamak tua terbaik dalam hidup saya.

Monday, December 9, 2013

Hujan Silam, Hujan Dewasa

Hujan selalu berbisik
tentang kenangan-kenangan
tentang janji-janji masa depan
pun tentang keresahan

Kita selalu menari
dahulu di bawah tempias hujan
menjulurkan jari-jari kita di bawah atap mamak
kemudian berlarian pulang disebab dingin yang menyergap
lalu segelas teh hangat siap di bawah tudung saji
kemudian kita mengeluh tentang jari-jari yang mengerut atau bibir yang gemetaran
disusul tentang cerita keong lambat yang berhasil kita tangkap dan pindahkan dari rinai deras

Semenit dua menit kita menguap satu-satu
berlarian mengepung diri di atas seprai hangat berbau daster mamak
saya bercerita banyak
kau mengangguk sambil menyisiri rambut saya dengan jemari kekarmu
lalu mamak datang menggelitiki kaki kita satu persatu

Wahai, Bapak
hujan dewasa ini tak lagi ceria seperti hujanku silam
ada banyak derap beban di setiap rintihnya
tak ada lagi mandi di bawah deras hujan
tak ada lagi teh manis yang mengepul
tak hadir lagi gulatan canda di seprai biru tua milik kita bertiga
hanya mendengar suara kalian, bapak mamak
dari sebuah benda kotak hitam tanpa lilitan kabel
ditemani rinai tetes hujan
saya jauh
ribuan kilometer
mendekap rindu yang bersesakan
adakah pulang nanti bisa kita bermain hujan lagi, Bapak?

16.49 ketika Makassar diderap hujan dan tugas semakin mencekam menyentuh deadline

Ini Pertemuan, Kan?

Percakapan yang sudah susah payah saya rangkai seperti membeku
saya menatap matamu
dalam
seperti ada luka di balik retinamu
karena saya kah itu?
kepalamu menggeleng sekuat yang kau mampu
seperti ada bangkai kekecewaan di dalam batok kepalamu

Kita ini temu
bukan pisah
bukan pula prasa kecewa
tapi apa arti luka di balik irismu?
tolong berikan pemahaman panjang ke saya
kau berkata lembut, "penjelasan tak selalu ada di awal"
saya takzim
menatap buku-buku jari yang memutih
sesal kemudian menjadi sesak di dada saya
apa yang salah?
bukankah kau masih senang menatap kepangan rambut saya?
bukankah kau masih betah menatap gigi-gigi kelinci saya saat saya tertawa?

Saya tidak bertemu jawaban di sorot mata pekatmu
hanya tanda tanya besar yang menggantung di kirana parasmu
saya berbalik
maaf terukir jelas di punggung saya
kau dapat membacanya, kan?

Sunday, December 8, 2013

Temu Kembali

Kita seperti sedang berjalan menuju titik yang sama. Setelah pena saya seperti mengeriput. Setelah peluh saya bagai mati rasa. Kita seperti diizinkan kembali untuk menjahit kenangan-kenangan usang yang sudah lama tak ditengok di laci waktu. Hati-hati kita hampa. Tak terisi udara. Pun sesak seperti enggan mengisi ruang. Saya selalu menyisipkan jejak untuk kau temukan. Entah itu bisikan, ranting-ranting patah, atau remah roti. Semoga kau (kelak) cepat ke sini, di hati ini, Tuan.

Sunday, October 27, 2013

Perempuan Berjemari Cahaya dan Lelaki Pemanggul Kebahagiaan

Kalian
ketika Juli dan Agustus terbit
cahaya kalian bersinar menembus kaki-kaki langit
di saat Juli dan Agustus lahir
di saat itu pula janji kalian melahirkan kebahagiaan terpahat di hunjaman bumi

Perempuan berjemari cahaya,
kau menunjukiku jalan dengan daun berwarna-warni berguguran di atasnya
kau memetakan segala semak yang akan dilalui kaki kecilku
kau menebas ilalang yang menghalau langkah getirku
kau tampar segala ragu yang menohok mimpi-mimpiku

Lelaki pemanggul kebahagiaan,
kau gariskan bujur yang panjang bernama suka
bahagia
cinta
kasih sayang
penerimaan
ketulusan
segala kesabaran
untukku
yang kau sebut perempuan hebat yang hadir dalan hidupmu

Perempuan berjemari cahaya yang kupanggil Mamak,
senantiasa doa ini menggedor-gedor arsyiNya untuk bahagiamu
Lelaki pemanggul kebahagiaan yang kusebut Bapak,
tak luput bibir kecil ini merapal segala pinta dariNya untuk bahagiamu pula

Kalian,
adalah hadiah terbesar dari Dia dalam hidup saya.

17:41
Ketika tugas menumpuk dan merasa lelah yang sangat menghampiri, menatap pigura kalian berdua, membuat semangat saya berpacu ratusan kali lipat. Mama, Bapak, doakan Ananda. :')

Wednesday, October 23, 2013

Meminang Hujan

Izinkan saya menikahi hujan
mencumbu rintiknya dengan deretan kecup
memeluk derainya dengan isakan tawa
biarkan saya membeku di batas jemarinya
biarkan saya tetap berdiri menengadahkan kepala saya dengan seonggok tanya
di bawah rinainya

Mungkin saya terlalu sibuk membuat perkiraan
pun pikiran saya sesak untuk menarik banyak kesimpulan di sana-sini
atau juga saya terlalu bodoh dalam melihat kesempatan yang sesungguhnya bukan kesempatan

Genangan air hujan selalu membuat saya bertekuk
seperti ada seribu kunang-kunang di sana
masih ingat saat kita menikmati jagung bakar berdua di bawah pohon akasia?
kau tersenyum memamerkan gigi-gigi kelincimu
saya merapikan anak rambutmu yang dimainkan sepoi

Ini mungkin terlalu menyesakkan
tapi buat saya,
meletakkan titik pada cerita ini rasanya benar

Lalu hujan masih mengetuk jendela kamar saya

20:27
Di saat tugas kuliah menumpuk dan saya hanya bersedia membuka laman blig ini.

Sunday, October 20, 2013

Tunggu

Pagi ini saya kembali menanak puisi
menyajikannya mengepul tepat di piring porselen yang mengilap
lauknya sederhana
segumpal rindu mungkin
atau segenggam sesak
saya dan puisi saya selalu terlahir dengan garis takdir yang serupa

Puisi saya sebentar lagi matang
pun saya dengan bebayang saya
ketika sungguh kau tak berkata iya
pun mulutmu katup untuk mengucap tidak
saya masih setia di depan perapian
menunggu puisi saya benar-benar selesai ditanak atau bahkan mengepul hangus

07.41. Pagi saat senyummu belum genap di sisi.

Friday, October 18, 2013

Catatan Pinggir di Waktu yang Lengang

Saya mencintai derap-derap sepatumu, Tuan. Pun, saya cinta anak-anak rambut yang selalu nakal menepuk jidatmu. Tak pernah alpa pula rasa cinta saya lahir ketika harus melihat kilat matamu saat membaca buku-buku tebal di sudut perpustakaan tua di kota kita. Cinta selalu mendikte hati saya untuk menekuk sayang pada tulisan-tulisan acakmu di buku notes hitam yang selalu kau bawa di ranselmu yang berwarna senada.

Kata-kata selalu bermuntahan dari bilik kepala saya, ketika saya harus berhadap pada bebayangmu. Tuan, sebegitu candunya kah kau di lahan kepala saya? Iya. Iya. Selalu iya. Saya seperti tak punya jawaban lain ketika pertanyaan "Apakah saya jatuh cinta padamu, Tuan?" menyapa.

22:55. Malam yang menua di ujung detak jam.

Saturday, September 14, 2013

Harap(an)

Saya tidak percaya dengan sesuatu bernama kebetulan. Semua telah tercoreti dengan tanganNya. Dengan penglihatanNya. begitu juga dengan lipatan jumpa kita, saya percaya, bahwa sebelum ruh ditiupkan pada ubun-ubun kita, segala garis tentang pertemuan ini sudah berjajar rapi dalam bukuNya.


***

Saya senang menjejali otak saya dengan kalimat pengharapan, walau saya paham benar, bahwa pengharapan, dengan selalu akan menukar apa yang telah saya bangun menjadi tidak berkesesuaian. Hampa tanpa korelasi. Kosong tanpa jawaban. Menggaung tanpa ada pengisi.

Ini menjadi berbeda ketika jumpa hadir di antara saya dan kamu. Saya berani untuk berharap. Saya mampu untuk membangun mozaik-mozaik pinta padaNya. Saya tak melahirkan keraguan atas itu.

Cinta?
Entah. Kata itu sudah lama tak ada dalam batok kepala saya. Mungkin jawabannya bisa iya. Condong ke iya. Saya tengah berada dalam perahu yang mengapung di lautan bernamakan cinta.

Cinta ini membuat saya berani meletupkan harapan atas kamu, Tuan.

Pagi, 9:48


Wednesday, September 4, 2013

D!

saya ingin menikahimu di ujung belati
saya
membisikkan mantra-mantra
kematian sambil mengusap ubun-
ubunmu dengan rapalan doa sekarat
lalu saya ingin menjelma menjadi
dongeng buta di sudut bantalmu
menanak diri saya menjadi mimpi
buruk yang tak punya ujung
kemudian meniupkan kenangan itu
(lagi) di pelupuk memorimu
sembari berlalu, meninggalkanmu
yang berdarah-darah

(Reski, di ujung pagi)

Juni

Aku menekuri ujung sepatu yang kupakai. Sialnya, sepatu ini kembali melempar ingatanku pada wajah gadis itu. Katanya, dulu, ia pali...